Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 14_Majalah Dewasa


__ADS_3

Tak ada sepatah kata dari Steven, dia berjalan mengabaikan kedua orang yang sama-sama ketakutan


"Bisa-bisanya mereka bermesraan di dalam rumahku," Gumam Steven mengepalkan tangannya sambil berjalan melangkah dapur,


"Sekertaris Nanda, apa dia marah? " Tanya Zena yang menatap punggung suaminya berjalan menjauh


"Lain kali tolong Nyonya bisa menjaga sikap, " Ucap sekertaris Nanda mengejar Tuan mudanya


"Huft tidak majikan tidak sekertaris sama saja meyebalkan


"Lebih baik aku masuk dan mandi, aku akan berpura-pura tidur sebelum dia kembali" Gumam Zena sambil berlari masuk dan mencari handuk lalu berlari ke kamar mandi, rasa lapar dan lelah tiba-tiba menghilang saat melihat wajah suaminya


Setelah selesai ritual mandi Zena menghembuskan nafasnya lega karna suaminya belum kembali ke kamar, dia meminum pil KB yang dia beli tadi pagi sebelum berangkat bekerja


Di ruang kerja Steven terlihat wajah sekertaris Nanda sudah dipenuhi tanda merah dan kebiruan, tubuhnya terasa remuk karna pukulan dari Tuan Mudanya


"Dia milikku, tak ada yang boleh menyentunya, termasuk kau! " Ucap Steven mencengkram dagu sekertaris Nanda yang sudah tergeletak dilantai


"Apa Tuan mencintai Nyonya? Ka-karna baru pertama kali saya melihat anda marah hanya karna seorang wanita, sebelumnya Tuan tidak pernah marah seperti ini walaupun menyangkut keselamatan istri Tuan"


"Ck, jangan berfikir aku menyukai dia, aku hanya menganggapnya sebagai bonekaku, selama aku belum bosan dan dia belum memberiku anak, aku tak sudi dia disentuh oleh pria lain! "


"Dan kau! Cukup patuhi perintahku, karna Ayahku memberi tugas padamu untuk menjagaku, Paham kau!! " Steven melepas cengkraman itu dengan kasar membuat kepala sekertaris Nanda terbentur tembok


"Cepat urus senjata yang akan kita kirim ke negara J, karna penyelundupan yang kemarin berhasil, Jack sudah aku perintahkan untuk mengurus ibuku dan markas di negara J"


"Baik Tuan, Oh iya Tuan sepertinya sampai saat ini belum ada yang mengenali wajah tuan, bahwa Tuan ketua geng codet, dan aku dengar ketua geng bandit berada di negara ini"


"Darimana kau tahu! "


"Jack memberikan informasi ini, maria telah disekap oleh Jack, dan dia disandra diruang bawah tanah"


"Tuan muda susah dihubungi, karna Tuan disibukkan dengan urusan kantor"


"Haha kabar bagus, wanita licik itu sudah berhasil kita taklukkan, jangan sampai dia mati, aku yakin jika berita ini sampai ketelinga ketua geng bandit, perlahan dia akan memunculkan wajahnya, gunakan penyamaran, beritahu pada semua orang bahwa Jack adalah ketua geng kita"


"Ba-baik Tuan, saya permisi"


"Pergilah, aku juga akan pergi, aku akan menghukum istri tak tahu diri itu! " Ucap Steven berjalan meninggalkan sekertaris Nanda diruang kerjanya yang berusaha berdiri tapi tak bisa

__ADS_1


Di dalam kamar Zena bisa melihat gagang pintu itu bergerak, segera dia berpura-pura tidur, ditarik selimutnya sampai lehernya


Steven berjalan menaiki ranjangnya, sebentar lagi waktu makan malam tiba, dan dia melihat istrinya terlelap tertidur, tiba-tiba Steven mendengar bunyi notif pesan masuk di ponsel Zena, segera dia mencari dan membukanya


Sebelum pesan itu terbuka, Zena membuka matanya lalu berpura-pura menggeliat membuat Steven mengurungkan niatnya untuk mengecek ponsel istrinya,


"Baguslah kalau kau sudah bangun, cepat turun! Waktu makan malam sudah tiba, dan makan yang banyak karna hari ini kita akan bermain sampai pagi tanpa henti" Ketus Steven sambil menuruni ranjang lalu berjalan ke kamar mandi


"Apa tidak bisa libur sehari, aku lelah" Tawar Zena dengan memohon, dia benar-benar lelah setiap hari harus melayani suaminya, menjadi partner ranjangnya


"Aku tak ingin bantahan, kau sudah terlambat pulang dan kini kau mau menawar! Aku hanya mengistirahatkanmu saat kau menstrua*i"


Glek, Zena dengan susah menelan salivanya "Cepatlah datang tamu bulanan, cepatlah datang, aku tak mau melayani dia setiap hari,"Batin Zena


Setelah makan malam selesai dan kembali ke kamar, Steven benar-benar menyetubuhi istrinya sampai pagi, tapi kali ini Zena merasakan sesuatu yang berbeda, dia merasakankelembutan dan kenikmatan, Steven yang biasanya bermain liar kini seakan mengerti kondisi Zena yang lelah, walaupun dia tidak memberi ampun dan waktu beristirahat tapi Steven melakukannya dengan lembut, membuat Zena tak merasa lelah


***


Ke esokan harinya, tak ada yang berubah setiap kali Zena terbangun dari tidurnya, dia selalu tak melihat suaminya, tubuhnya selalu polos hanya saja kali ini tubuhnya ditutupi selimut tebal sampai leher, mengingat kejadian semalam membuat tubuh Zena bergidik ngeri, tapi sesaat senyum Zena terbit disaat Steven melakukannya dengan lembut


"Ish kau memuji kekuatan pria gila itu Zen! Apa kau sudah gila! " Gumam Zena dari dalam hati, dia menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke kamar mandi


Brakk, Byar....


Majalah dewasa ituu terlempar kesembarang arah, mata Steven memerah tanganya mengepal lalu membanting semua benda yang ada disekitarnya membuat hati sekertaris Nanda tak tenang cemas


"Apa-apaan ha! Bukankah sudah aku peringatkan! Awasi dia! Mengawasi 1 wanita saja tidak bejus! "


"Aku tak suka mainanku disentuh dengan pria lain, apalagi sampai berfoto mesra seperti ini! "


Prangg...


Gelas yang berisi kopi terjatuh pecah tanpa sisa dilantai


"Ma-maafkan saya Tuan, Nyonya bekerja sebagai model, dan menurut saya hal itu wajar karena hanya Nyonya yang mempunyai tubuh ideal dan hanya Nyonya yang menurut saya cantik diantara model lainnya"


"Kau sudah berani memuji dia lalu menantangku hah! "


"Tarik semua majalah yang terdapat foto istriku, jangan sampai tersisa"

__ADS_1


"Baik Tuan, saya rasa anda sudah menaruh hati pada Nyonya" Jawab sekertaris Nanda dengan berlari keluar ruangan


"Bedebah! "


Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa Zena melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, diambilnya jaket serta tasnya,


"Maaf semuanya, aku harus pulang, tubuhku sedikit tidak enak badan" Pamit Zena yang diangguki oleh rekan kerja lainnya


"Biar aku antar Zen, wajahmu sudah pucat," Ucap Nida yang memapah Zena keluar ruangan, mereka berjalan menuju parkiran, tak disangka saat diparkiran Zena bertemu dengan Riski pemilik SC Group tempat dia bekerja


"Biar aku antar, " Ucap Riski memegang lengan Zena


"Terimakasih mas, tapi lebih baik aku pulang bersama Nida"


Ponsel yang berada di genggaman Zena bergetar, dia melihat notifikasi pesan masuk dari sekertaris Nanda


"Aduh sekertaris Nanda sudah memberi kabar kalau Steven sudah di dalam perjalanan, bagaimana ini??aku tidak akan kuat jika berpura-pura turun di depan jalan kecil itu, tubuhku masih lemas" Gumam Zena dalam hati, dia merasakan kegelisahan


"Aku akan antar, lagipula aku sejalan dengan rumahmu dan Nida beda jalan"


"Nid, lebih baik kamu pulang saja, biar Zena, aku yang antar"


"Ta-tapi bos"


Akhirnya Zena pasrah, waktunya tidak banyak, dia tidak mungkin berdebat panjang hanya karena hal sepele "Sudah Nid, tak apa, aku pulang bersama mas Riski,"


"Dan aku tidak mempunyai waktu untuk berdebat, aku takut jika Steven datang lebih awal" Batin Zena dia langsung masuk kedalam mobil Riski


Tak disengaja saat mobil Riski berhenti di dekat jalan setapak perumahan Steven, sekertaris Nanda melihat Zena turun dari mobil seorang pria, dan pria itu juga yang membuka pintu untuk Zena,


Sekertaris Nanda melirik pada Steven yang sedang mengotak atik ponselnya


"Jangan sampai Tuan Muda tahu, bisa habis aku, tapi bagaimana ini, jika aku tetap melintasi mereka pasti Tuan muda tahu, jika aku berhenti aku akan di marahi"


"Percepat lagi! Aku sudah gerah! " Pekik Steven yang tak sengaja melihat depan, dia akhirnya melihat pemandangan yang mengejutkan baginya,


"Hentikan mobilnya"


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2