
Setelah beberapa menit. Akhirnya Nanda berhasil memasukkan flashdisk dan dia mencoba mencari video rekaman CCTV.
"Tuan, mereka memakai pakaian hitam. Apa Tuan mengenal salah satu orang-orang itu?" tanya Nanda pada Steven, setelah videonya rekaman CCTV itu terputar.
Steven memperhatikan setiap gerak gerik orang-orang yang berada di dalam CCTV itu dengan teliti. Berulang kali, Nanda menghentikan videonya itu dan memperbesar gambarnya, agar bisa sedikit lebih jelas di kenali olehnya atau Steven.
"Aku tidak tahu, kalian sudah laporkan kejadian ini pada polisi?" tanya Steven, tangannya menepuk-nepuk bokong baby Evan.
"Belum Tuan. Karena, kejadian ini belum 24 jam. Jadi, polisi juga belum bisa memprosesnya," jawab Nanda.
"Cari tahu, dimana keberadaan Dinda dan bawa dia kemari!" titah Steven.
"Em, lebih baik. Kita melakukannya dengan cara halus saja, Tuan. Jika, kita ingin mengorek informasi dari wanita ular itu, kita tidak jangan gunakan kekerasan. Dan aku juga pastikan, Nyonya serta Rio akan aman. Kecuali--" ucapan Nanda terhenti membuat Steven penasaran.
__ADS_1
"Kecuali apa?" tanya Steven penasaran.
"Kecuali, mereka sudah berniat membunuh Nyonya."
"Aku tidak butuh cara halus seperti itu. Cepat, cari Dinda, suruh dia mengakui semua perbuatannya. Aku yakin, mereka orang suruhan Dinda. Karena, aku melihat pakaian hitamnya ada sedikit tanda di punggung yang Dinda juga mempunyai pakaian seperti itu!"
"Aku akan menyusul kalian, jika Ibuku sudah datang. Aku tidak bisa membiarkan putraku sendiri di rumah. Walaupun, aku sudah memperketat keamanan rumah!" ucap Steven.
"Baik Tuan. Kalau begitu, saya dan Fakhri akan pergi mencari keberadaan Nona Dinda." ujar Nanda, kemudian memutar tubuhnya.
'Malang sekali nasibmu, Steve. Aku berjanji, aku akan menemukan orang-orang itu, dan aku akan memberikan pelajaran untuknya!' gumam Nanda dalam hati.
"Kenapa berhenti? Apa ada hal yang belum kamu sampaikan?" tanya Steven, saat ekor matanya melihat sekretaris sekaligus sahabatnya menatapnya.
__ADS_1
"Em, maaf Tuan. Aku lupa, persediaan ASI di kulkas sudah menipis, hanya tersisa dua botol. Apa perlu aku belikan susu formula? Aku takut, anakmu kelaparan? Dan bagaimana dengan ASI baby Esya? Mungkin, persediaan ASI nya juga sudah menipis," ucap Nanda, membuat Steven menghembuskan napasnya kasar.
"Aku berharap, sebelum ASI itu habis. istriku sudah kembali. Aku dan Zena sudah berjanji, akan memberikan yang terbaik untuk ke dua anakku. Jika, ini yang terbaik. Belikan susu formula yang terbaik dan berkualitas. Aku tidak mau anak-anakku kelaparan. Hanya mereka yang saat ini, aku punya," jawab Steven, wajahnya dia palingkan ke atas menatap langit ruang kerjanya.
'Steve, kau menangis? Baru kali ini aku melihatmu benar-benar menangis, setelah kepergian Ayah dan kakakmu. Kau pasti sangat mencintai anak dan istrimu,' gumam Nanda dalam hati, kemudian menganggukkan kepalanya, "Okeh, aku akan mencarikan susu formula terbaik untuk anak-anak mu," jawab Nanda, kemudian pergi meninggalkan Steven sendiri di ruang kerjanya.
Di satu sisi, terlihat Zena yang tengah merintih kesakitan. Luka yang tidak diobati membuat luka itu infeksi.
"Aww ... To-tolong obati lukaku! Aku sudah tidak kuat lagi!" teriak Zena pada beberapa penjahat yang sedang berjaga di dalam gudang.
"Tolong! Aku bisa mati! Dan tolong ... belikan penyedot--"
"Berisik! bisa diam tidak, ha! menganggu konsentrasiku saja!" teriak salah satu penjahat yang sedang bermain kartu.
__ADS_1
Bersambungš