Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 212_Pertemuan Terakhir


__ADS_3

"Tidak apa-apa sayang," jawab Zena.


"Tunggu Mom, Rio akan mengikat luka mommy dengan pakaian Rio. Mommy tahan dulu, ya!" titah Rio, kemudian merobek kaosnya.


"Jangan sayang, Rio pakai saja bajunya. Sebentar lagi, malam datang, dan mommy tidak mau kamu kedinginan," cegah Zena.


"Tapi Mom. Aku tidak bisa membiarkan luka mommy,"


"Sayang, please! nurut sama mommy, sekarang Rio istirahat. Jangan sampai Rio sakit,"


"Bagaimana Rio mau beristirahat kalau Rio melihat mommy kesakitan, Dan kemana penjahat itu Mom. Tega-teganya, dia membunuh Bi Sari dan meletakkan mayat Bi Sari di depan kita!"


"Sayang ... aww ... huh ... mommy pusing. Rio kamu cepat kabur sayang. Cari celah, Rio harus pergi," titah Zena.


"Tapi Mom, bagaimana dengan mommy? Rio tidak bisa meninggalkan mommy dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kalau penjahat itu datang dan mencelakai mommy? Kita berdua akan kabur dari sini," ucap Rio, kemudian berjalan mencari celah untuk kabur.


'Rio harus membawa mommy pergi dari sini. Rio tidak bisa membiarkan mommy terluka seperti ini. Rio tidak mau kehilangan mommy!' gumam Rio dalam hati.


'Ah, itu ada jendela. Sebaiknya, aku kabur lewat jendela. Tapi, jendela sangat tinggi. Bagaimana, aku membawa mommy pergi. Aku tidak mungkin pergi sendiri. Aku tidak mau kehilangan mommy,' batin Rio, menatap Zena yang bertambah pucat.

__ADS_1


'Ini semua karena Rio. Kalau saja, Rio tidak marah dengan Daddy, semua kejadian ini tidak akan terjadi! Bodoh! Bodoh! pokoknya, Rio harus mengeluarkan mommy!' sambungnya lagi, kemudian berlari menuju Zena.


"Mommy, aku menemukan jendela di ujung sana. Kita keluar dari jendela, ya Mom," titah Rio pada Zena.


"Jendela?" ucap Zena, kemudian melihat arah tangan Rio, "Rio sayang, mommy tidak ada tenaga untuk naik ke jendela itu. Jendela itu sangat tinggi, sayang. Sekarang, Rio kabur. Rio mencari pertolongan untuk membantu mommy. mommy akan bertahan di sini."


"Mom, Rio tidak bisa kabur. Jika Rio kabur, Rio harus kabur bersama mommy!" ucap Rio tegas, "Ayo, Rio bantu mommy berjalan," sambungnya lagi.


"Terimakasih sayang," jawab Zena kemudian tangannya melingkar di pundak kecil putranya.


"Mommy yang sabar ya, kita harus keluar dari sini bersama-sama."


"Percayalah, mommy di sini baik-baik saja, aw ... huh!"


"Rio, Rio hati-hati. Jangan sampai ketahuan, mereka membawa senjata tajam, sayang," ucap Zena, membelai wajah putranya yang sedang menangis.


"Tapi Mom, Rio sayang mommy. Bagaimana kalau mommy di celakai penjahat itu. Rio belum sanggup kehilangan mommy, bahkan kita belum sempat berkumpul dengan baby girls, kita pergi ya, Mom? "


"Rio percayakan sama mommy? Kalau Rio membawa mommy, Rio bisa ketahuan. Lihat, darah mommy sudah berceceran dimana-mana." ucap Zena.

__ADS_1


"Mom--"


"Pergilah. Demi keselamatanmu, Mommy akan selalu mendoakanmu di sini!"


"Mom ... I love you. Mommy bertahan, aku akan menyelamatkan mommy. I miss you mom," ucap Rio, kemudian mencium kening Zena yang terasa dingin.


"Berhati-hatilah, jaga adik-adik Rio, seperti Rio menjaga mommy," jawab Zena yang mendapat anggukan dari Rio.


Setelah berpelukan, akhirnya Rio berjalan meninggalkan Zena sendiri di dalam gudang. Perlahan tangannya meraih dan menumpuk beberapa kardus untuk menaiki tangga.


Setelah selesai menumpuk kardus itu, Rio mulai memanjat dan sebelum dirinya benar-benar pergi. Sekali lagi, dia melihat Zena yang sedang menatapnya.


'Aku berjanji, aku akan meminta bantuan untuk melepaskan mommy. Aku sayang mommy, bertahanlah,' gumam Rio dalam hati.


Melihat keraguan di wajah putranya, Zena pun tersenyum, dia melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan terakhir kali pada putranya.


'See you. Semoga kamu bisa sampai di rumah dengan selamat, sayang. Aku tahu, mereka hanya mengincarku. Aku tidak mau, putraku terlibat. Apalagi dia bukan putra kandungku,' gumam Zena dalam hati, kemudian matanya terpejam


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2