
Setelah di dalam mobil, Steven benar-benar membawa istrinya menuju rumah sakit.
"Cepat Jeff!" pekik Steven saat melihat istrinya susah bernafas.
"Sayang, yang kuat ... kita akan sampai rumah sakit," titah Steven yang cemas, dia mengusap punggung tangan istrinya
"Baik Tuan, sekertaris Nanda berpeganganlah aku mau mengebut," ujar Jeff pada pria yang sedang duduk di sampingnya.
"Cepat, tanpa disuruh aku sudah berpegangan ... kasihan Nyonya, dia seperti susah bernafas," timpal sekertaris Nanda ketus.
"Okeh baiklah, kita akan memulai permainan ini, bayangkan saja jika kita sedang bermain game mobil-mobilan yang akan menyalip mobil di depannya," ujar Jeff menancapkan gas full membuat mata Nanda membulat.
"Apa dia fikir kita sedang di dalam area permainan," gumam Nanda dalam hati.
"Jeff, hati-hati, kau bisa membunuhku Jeff!" pekik sekertaris Nanda saat melihat ada trus di lawan arusnya.
Ciiittt ... Tin ... Tin ... Woshhh ...
"Santai sekertaris Nanda, aku ahli memainkan game mobil-mobilan, kau tenang saja," ujar Jeff yang sudah menghindari truk bermuatan pasir itu.
Di bangku belakang, Steven memegang erat tubuh istrinya. Dia menatap tajam kedua pria yang sedang berdebat,
"Apa kalian fikir nyawa aku dan istriku ada 10 hah!"
"Atau kalian ingin membunuhku!" pekik Steven saat melihat Jeff menyalip dumptruk di depannya.
"Bukan saya Tuan, tapi Jeff. Saya juga tidak menginginkan kematian Tuan," ketus Nanda, dia mengencangkan sabuk pengamannya agar aman.
"Tuan, Nyonya sedang sakit, dan kita tidak bisa berjalan di belakang truk itu yang lambat," ujar Jeff membela dirinya sendiri.
"Jeff!" pekik Steven sekali.
"Maaf Tuan, kita sudah sampai. Silahkan Tuan membawa Nyonya, dan saya akan parkirkan mobil Tuan dulu," ujar Jeff saat berada di depan rumah sakit, dengan sekertaris Nanda yang sudah membukakan pintu belakang untuk Steven.
Steven keluar sambil menggendong istrinya, dia berlari menuju memasuki rumah sakit.
__ADS_1
"Cepat tolong istriku!" ujar Steven saat melihat dokter Riyan berjalan melewatinya.
"Istri? Zena!" gumam dokter Riyan yang diangguki Steven.
"Cepat bodoh!" pekik Steven sekali lagi, dia menggendong istrinya dan merebahkan tubuh Zena dibangsal yang baru saja di ambilkan oleh Suster.
"Iya, iya ... tunggu di sini, biar aku yang mengecek keadaan Zena," titah dokter Riyan saat Steven berusaha menerobos masuk kedalam ruang IGD.
"Bagaimana aku bisa berdiam di sini, sementara istriku di dalam sedang menahan sakit! dasar bodoh!" maki Steven, dia berlari masuk kedalam ruangan Zena.
Dokter Riyan menghembuskan nafasnya kasar, dia berjalan dibelakang Steven.
"Apa yang Zena makan dari kemarin, Tuan Steven terhormat?" tanya dokter Riyan saat selesai memeriksa tubuh Zena.
"Emm hanya es krim," jawab Steven cepat, dia mengingat dengan jelas jika istrinya lebih banyak memakan es krim daripada nasi.
"Huh!"
"Sudah aku peringatkan kepada Dave, jangan terlalu sering memberikan Zena es krim,"
"Memangnya kenapa hah, setahuku es krim tidak membahayakan bagi ibu hamil, benar kan?" tanya Steven saat melihat wajah dokter Riyan yang frustrasi.
"Terserah Tuan saja,"
"Memang tidak membahayakan, tapi jika kita memakannya terlalu banyak, maka itu akan menjadi tidak baik. Es krim memang mengandung Nutrisi Esensial yang diperlukan ibu hamil, seperti kalsium, vitamin dan mineral,"
"Aman-aman saja jika masih bisa dihitung, tapi jika tidak ... itu sudah tidak aman," ujar dokter Riyan pada Steven.
"Jelaskan secara detail, aku masih tidak mengerti," jawab Steven, dia melihat istrinya yang sedang tertidur.
"Huh! baiklah aku akan jelaskan semuan, pertama-tama, ibu hamil tidak boleh memakan es krim dalam jumlah yang berlebih/banyak karena dapat meningkatkan beberapa resiko.
Dan perlu Tuan Steven ketahui apa saja resiko yang ditimbulkan jika mengonsumsi es krim berlebihan. Yang pertama ada obesitas"
"Jika memakan es krim berlebihan, maka dapat meningkatkan obesitas pada ibu dan calon bayinya."
__ADS_1
"Yang ke dua, dapat meningkatkan resiko infeksi, Tuan tahu kan ibu hamil bisa kapan saja terkena infeksi atau alergi?" tanya dokter Riyan lalu mendapat gelengan dari Steven.
"Aku tidak mengetahuinya, lalu jelaskan lagi selanjutnya," jawab Steven cepat.
"Haduh, bukankah Tuan sudah memiliki anak, tapi masalah seperti ini saja tidak tahu, lalu bagaimana waktu istri Tuan mengandung anak Tuan dulu, apa Tuan tidak mengawasinya?" keluh dokter Riyan, setelah itu dia tersenyum mengejek.
"Hei kau, tidak perlu menceramahi aku.Cepat jelaskan! aku membutuhkan informasi yang detail, agar aku bisa menjaga istriku dengan benar!" tekan Steven, dia menatap pria dihadapannya dengan tatapan mematikan.
"Baik, saya akan menjelaskan kelanjutannya, tapi jangan tatap saya seperti itu. Saya takut, jika Tuan akan jatuh hati pada ketampanan saya," ujar dokter Riyan tertawa kecil untuk memecahkan ketegangan yang menyelimuti perbincangan mereka.
"Kau!! " geram Steven, dia mengepalkan erat tangannya.
"Tuan, bisa membangunkan Zena, jika Tuan marah-marah tidak jelas seperti ini,"
Steven menatap istrinya lalu menatap kembali pada dokter yang membuat emosinya muncul"Kau, kau benar-benar ...," geram Steven, emosinya sudah berada di pucuk kepalanya.
"Ets, Tuan, jangan marah ...,"
"Saya akan jelaskan lagi, yang ke tiga. Bisa memacu Diabetes Gestasional, karna tingginya kadar gula darah saat kehamilan, "
"Lalu yang terakhir bisa mengakibatkan Sinus dan Infeksi Pernapasan pada Ibu hamil. karena sistem kekebalan tubuh yang ditekan,"
"Sekarang, Tuan sudah paham?" tanya dokter Riyan sekali lagi.
"Iya aku paham, mulai hari ini dan seterusnya aku akan menghentikan istriku memakan es krim," ujar Steven membuat dokternya Riyan melototkan matanya.
"Eh Tuan, maksud saya bukan seperti itu ...," gerutu dokter Riyan.
"Maksud saya, boleh tapi dibatasi, semisal beberapa hari sekali," sambungnya lagi.
"Heii, kau ...,"
"Dia istriku, aku yang berhak memutuskan tentang kehidupannya,"
"Ahh sudahlah ... lebih baik saya pamit, karena masih ada beberapa pasien yang membutuhkan saya," ujar dokter Riyan beranjak pergi dari ruangan Zena.
__ADS_1
Bersambungš