
Beberapa kali mereka melakukan penyatuan dan beberapa kali Zena menangis akibat rasa sakit dibagian bawah, tak ada kelembutan yang Steven berikan, permainannya sangat kasar, bahkan Zena sudah bisa memastikan bahwa bagian intimnya membengkak
Ke esokan harinya, Zena yang masih tertidur lelap tiba-tiba dia meraba tempat Steven, matanya terbuka lebar saat tak melihat keberadaan suaminya,
Ketukan pintu dari luar membuat Zena cemas, dia berusaha bangun tapi rasa sakit dibagian bawah membuat dirinya mengurungkan niatnya
"Siapa? " Teriak Zena, dia berusaha membenarkan selimut yang dipakainya untuk menutupi tubuh polosnya
"Bibi Nya"
"Masuk bi! "
Bi sari membuka pintu, lalu masuk kedalam membawa sarapan pagi untuk Nyonya mudanya
"Bi, dimana Tuan Steven? " Tanya Zena yang tak melihat Steven
"Oh Nyonya Tesa dan Tuan Muda Steven sudah berangkat ke negaranya, dan bibi mendapat pesan dari mereka untuk menjaga Nyonya muda selama Tuan disana"
Degg,
Air mata Zena jatuh, dia tersenyum entah harus bahagia atau bersedih, dia trauma saat Steven menyetubuhinya, tapi dia takut jika Steven tak kembali
"Dimana negaranya bi? Dan berapa lama? " Tanya Zena penasaran, Zena fikir suaminya asli negara ini karna raut wajahnya tidak terlihat dari negara asing
"Hanya 1 bulan Nyonya, karna Tuan akan mengurus perusahaannya yang di negaranya lalu sekalian mengantarkan Nyonya Tesa kembali"
"Bi, jangan panggil aku Nyonya, aku bukan siapa-siapa disini"
"Saya menghormati Nyonya karna setelah menikah dengan Tuan Muda Steven, Nyonya akan menjadi Nyonya muda Steven"
"Tapi bi, Bibi bisa memanggil namaku, atau Nona, aku tidak suka dengan panggilan Nyonya, aku masih muda bi"
"Maafkan saya Nyonya, tapi saya hanya menjalankan aturan dirumah ini"
__ADS_1
"Lebih baik Nyonya mandi lalu sarapan, Bibi akan tunggu diluar, jika Nyonya butuh bantuan, tinggal panggil Bibi" Ucap bi Sari sambil menaruh sarapan pagi untuk Zena
"Bi, apa Bibi sudah mengenal keluarga Steven lama? "
Bi sari tersenyum dia menggelengkan kepalanya "Saya baru berkerja disini selama 5tahun Nyonya"
"Kenapa panggil aku Nyonya lagi, aku Zena bi, Zena, sekarang kita sedang berdua tidak ada Steven atau aturan apapun itu" Kesal Zena karna sedari tadi Bibi sari memanggilnya dengan sebutan Nyonya
"Maaf Nyonya, saya akan tetap memanggil anda dengan sebutan Nyonya"
"Ah terserah Bibi saja, bi bisa bantu aku, aku mau mandi, tapi-" Zena merasa malu jika dia mengatakan bahwa dirinya dan Steven habis melakukan malamnya dengan bergelut panas diranjang
Bi sari yang mengetahui pun tersenyum, dia melihat bercak darah di sprei dan selimut milik Nyonya mudanya
"Mari Bibi bantu, dan bibi juga sudah menyiapkan salep untuk meringankan rasa nyeri pada bagaian bawah, Nyonya bisa menggunakan setelah mandi"
"Bi aku malu, tapi terimakasih bi, "
Setelah berendam di dalam air hangat, tubuh Zena terasa lebih segar, walaupun rasa sakit dibagian bawahnya masih terasa, tapi Zena paksakan untuk keluar rumah
"Bantu apa Nyonya? "
"Emm, carikan baju untuk bi, aku rasa tidak ada baju yang cocok dirumah ini" Ucap Zena sambil memakan sarapan paginya,
"Semua baju sudah disiapkan di kamar ganti Nyonya, karna kemarin saya dan sekertaris Nanda sudah menyediakannya, hanya saja saya memisahkan antara pakaian santai dan formal" Jawab bi sari
Tiba-tiba sendok yang ditanggan Zena terjatuh, ingatanya berganti saat pakaian malam yang dia kenakan "maksud Bibi, pakaian tidur itu juga Bibi yang menyiapkan? " Tanya Zena yang terlihat bingung
"Bukan Nyonya, saya hanya membereskan pakaian yang sekertaris Nanda beli"
"Apa! " Jadi sekertaris sialan itu yang membeli pakaian tak layak pakai" Batin Zena
"Awas aja kalau aku ketemu, bakal aku habisi" Ucap Zena membuat bi sari bingung
__ADS_1
"Ada apa Nyonya? apa ada masalah? "
"Tidak ada apa-apa bi, saya mau ganti pakaian dulu, Bibi boleh keluar"
Setelah bi sari keluar dari kamar Zena, dia langsung masuk kedalam walk in closet nya lalu mencari pakaian yang menurutnya pantas
"Kenapa sekertaris itu bisa tahu ukuran bajuku ya, apa dia sudah menikah tapi aku lihat dia seperti orang yang belum menikah" Fikir Zena sambil bercermin saat memakai pakaian yang sekiranya cocok untuk melamar pekerjaan
"Aku harus menemui ibu, aku harus mengambil berkas untuk melamar pekerjaan" Gumam Zena yang berjalan turun, tiba-tiba dia merasa lelah dan mengeluh karna kamarnya berada di lantai 3,
"Bisa-bisanya mereka betah bekerja disini, rumah yang luas dan berlantai 3, apa mereka tidak merasakan lelah,
Nafas Zena tersenggal-senggal, akhirnya dia sampai dilantai bawah, tak sengaja Zena melihat pelayan lain yang keluar dari lift di bawah tangga
Mata Zena memanas, dia meremas jarinya erat" Apa-apaan ini, kenapa tidak ada yang bicara bahwa ada lift dirumah ini, sebenarnya siapa Steven dan keluarganya, kenapa susah sekali untuk mencari Identitasnya di google
"Nyonya, anda mau kemana? " Tanya sekertaris Nanda yang baru saja memasuki rumah Tuan Mudanya, Zena segera menghampiri sekertaris sialan itu,
Plak, plak, plak.
Beberapa kali Zena memukul pundak sekertaris Nanda, dia Melampaiaskan emosinya, karna sekertaris sialan ini dia habis diterkam Steven sampai bagian bawahnya bengkak, dan belum sembuh dia harus menuruni tangga dari lantai tiga ke lantai dasar
"Kenapa anda memukul saya," Sekertaris Nanda mengusap pundaknya yang terasa nyeri akibat pukulan dari Nyonya mudanya
"Kau kan yang sudah memberiku baju tidur terawang dan kurang bahan, ngaku kau! Apa kau tidak berfikir dampak buruknya hah! Kau bisa melukai aku! " Teriak Zena kesal, dia memukul pundak sekertaris suaminya lagi
Sekertaris Nanda tersenyum, bagaimana bisa istri dari Tuan mudanya bersikap menggemaskan seperti ini, tak mau berdebat panjang, sekertaris Nanda mengabaikan ucapan Zena, dia memberitahukan bahwa Steven dan ibunya pergi untuk sementara waktu ke luar negri
"Aku sudah tahu! "
"Dimana negaranya? "
"Maaf Nyonya saya tidak bisa memberitahukan ini demi keselamatan kita "
__ADS_1
"Memangnya kenapa! Aku kan istrinya" Tantang Zena dia menyilangkan kedua tangannya di dada
Bersambungš