
Sekali lagi Rio menatap Ayah nya yang sedang menatapnya tajam, "Ternyata Mom, yang dimakan mommy itu--" ucapanya terhenti saat Steven menarik tangan putranya menjauh.
"Nanda! biarkan Rio di depan!" titah Steven membuat Zena mengerutkan keningnya.
"Enggak Dad! Rio mau duduk di belakang!" tolak Rio yang langsung masuk ke dalam mobil.
"Mom, lihat! Daddy jahat sama Rio!" sambung Rio mengumpat di belakang tubuh Zena, dengan lidahnya menjulur pada Steven, membuat Steven semakin emosi.
"Rio, Dad--" ucapan Steven terhenti saat Zena menimpalinya.
"Sudah Mas, lagipula di depan pasti sempit. Biarkan Rio duduk bersama kita, aku lelah Mas ... aku mau pulang!" ucap Zena membuat mau tak mau Steven mengalah. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping istrinya.
"Mas, jangan menatap Rio seperti itu. Memangnya kalian ada masalah apa? kenapa harus bertengkar di pinggir jalan seperti tadi!" ujar Zena saat melihat tatapan tajam Steven pada Rio.
"Itu Mom, emm--"
"Ekhem!" Steven mengeluarkan suara khasnya, membuat Rio tersenyum mengejek.
"Mom, ternyata ... lu--"
"Ekhem!!" Steven mengusap tenggorokannya berulangkali.
"Mas, kamu gapapa kan?" tanya Zena saat melihat sikap suaminya yang aneh.
"Tenggorokanmu sakit Mas?" sambungnya lagi.
"Iya sayang, tenggorokanku sakit," jawab Steven menyenderkan kepalanya di pundak istrinya. Tangannya berusaha melingkar pada pinggang istrinya.
"Mom, Rio mau bicara!" pekik Rio tak suka melihat kemesraan Ayahnya yang suka bohong.
"Bicara apa sayang?"
"Bicaralah, mommy pasti mendengarkannya," titah Zena yang mengusap pundak suaminya.
"Sayang, tenggorokanku sakit. Jadi, biarkan aku tenang," titah Steven lagi.
"Iya Mas,"
"Jeff cepat ya, kasihan Mas Steven pasti kelelahan," ujar Zena pada Jeff yang sedang mengendarai mobilnya, "Dan Rio, sebaiknya kita tunda dulu bicaranya. Kasihan Daddy membutuhkan istirahat," sambung Zena membuat senyum Steven terbit.
"Aman!" gumam Steven dalam hati.
"Iya Mom,"
"Tapi besok, suruh Daddy buatkan bumbu itu lagi ya! Rio mau berikan untuk Ca," ujar Rio membalas senyuman Steven yang menurutnya mengejek.
"Iya sayang, jika Daddy sudah sembuh. Mommy akan menyuruh Daddy membuat stok yang banyak," jawab Zena mengusap pucuk kepala anaknya menggunakan tangan yang kosong.
__ADS_1
Glek,
Steven melototkan matanya, membuat Rio semakin berbinar.
"Ta-tapi sayang--" ucapan Steven terpotong oleh Jeff.
"Maaf Tuan, Nyonya. Kita sudah sampai," ujar Jeff saat mobilnya sudah terparkir di depan rumah yang begitu besar dan megah.
"Silahkan," timpal sekertaris Nanda yang sudah membukakan pintu untuk keluarga boss sekaligus sahabatnya yang sangat menyebalkan.
"Terimakasih sekertaris Nanda," jawab Zena yang keluar dari mobil dan dibantu Steven.
***
Di sebuah rumah sakit ternama di kota Jakarta. Terlihat wanita cantik yang sedang duduk berhadapan dengan dokter pria yang tampan.
"Bagaimana keadaan dia dok?" tanya Sheila sekali lagi.
"Apa anda kekasih pasien, atau keluarga pasien," tanya dokter Riyan memastikan kembali.
"Saya ... saya temannya dok!" ucap Sheila berbohong.
"Tidak ada perubahan, dan jika selama 3 bulan berturut-turut tidak ada perubahan terpaksa saya harus mencopot semua alat yang berada ditubuhnya,"
"Tidak! saya tidak setuju! jika dokter mencabut semua alat dari Riski. Dia masih membutuhkan alat itu!" tolak Sheila bangkit dari duduknya.
Melihat sikap Sheila yang tidak sopan, dokter Riyan pun memberi intruksi agar bisa duduk kembali.
"Saya ingin yang terbaik untuk Riski dok!"
"Dan Saya menolak keras, jika dokter mencabut semua alat bantu untuk Riski," ujar Sheila menatap tajam dokter yang menangani Riski.
"Kami sudah mendapat izin dari pihak keluarga, dan mereka mengizinkan kami melepas semua alat bantu yang berada di tubuhnya, jika perlu tidak usah menunggu waktu 3 bulan,"
"Dan Nona, sebagai teman dari pasien tidak bisa melarang kami." sambung dokter Riyan kembali membuat Sheila mengerutkan keningnya.
"Apa!"
"Siapa keluarga pasien! pasien tidak mempunyai keluarga di sini. Anda jangan berbohong," ujar Sheila, "Eh, tunggu! apa yang menyuruh dokter itu Ayah dari Riski, maksud saya ... Ayah tiri Riski?" sambung Sheila yang di angguki dokter Riyan.
"Benar,"
"Aku semakin curiga, kenapa Leo tega membunuh Riski seperti ini. Apa yang pria tua itu inginkan? jika dia menginginkan harta, bukankah hartanya sudah berada di tangan dia semua?"
"Aku harus bisa membuat Riski sadar, untuk bisa membalaskan dendamku kepada Steven," gumam Sheila dalam hati.
"Dok! Dokter mau bantu saya?" tanya Sheila dengan nada yang lembut membuat dokter Riyan bingung, karena sikapnya yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"Jika saya bisa bantu, maka saya akan membantu Nona,"
"Emm ... saya mau dokter tidak melepas alat bantu di tubuh Riski, masalah biaya ... saya yang akan menanggungnya,"
"Dan masalah keluarga Riski, dokter bisa bilang jika Riski sudah meninggal dan jenazahnya akan di urus di rumah sakit,"
"Bantu saya dok! sebenernya dia kekasihku bukan temanku" ujar Sheila bohong.
"Maaf kami tidak bisa," tolak dokter Riyan cepat.
"Dok! saya akan pindahkan Riski ke rumah sakit lain, jika perlu saya akan membawa dia ke luar negeri," ujar Sheila memohon.
"Saya tidak bisa!" tolak dokter Riyan cepat.
"Dan silahkan Nona pergi, karena beberapa menit lagi, keluarga dari pasien bernama Riski akan datang kemari," sambung dokter Riyan membuat Sheila terkejut.
"Apa! pria tua itu akan kemari?" pekik Sheila gugup. Dia menggapai tasnya lalu beranjak dari duduknya.
Di saat dia bersiap-siap pergi, terdengar dari luar ketukan pintu membuat Sheila yang sedang berjalan menuju pintu ruangan pun menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya dan berlari menuju dokter Riyan.
"Dok! tolong saya ... tolong!" pinta Sheila meraih kedua tangan dokter Riyan.
"Tolong, sembunyikan saya di mana pun dok!" sambungnya lagi membuat dokter Riyan melototkan matanya.
"Tidak bisa!" ketus dokter Riyan menarik kedua tangannya.
"Dok! please!"
"Help me!" pinta Sheila mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Okeh, jika dokter tidak mau menolong saya. Saya akan mengumpat di bawah kolong meja," sambungnya kembali yang berlari dan bersembunyi di bawah meja.
Dokter Riyan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Sheila, "Cepat keluar! saya tidak bisa menyembunyikan Nona di sini," seru dokter Riyan.
"Ta-tapi dok--"
Tok ... Tok ...
Bunyi ketukan dari luar ruangan membuat Sheila menggelengkan kepalanya.
"Please dok!"
"Please, tolong saya!" pinta Sheila membuat dokter Riyan menghembuskan nafasnya kasar, dia membiarkan Sheila bersembunyi di bawah kolong mejanya.
"Masuk!" seru dokter Riyan yang sudah mendudukan bokongnya di kursi kerjanya.
Pintu terbuka, dan terlihat sosok pria tua yang masuk dan mendudukan bokongnya di hadapan dokter Riyan.
__ADS_1
"Selamat malam Pak Leo," ucap dokter Riyan menjabat tangan Leo.
Bersambungš