Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 136_Kemarahan Jeff


__ADS_3

"Sebenarnya apa hubungan mereka. Dan apa benar yang dikandung wanita itu anak dari Tuan kita?" tanya resepsionis saat melihat Zena berjalan di samping Steven.


"Sebaiknya kau tutup mulutmu, jangan sampai Tuan dan wanita itu mendengar ucapanmu. Atau mereka akan memecatmu," ujar security, "Kalian tahukan resiko jika kalian dipecat? Tidak mendapat pesangon dan tidak akan diterima bekerja di perusahaan manapun. Apa kalian mau hidup keluarga dan keturunan kalian kelak menjadi dikucilkan?" sambung security tua itu.


"Pak, apa yang diucapkan kami benar. Bukankah Tuan Steven sudah bercerai dengan Nyonya Dinda? Dan siapa wanita itu? Tidak mungkin wanita itu Nyonya Dinda?" ucap resepsionis bernama Noni.


"Benar, apa yang dikatakan Noni, jika Tuan sudah bercerai dengan mantan istrinya. Oh iya, aku pernah mendengar gosip yang sempat viral, jika Tuan Steven menganiaya selebgram paling terpopuler di Indonesia yang bernama Sheila," ucap staff lain yang ikut menimbrung, "Mungkin karena wanita itu, Tuan menganiaya selebgram Sheila. Secara wanita itu memang cantik, kecantikannya melebihi Sheila," lanjutnya lagi.


"Tapi itu tidak benar. Sama saja wanita itu merebut Tuan Steven dari Nona Sheila," ucap Noni.


"Maksud kalian, wanita itu pelakor?" tanya Pak security tak percaya.


"Husttt ... diam Pak, kita bisa ketahuan bergosip," kesal Noni.


"Sudah sanah, Bapak menjaga pintu saja. Biar aku dan Sarah yang bergosip," sambungnya lagi.


Ekhem ...


Ekhem ....


"Sedang apa kalian di sini? Memangnya pekerjaan kalian sudah selesai?" ucap Jeff yang baru saja masuk dan mendapati beberapa karyawan Tuan nya sedang bergosip.


"Ma-maaf," ucap semua karyawan,


"Cepat! kembali bekerja! Kalian di sini dibayar untuk bekerja bukan untuk bergosip! Dan kau--" tunjuk Jeff pada security yang berada di sampingnya, "Apa pekerjaanmu kurang, sampai-sampai kau menimbrung dan menggosipkan berita tidak benar!" pekik Jeff membuat Zena dan Steven menghentikan langkahnya.


"Mas, Jeff menyeramkan saat marah. Lebih baik Mas Steven suruh Jeff ikut dengan kita," ucap Zena menggoyangkan lengan suaminya.


"Memang seperti itu sayang, Aku sudah pernah melihatnya marah. Mungkin orang baru seperti mu akan mengenalnya dengan sikap yang labil seperti bocah. Tapi jika dia benar-benar dalam keadaan serius dan emosi, jangan diragukan lagi. Dia seperti iblis yang bisa membunuh semua orang," jawab Steven melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Mas, bawa Jeff. Kamu mau karyawanmu kabur karena ketakutan?" cegah Zena.


"Huh!"


"Jeff!" teriak Steven, "Ikut denganku sekarang juga!" lanjutnya lagi.


"Awas saja, aku akan mengecek kalian setelah urusanku selesai. Jika aku mendapati kalian masih bergosip, Aku akan memerintahkan Tuan Steven untuk memecat kalian semua!" ancam Jeff, "Apa kalian mengerti!" bentak Jeff lagi membuat semua karyawan menatap resepsionis dan satpam.


"Mengerti," lirih Pak satpam yang kembali pada tempatnya, dan Jeff melanjutkan langkahnya menghampiri Steven.


"Ikut aku! jangan lampiaskan kemarahanmu pada karyawanku!" titah Steven melanjutkan langkahnya.


Zena merinding takut saat berhadapan dengan Jeff. Matanya yang merah, tangannya yang mengepal erat serta nafasnya yang tidak teratur membuat Zena merapatkan tubuhnya ke lengan suaminya.


"Jeff, kontrol emosimu. Kau lihat! Istriku ketakutan," ujar Steven saat berada di dalam lift.


"Nyonya, Nyonya jangan takut," ucap Jeff menyandarkan tubuhnya di lift, "Saya--" ucapannya terhenti saat Zena mengulurkan tangannya.


Steven menggelengkan kepalanya saat melihat ketakutan istrinya, "Jeff, apa yang mereka katakan, sampai-sampai kau emosi seperti tadi?" tanya Steven saat pintu lift terbuka.


"Saya hanya kesal Tuan. Mereka mengatakan bahwa--" ucapan Jeff terhenti saat melihat raut wajah sekertaris Nanda yang tidak bersahabat.


"Tuan, kita sebaiknya bicarakan ini nanti saja. Saya harus menjemput Tuan kecil Rio dulu," ujar Jeff saat melihat jam di pergelangan tangannya.


"Pergilah, setelah itu kembali ke kantor. Aku tidak mau Rio di rumah sendirian," titah Steven.


Setelah kepergian Jeff, Steven membawa istrinya ke ruangan pribadinya, "Tunggu di sini. Aku akan bicara pada Nanda," ujar Steven mengecup kening istrinya, "Beristirahatlah jika lelah," lanjutnya lagi.


"Iya Mas," jawab Zena meluruskan kedua kaki di ranjang empuk milik suaminya.

__ADS_1


Pintu kamar pribadi tertutup rapat oleh Steven. Dia berjalan menghampiri sekertarisnya yang sedang duduk di sofa.


"Ada apa? Apa ada masalah di kantor selama aku belum datang?" ucap Steven membuka satu persatu dokumen yang diletakkan sekertaris Nanda di atas meja.


"Steve-- em maksudku Tuan Steven, anda telah melewatkan meeting penting di pagi hari. Perusahaan ini nyaris kehilangan project besar karena Anda tidak hadir," ucap sekertaris Nanda menahan kesal.


"Memangnya harus aku? Biasanya kau mampu menanganinya tanpaku," jawab Steven enteng. Dia mengambil selembar kertas yang diberikan dokter Irma, "Lebih baik lihat ini, Kau harus lihat anak-anakku," Steven menunjukkan kertas hasil USG istrinya pada sekertaris sekaligus sahabatnya.


"Steven, aku tahu kau sedang bahagia. Tapi kau juga tidak bisa mengesampingkan urusan pekerjaan. Intinya aku tidak mau tahu, aku sudah membuatkan jadwal meeting yang baru untukmu!" ucap sekertaris Nanda kesal, dia beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh.


Sebelum sekertaris Nanda menghilang dibalik pintu, dia sempat mengucapkan beberapa dokumen yang harus dibaca dan ditandatangani oleh Steven.


"Pergilah, aku akan membaca dan menandatangani secepatnya," ucap Steven mengambil satu dokumen dan membacanya.


"Dia benar-benar gila. Dia rela bahagia di atas penderitaan orang lain," gerutu sekertaris Nanda memasuki ruangan kerjanya.


Di dalam ruangan Riski, terlihat Sheila menjatuhkan bokongnya ke sofa dengan kesal, "Awas saja. Aku akan membalas semua perbuatan kalian padaku! Aku tidak terima, jika aku kalah melawan wanita itu!" geram Sheila melempar tas branded nya.


"Hari ini, aku sudah boleh pulang. Jadi, mulai saat ini jangan pernah menemuiku lagi," ucap Riski.


"Suka-suka aku. Memangnya ada masalah jika aku menemuimu?" ketus Sheila melihat Riski sudah rapih, "Kau- kau mau tinggal di mana? Di rumahmu itu?" ejek Sheila lagi.


Riski berjalan mendekat dan duduk di depan Sheila, "Aku akan mengambil semua hartaku lagi dari pria tua itu!" ujar Riski, "Tapi, aku membutuhkan bantuanmu," sambungnya lagi.


"Kau tahukan, setiap bantuanku itu tidak gratis Tuan Riski terhormat," ucap Sheila tersenyum sinis.


"Aku akan memberikan 10% hartaku, setelah aku berhasil merebut semuanya dari pria tua itu," ucap Riski, "Apa kau setuju," sambungnya lagi.


"Aku tidak membutuhkan hartamu. Yang aku butuhkan adalah melihat orang-orang yang sudah menghinaku bersujud di hadapanku," jawab Sheila, "Simple saja. Jika kau mau membantuku, maka aku juga akan membantu mu. Mau bagaimanapun aku bisa dengan mudah mengambil hartamu dari pria tua itu?" sambung Sheila.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2