Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 197_Kekhawatiran Irma


__ADS_3

"Irma!" teriaknya lagi.


Mendengar namanya dipanggil, Irma langsung mengedarkan pandangannya, dia melihat sosok pria tampan berjas dengan mata yang memerah dan tangan mengepal erat sedang menghampirinya.


"Dokter Riyan, teman terbaikku di dunia. Please, bantu aku!" pinta Irma mendekatkan tubuhnya kemudian bersembunyi di belakang teman prianya.


"Rupanya, Ibumu benar-benar mengadu secepat kilat. Aku tak percaya, akan berada di masalah rumit seperti ini," gumam Riyan menelan saliva nya susah saat melihat pria yang tak kalah tampan darinya mulai mendekat.


"Maka, tolong aku! aku tidak mau dimarahi di depan umum. Aku malu, sebaiknya kita pergi saja dari sini," titah Irma tangannya bergetar saat melihat Kakaknya semakin mendekat padanya.


"Kita? kenapa harus kita? kenapa tidak kau saja yang kabur?" titah Riyan melirik jam dipergelangan tangannya, "Aku sudah telat, dan tidak mempunyai waktu untuk kabur. Lebih baik, kau saja yang kabur. Ini kan masalahmu bukan masalahku?" sambungnya lagi.


"Berikan kunci mobilmu, dan aku akan pergi!" pinta Irma.


"Irma!" ucap Al setelah berada di depan Riyan.


"Berikan dia padaku sekarang juga!" titah Al pada Riyan.


"Aku tidak mau, Riyan jangan berikan aku pada Mas Al," timpal Irma membuat emosi Al semakin berkobar.


"Ada yang harus kita bicarakan tentang anak--"


"Mas Al, sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik. Kasihan Irma, jika kita membicarakan ini di depan umum, apa kata pasien dan pengunjung rumah sakit saat mereka tahu kelakuan buruk dari Irma. Ini akan merusak reputasi rumah sakit dan Irma juga bisa di blacklist dari jabatannya sebagai dokter," potong Riyan, dia meraih pundak Kakak temannya agar tenang.


"Kau! kenapa kau berbohong padaku, hah! kau bilang ... kalian mempunyai hubungan khusus, dan sekarang aku mendengar kenyataan pahit dari Ibu, jika Irma--"


"Mas Al, pelase! jangan bahas di sini, aku malu. Kita bisa bahas di rumah atau di ruang praktek Riyan," timpal Irma membuat mata dokter Riyan melotot tajam.


'Ruang praktekku?' gumamnya dalam hati.


"Mas Al dan Irma, sebaiknya kalian pergi dan cari tempat untuk berbicara. Kalian membutuhkan waktu untuk berdua. Aku permisi!" ucap Riyan mulai melangkahkan kakinya.


"Tunggu, jangan pergi. Aku takut," bisik Irma menarik jas dokter temannya.


"Ir, aku ada kerjaan. Aku tidak bisa berada di sampingmu terus. Mengertilah posisiku," lirih Riyan meraih dan melepas tangan teman wanitanya.


"Aku tidak mau, kamu temani aku dulu. Sampai Mas Al pergi, aku takut kalau dia marah. Aku takut!" lirih Irma.


"Huh!"

__ADS_1


'Lama kelamaan, aku akan dimintai pertanggungjawaban dari keluarga,' gumam Riyan dalam hati.


"Baiklah, sekarang kita bahas masalah ini, di ruang praktek Irma. Bagaimana Mas Al?" tanya Riyan pada Al, ekor matanya melirik setiap sudut rumah sakit, ada beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan penasaran.


"Lihat, Mas Al bisa melihat sekitar rumah sakit. Banyak pasang mata yang melihat kita, apa Mas Al mau? Adik Mas dipermalukan di depan umum?" sambungnya kembali.


"Ikuti aku! kita ke ruang praktek wanita yang tidak tahu diri itu!" ketus Al setelah matanya melihat sekitar rumah sakit.


"Iya Mas." jawab Riyan.


Setelah sampai di ruang praktek Irma, mereka semua masuk dan mengunci rapat ruangannya.


"Irma! jangan bersembunyi terus di belakang tubuhku. Apa kau tidak capek, hem?" gumam Riyan berusaha menarik tubuh temannya agar keluar dari persembunyiannya.


"Aku tidak mau, aku masih takut dengan Mas Al," bisik Irma.


"Ir! apa yang dikatakan Ibu benar? jika kau hamil?" tanya Al, dengan nada suara yang lembut, walaupun matanya memerah dan tangannya mengepal erat.


"Jawab Ir! jangan diam saja!" sambungnya lagi.


"Be-benar Mas," jawab Irma ketakutan.


"Anak siapa! jawab jujur, anak siapa itu! apa itu, anak pria brenggsseek yang selama ini kau bangga-banggakan!"


"Jawab Irma! Kakakmu sedang berbicara! jangan diam saja!" teriak Al membuat Irma dan Riyan terkejut.


"Jawab Ir, jawablah dengan jujur! Kakakmu berhak tahu," bisik Riyan.


"Emm ... aku tidak tahu Mas, yang pasti ... ini bukan anak dari Mas Jeff," jawab Irma lirih.


'Tetap keras kepala dan egois!' gumam Riyan dalam hati.


Mendengar jawaban dari adiknya, seketika Al menarik salah satu sudut bibirnya. Dijatuhkan bokongnya di kursi pasien yang tergeletak tak jauh darinya.


"Bohong! memangnya aku baru mengenal sehari? ingat! aku sudah mengenalmu dari lahir, dari bayimu Ir! aku tahu, ucapanmu itu bohong!"


"Benar Mas, bukan dia. Sumpah!" ucap Irma sambil menghapus air matanya.


"Trus siapa? Orang yang paling dekat denganmu, hanyalah dia. Pria brenggsseek yang membuatmu berubah!"

__ADS_1


"Tapi bukan dia Mas."


"Siapa! katakan siapa!"


"Aku tidak tahu Mas!" jawab Irma semakin menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh temannya.


"Baiklah, jika kau tidak mau memberitahukan. Maka aku akan meminta Riyan untuk menjawab pertanyaanku."


"Siapa yang menghamili Irma! kau pasti tahu? tidak mungkin, kau tidak tahu!" ucap Al pada Riyan.


"Aku?" ulang Riyan, "Eh, maksudku aku tidak tahu Mas, jangan salah paham dulu."


"Apa mungkin, orang yang menghamili adikku, adalah kau!" gumam Al mendapat gelengan dari Riyan.


"Bukan Mas, enak saja. Bukan aku yang menghamili Irma. Jika aku menghamili Irma, kenapa aku bisa bersikap tenang di sini?"


"Dan aku bukan tipe orang seperti itu Mas," jawab Riyan sedikit kesal.


"Lalu siapa?"


"Di mana pria brenggsseek itu! aku akan menemui dan memintanya mengakui semua kebusukannya. Aku tahu, Irma sengaja menutup semuanya untuk membela pria brenggsseek itu!" titah Al beranjak dari tempat duduknya.


"Bukan dia Mas, aku bersumpah. Dia saja kecewa denganku dan meninggalkanku." timpal Irma cepat.


"Aku tidak percaya! aku akan menemuinya di rumah majikannya. Pasti dia ada di sana!" geram Al mengeratkan kepalan tangannya dan berjalan keluar ruangan.


"Ir! sampai kapan! sampai kapan! lihat sendiri akibatnya. Kasihan Tuan dan Nyonya Steven. Ucapanmu bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menambah masalah!"


"Kalau sudah begini, semuanya pasti hancur!"


"Hancur Ir!" seru Riyan melepas tangan Irma dan berjalan keluar ruangan.


Melihat dua pria yang memarahinya pergi dari ruangannya, tangis Irma tiba-tiba pecah. Tubuhnya merosot ke lantai.


"Apa salah, aku merahasiakan semuanya? aku bisa membesarkan anakku seorang diri. Aku benar-benar membencinya."


"Apa jika aku mengatakan semuanya, masalah akan selesai? dan keadaan kembali seperti semula? tidak kan! justru akan menambah masalah baru!"


"Bisa saja Mas Al memukuli atau membunuh kembaran dari Mas Jeff." ujar Irma bangkit dari duduknya dan pergi menyusul Kakaknya yang tengah emosi.

__ADS_1


"Riyan!" teriak Irma berlari menuju teman prianya yang tengah berjalan menuju ruang praktek.


Bersambung😘


__ADS_2