
"Anda tetap Tuan saya, yang harus saya hormati. Walaupun anda saudara saya, tapi tanpa Tuan, saya tidak bisa hidup berkecukupan seperti ini. Terimakasih untuk semuanya," ucap Jeff kemudian berjalan menuju pesawat.
Steven menatap kepergian Jeff sampai pesawat itu lepas landas.
"Mungkin dengan kepergian mu, kekacauan di sini akan mereda. Terimakasih, sudah mau mengalah Jeff. Semoga, kau mendapat jodoh yang lebih sempurna dari dokter Irma," gumam Steven berjalan keluar bandara dan melihat tukang ojek online yang ditumpanginya sedang berhenti di dekat parkiran.
"Pak!" teriak tukang ojek online kepada Steven yang melewatinya.
"Kamu memanggilku?" ujar Steven menghentikan langkahnya, "Bukankah, aku sudah membayarmu?" sambungnya lagi.
"Hehe ... iya benar, pak. Tapi, saya bersedia kok mengantar pulang Bapak, makanya saya menunggu Bapak. Siapa tahu, Bapak order ojek online lagi, jadi saya bisa cuss meluncur," ujar tukang ojek online membuat Steven menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak memesan ojek online lagi," jawab Steven membuat tukang ojek online itu menakutkan alisnya.
"Memangnya ada apa Pak? apa pelayanan saya kurang memuaskan? atau saya melajukan motornya sangat cepat? beritahu kekurangan saya, Pak."
"Kamu tidak kurang apa-apa. Aku sudah mempunyai kendaraan sendiri," ucap Steven tersenyum sambil memperlihatkan kunci mobil yang berada di genggamannya.
"Tapi itu milik siapa, Pak? Bapak tidak mencuri kan? uang yang Bapak berikan pada saya, halal kan Pak?" tanya tukang ojek online yang mulai cemas.
"Hei sembarangan, siapa yang mencuri. Ini kunci mobil aku. memangnya, ada tampang pencuri tampan sepertiku!" gerutu Steven kesal.
"Maaf Pak, itu benar kunci mobil Bapak? kan Bapak, pergi sama saya ke bandara. Bagaimana Bapak bisa bawa mobil?" tanya tukang ojek online polos.
"Sudah-sudah, kamu ada apa menungguku di sini? Aku tidak memesan ojek online. Ini, berikan uang ini pada anak dan istrimu untuk membuka usaha," titah Steven mengeluarkan uang 10 juta dalam saku jaketnya.
"Ini benar untuk saya, Pak? ini bukan hasil curi kan pak? saya takut, uangnya tidak berkah," ucap pak tukang ojek online yang langsung menyambar dan menyimpan uang yang diberikan Steven.
"Kalau aku bilang, uang itu hasil mencuri, apa kamu masih mau menerimanya?" tanya Steven yang mendapat anggukan dari tukang ojek online.
"Masihlah, Pak. Kan Bapak yang mencuri, jadi saya tidak berdosa. Dan Bapak memberikannya pada saya dengan ikhlas, tapi jika Bapak tertangkap, tolong jangan membawa nama saya," ucap pak tukang ojek yang cengengesan.
__ADS_1
"Oh ... sama saja kan jawabannya, sekarang pergilah. Mobilku tidak bisa keluar, jika kamu ada di sini," titah Steven yang tidak bisa membuka pintu mobilnya.
"Jadi, ini mobil Bapak? keren juga ya, Pak? Semoga suatu saat saya bisa membeli mobil seperti ini, ya, pak!"
"Iya, saya doakan, tapi bisa kan motor mu minggir dulu?" titah Steven yang sudah kepanasan.
"Oh iya Pak, maafkan saya." ucap Pak tukang ojek online yang menggeser motornya, "Silahkan Pak, saya pergi dulu ya, saya mau memberikan uang ini pada anak dan istri saya. Terimakasih Pak, semoga kelak anda bisa masuk surga!" teriak tukang ojek online yang sudah menjalankan motornya.
"Apa! apa dia sedang menyumpahi ku mati?"
"Lagipula, ada-ada saja orang sepertinya," ucap Steven membuka pintu dan masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mobilnya membelah jalan ibukota selama 30 menit, akhirnya Steven sampai di pekarangan rumahnya.
"Mas, Mas Steven!" teriak Zena dari atas balkon.
Steven mencari dan mendongakkan wajahnya ke atas, dia bisa melihat istrinya tengah menggendong putranya, "Aku bisa menggendong bayi dengan sempurna Mas, tanpa ada rasa ketakutan seperti kemarin!" teriaknya lagi.
"Dad! Daddy!" teriak Rio yang baru saja kembali dari halaman belakang.
"Jangan berteriak, ada apa? hem?" tanya Steven yang menghentikan langkahnya.
"Aku ikut menemui baby Revan. Aku baru saja menyelesaikan tugas sekolahku, agar nanti malam, aku bisa bermain dengan Revan," ucap Rio menggandeng tangan Steven.
'Sekarang, aku sudah mempunyai anak tiga, tapi aku belum merasakan kebahagiaan yang utuh, karena putriku masih terbaring dengan kondisi yang semakin hari semakin buruk,' gumam Steven dalam hati.
"Ayo, kita sama-sama menemui adikmu." ajak Steven yang mendapat anggukan dari putranya, Rio.
"Dad, bagaimana keadaan Resya? jika daddy menjenguknya, aku ikut dong. Aku ingin bertemu dengan adik kesayanganku," titah Rio saat mereka berada di dalam lift.
"Trus, Revan bukan kesayangan Rio?"
__ADS_1
"Ya kesayangan, mereka berdua kesayangan Rio. Hanya saya, Resya itu adik Rio yang perempuan, yang Rio harus jaga dengan baik. Rio tidak mau, Resya besar nanti, seperti Cassandra yang pelit juga jahil."
"Adikmu baik-baik saja, Rio doakan saja yang terbaik untuk Resya," ucap Steven setelah itu mereka berjalan keluar lift.
"Rio duluan, Dad. Daddy jangan lupa mencuci tangan sebelum memegang Revan. Ingat daddy membawa virus dan bakteri dari rumah sakit," ucap Rio berjalan lebih dulu.
****
"Apa, jadi kamu yang menyembunyikan keberadaan Mas Jeff selama ini?" tanya Irma kepada teman prianya.
"Atas perintah Jeff. Karena aku, kasihan melihat nasibnya yang begitu malang, tapi kali ini ... dia benar-benar pergi, aku tak sengaja mendengar percakapan Tuan Steven dengan Jeff di rumah sakit. Mungkin dia kembali ke negaranya," ucap dokter Riyan.
"Tapi, dia bilang ... dia akan datang ke pesta pernikahanku,"
"Apa yang dikatakannya hanya omong kosong?"
"Omong kosong? Aku rasa tidak, mungkin dia akan datang ke pesta pernikahanmu. Lagipula, ini kesalahanmu. Jadi wanita harus mempunyai pendirian, jangan seperti ini, mau sana sini. Untung, ayah calon anakmu tampan, jika tidak ... Kakakmu akan murka," ujar dokter Riyan
"Ish kau! aku sedang serius. Jangan becanda!" kesal Irma.
"Aku tidak akan menikah dengan Mas Jack, sebelum Mas Jeff kembali. Aku ingin, melihat keikhlasan dari dirinya secara langsung," jawab Irma membuat dokter Riyan tersenyum miring.
"Otakmu mulai geser! aku harus mengecek otakmu itu!"
"Kau berpikir atau tidak si! apa, selama ini kamu terlalu mendapatkan kasih sayang berlimpah, maka dari itu, kamu tidak memikirkan perasaan orang lain."
"Tidak juga, tapi aku memang selalu dimanja oleh Mas Al dan ibu," jawab Irma. Memangnya kenapa? apa syarat ku terlalu berat? Aku hanya ingin melihat Mas Jeff dipernikahanku,"
"Kau bisa melihat kembarannya dan membayangkan, jika dia Jeff. Sudah cukup, jangan membuat masalah lagi!" ketua dokter Riyan.
"Ish, tidak bisa. Mana mungkin, aku--"
__ADS_1
Bersambungš