
Setelah sampai di bandara, Jeff segera membuka pintu untuk berlari keluar mobil.
"Penerbangan kita sekitar 20 menit lagi Nyonya," ujar Jeff, yang membuka pintu mobil belakang.
Zena beranjak keluar dari mobil, belum sempat Steven keluar, pintunya sudah tertutup keras oleh istrinya.
"Brak!"
Steven mengusap dadanya karena terkejut, "Beruntung dia istri yang aku cinta dan beruntung juga dia sedang mengandung anakku, jika dia Jeff, sudah aku habisi sampai mati," gumam Steven dalam hati. Dia menunggu Jeff membukakan pintu mobilnya, tapi sampai 2 menit, Jeff tak kunjung membuka pintu.
"Dasar anak buah tak tahu diri, bisa-bisanya dia berpihak pada istriku, memang istriku yang membayar dia hah. Dan sekarang, dia tidak mau membukakan pintu untukku," gerutu Steven membuka pintu mobil dan berjalan keluar.
"Brak!"
"Dimana mereka," gumam Steven saat tak melihat istri dan anak buahnya.
"Apa jangan-jangan mereka, sudah masuk kedalam bandara. Dasar kurangajar Jeff!" pekik Steven menendang body mobil samping.
Brak!
Brak!
"Mas, kenapa marah-marah sih, kasihan Jeff yang sedang mengambil barang-barang kita di bagasi," gerutu Zena yang baru saja kembali membawa 1 plastik es krim di tangannya.
"Tidak ada Jeff,"
"Dan kamu ... kamu habis darimana sayang, apa isi kantong plastik itu," tanya Steven penasaran, dia hendak mengambil kantong plastik yang berada di tangan istrinya.
Sebelum diambil Steven, Zena lebih dulu menyembunyikan kantong plastik itu di belakang tubuhnya, samar-samar dia mendengar suara orang minta tolong di dalam mobilnya, tapi dihiraukan oleh Zena
"Tolong Nyonya, saya terkunci di bagasi mobil," ujar Jeff mengetuk bagasi mobil. Barang yang terlalu banyak membuat Jeff tidak bisa leluasa bergerak.
"Dimana Jeff, Mas, aku meninggalkannya di sini. Dan dimana barang serta oleh-oleh milik kita," tanya Zena mengambil 1 bungkus es krim dan membukanya.
"Mengikutimu tidak,"
"Tidak, aku sudah memperingatkan jika aku hanya sebentar. Apa dia sudah masuk,"
__ADS_1
"Tolong Nyonya saya masih di dalam mobil," pekik Jeff, dia menempelkan wajahnya ke kaca mobil agar terlihat oleh Steven dan Zena.
Melihat tiba-tiba ada wajah Jeff menempel pada kaca mobil, Steven terkejut, dia memundurkan langkahnya sambil mengusap dadanya.
Dan Zena, es krim yang baru saja dia makan terlempar ke pinggir jalan.
"Jeff, apa yang kamu lakukan. Bukankah aku menyuruhmu untuk mengeluarkan koper, tapi kenapa kamu malah bermain di dalam bagasi mobil," tanya Zena polos membuat Jeff sedikit emosi.
"Tuan, Nyonya, buka mobil. Saya terkurung di sini," ujar Jeff sambil memakai isyarat tangannya.
Steven yang baru saja tersadar pun tertawa, tiba-tiba dia mempunyai ide yang cemerlang untuk membalas anak buahnya itu.
"Sudah biarkan sayang, Jeff sedang beristirahat di sana, mungkin dia kelelahan," ucap Steven membuat Jeff melototkan matanya.
"Nyonya, buka Nyonya," kini Jeff meminta tolong pada Zena yang sedang membuka satu bungkus es krimnya lagi.
"Dia bicara apa mas, aku tidak dengar ... dan aku cape Mas, aku mau duduk Mas," titah Zena membuat Jeff menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa Jeff tidak sesak di dalam mobil Mas, buka saja bagasinya," sambung Zena kembali membuat Jeff menganggukkan kepala.
"Sudah menjadi kebiasaan untuk Jeff, jika beristirahat tidak ingin di ganggu. Dia seperti itu karena ingin memberitahu kita, jika dia membutuhkan waktu untuk beristirahat sayang," jawab Steven menampilkan senyum mengejeknya di hadapan Jeff.
"Ahhh kenapa mobil ini kedap suara si, aku rugi besar ini. Bagaimana jika Tuan terbang dan meninggalkanku di sini," gerutu Jeff memayunkan bibirnya tak terima.
Setelah terjebak di dalam mobil selama 5 menit, akhirnya Steven datang seorang diri lalu membuka bagasi mobil.
"Enak!" tanya Steven yang mendapat gelengan dari Jeff.
"Tidak Tuan, saya tidak bisa menggerakkan tubuh saya," keluh Jeff yang keluar dari bagasi mobil dan merentangkan kedua tangan juga kakinya yang tertekuk.
"Ini akibatnya jika kau membela istriku,"
"Sekarang, ambil barang-barangku, pesawat akan segera lepas landas, atau kau ingin aku tinggal di sini,"
"Ja-jangan Tuan, jika anda meninggalkan saya di sini, lalu bagaimana nasib Tuan di Indo,"
"Maksudmu apa hah, nasibku akan lebih baik jika aku meninggalkanmu di sini. Kareena tidak akan ada yang mengumbar fitnah pada istriku,"
__ADS_1
"Ma-maafkan saya Tuan, saya becanda ... jangan dimasukkan hati semua ucapan saya," ujar Jeff menampilkan senyum manisnya lalu cepat-cepat menurunkan barang dimilik majikannya ke atas troli yang sudah di bawa Steven.
***
Penerbangan membutuhkan waktu kurang lebih 18 jam untuk sampai di bandara internasional di kota jakarta.
Karena terlalu banyak membeli es krim, akhirnya Zena membagikan es krim itu pada Jeff yang berada di sebrang tempat duduknya.
Mereka sengaja tidak memakai jet pribadi atau ruangan VIP di dalam pesawat karena Zena yang memintanya.
"Jeff, ini ambil lagi," ujar Zena memberikan 1 bungkus lagi. Ini sudah ke tiga kalinya Zena menyodorkan es krim untuk anak buah suaminya.
Steven yang melihatnya hanya menggelengkan kepala tanpa ingin memprotes istri kecilnya.
"Sudah cukup Nyonya, gigi saya bisa sakit jika banyak memakan es krim," ujar Jeff memegang pipi sebelah kirinya.
"Jeff, kita teman. Dan teman harus berbagi, aku tidak mau kamu kurus saat sampai di Indonesia," ujar Zena yang masih menyodorkan es krim untuk anak buah suaminya.
"Apa hubungannya, tidak ada istilahnya jika memakan es krim banyak bisa menggemukkan," gumam Jeff dalam hati, dia mengambil es krim yang disodorkan dari Zena.
"Kumat, kumat ini gigi. Nyonya baik si, tapi baiknya tidak lihat kondisi," sambungnya lagi.
"Mas, kamu mau?" tanya Zena yang sudah beralih pada suaminya.
"No sayang, buat kamu saja," tolak Steven yang tidak terlalu menyukai jajanan dingin itu.
"Mas, aku baik loh, ini buat kamu. Masa anak buahnya aku kasih, tapi suamiku sendiri aku abaikan. Ayolah Mas," ujar Zena memasang muka melasnya. Dia memainkan drama seperti anak tirinya yang pura-pura menangis.
Melihat istrinya mengeluarkan setetes air mata, akhirnya Steven meraih es krim itu dan memakannya.
"Rasa apa ini," tanyanya saat merasakan rasa aneh di es krim itu.
"Durian, aku membeli banyak rasa durian Mas," jawab Zena tersenyum senang.
Di sisi lain, Jeff terkikik saat mendengar kata Durian. Setahu Jeff, Steven tidak menyukai Durian,
Steven menelan salivanya susah, dia hampir memuntahkan es krim, tapi niatnya diurungkan saat melihat istrinya tersenyum manis.
__ADS_1
Bersambungš