Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 46_Kenikmatan Surga Dunia di Pagi Hari


__ADS_3

"Diam!"


"Tamu bulanan yang kau bilang sudah selesai bukan? Sekarang layani aku" Suara serak Steven sempat menghipnotis telinga Zena,


"Ke-kenapa suaranya terdengar sangat sexy ditelingaku? " Gumam Zena dalam hati lalu sedetik kemudian dia tersadar dari lamunannya


"Tidak mau! memangnya siapa kau! enak saja mau memperlakukanku seperti pelacccur! aku tak mau!! " Zena memberontak, dia menendang-nendang kakinya ke kaki Steven,


"Diam! siapa yang menganggapmu sebagai pelacccur, melayani suami sendiri itu hukumnya wajib"


"Ck, jika suaminya seperti kau, hukumnya akan aku ubah menjadi haram!! suami tidak tahu diri, suami yang membutuhkan istrinya untuk melampiaskan hasratnya saja!! dasar buaya! enak sekali dia mentang-mentang aku sudah selesai, dia bisa menyentuh aku sesukanya, kemarin sewaktu aku tidak bisa disentuh, kau pergi dengan selingkuhanmu"


"Ck, aku tak sudi disentuh oleh buaya sepertimu!!" Gumam Zena dalam hati


"Turunkan aku! A-aku belum selesai, tamu bulanan itu belum pergi" Teriak Zena keras


"Diam! kau bisa mengundang Rio kemari! "


"Biarkan saja! cepat turunkan aku!! buaya darat!!! " Pekik Zena


"Hei!! kenapa kau kunci kamarnya, aku-aku harus pergi!! "


Seakan tuli Steven merebahkan tubuh istrinya, hasrat dan gairahnya sudah tidak bisa ditahan lagi, apalagi saat dress selutut Zena terangkat menampilkan paha mulusnya, membuat mata Steven menatapnya lapar


Kaos yang dikenakan Steven sudah terlepas dari tubuhnya, roti sobek yang diidam-idamkan setiap kaun hawa pun terlihat begitu menggoda dimata Zena


Glek, "Apa-apaan ini, bagaimana bisa tubuhnya sangat sexy" Gumam Zena dalam hati saat melihat roti sobek milik suaminya, tapi semenit kemudian dia menggelengkan kepalanya agar tersadar dari lamunannya


"Hei.. Hemph.. Hemph" Ucapan Zena terpotong saat bibir Steven membungkam bibirnya, tangannya sudah berkeliaran melepas resleting belakang dress Zena lalu perlahan gaun itu terlepas dari tubuh pemiliknya, membuat Steven bisa merasakan tubuhnya yang bersentuhan dengan benda favoritnya


Di satu sisi tubuh Zena merespon setiap sentuhan suaminya tapi disatu sisi logikanya menolak karena rasa sakit perselingkuhan suaminya,


Permainan Steven semakin menggila, setelah mencium dan melumaaat bibir istrinya, sekarang dirinya sedang bermain di dua benda kenyal Zena, dia menghisap salah satu benda kenyal tersebut dan tangan satunya meremas benda yang tak dihisap membuat Zena terbuai dengan permainan suaminya,


"Aaaahhh Steve" Desssah Zena membuat Steven semakin terbakar gairah


Steven mendongakkan wajahnya menatap istrinya yang sedang menikmati surga dunia karna ulahnya

__ADS_1


"Aku akan membuatmu bahagia diatas ranjang" Bisik Steven lalu menghisap kedua benda kenyal itu secara bergantian, setelah selesai meninggalkan jejak kepemilikannya di tubuh bagian atas, Steven kembali bermain dibagian bawah Zena, dia mencium dan lidahnya bermain di bagian yang terhimpit kedua paha Zena


"Aaahhh Steven, cepat" Ucap Zena yang sudah tidak tahan lagi,


"Aku akan lakukan" Steven bangkit lalu melepas celananya dan menindihi tubuh istrinya lagi, dia memasukan senjatanya kedalam sarangnya


Permainan kali ini benar-benar membutat Zena menikmati surga dunia di pagi hari, bahkan dia melupakan janjinya yang ingin bertemu dengan Riski


Tak bisa dipungkiri bahwa Zena merindukan sentuhan suaminya, logikanya mengaku kalah saat Steven menyetubuhinya


"Arrrrggggkkkkhh" Erangan keduanya pun menggema di dalam kamar tamu membuat Steven ambruk diatas tubuh Zena


"Sshhiitt!! " Umpat Zena saat melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi


Zena langsung mendorong tubuh Steven dan memunguti pakaiannya lalu memakainya


Steven yang kelelahan pun sudah tertidur lelap di tempat tidurnya


"Mas Riski" Zena menggeser tombol hijau saat ponselnya berdering


"Iya mas, maaf aku sedikit telat, ada sesuatu yang harus aku urus dulu mas" Ujar Zena sambil memakai pakaiannya dengan ponsel dihimpit di telingan dan pundaknya


"Aku gapapa mas, aku tadi ada sedikit urusan" Ucap Zena sambil memandangi suaminya yang tertidur lalu dia menarik selimut agar tubuh polos suaminya tertutupi selimut


"Ya sudah mas, aku mau berangkat ke kantormu, "


"Hati-hati Zen, atau aku jemput kamu saja,"


"Eh tidak usah mas, jangan hehe..."


"Ya sudah, jika sudah sampai, bilang padaku, aku akan tunggu di lobby"


"Iya mas"


Panggilan berakhir, Zena menyempatkan diri untuk memandang wajah Steven yang sedang terlelap


"Apa satu wanita saja tidak bisa cukup untuk memuaskanmu?"

__ADS_1


"Mulai hari ini aku tidak akan mengandalkan hidupku padamu, aku akan keluar dari rumah ini, dan aku yakin, setelah aku bekerja di perusahaan mas Riski aku bisa kabur darimu" Gumam Zena yang langsung pergi meninggalkan Steven sendiri, dia berjalan menuju kamarnya karna ingin membersihkan keringat tubuhnya yang terasa lengket


Sebelum masuk kedalam kamarnya, Zena melirik sekilas kamar sebelahnya "Siapa Rio? Apa dia anak Steven? Dan kenapa aku baru tahu? Kenapa Steven tidak pernah bercerita padaku"


"Aku semakin yakin, jika aku dimanfaatkan oleh Steven" Gumam Zena dalam hati


"Nyonya, ada apa? " Tanya Riki dan Fahri yang sedang berjaga di depan pintu kamar Zena


Mendengar seseorang berbicara, Zena langsung tersadar dengan lamunannya


"Oh iya kalian kan pengikut Steven eh maksudku Tuan Steven, apa kalian tahu Rio itu siapa? Apa benar Rio anak Steven? Tapi kenapa-" Ucapan Zena terjeda, dia ragu mengatakan bahwa Steven menginginkan anak darinya kepada kedua pengawal di depannya


"Maaf Nyonya, jika Nyonya penasaran, lebih baik Nyonya tanyakan sendiri pada Tuan Steven, karna kami tidak punya wewenang untuk menjawab pertanyaan Nyonya yang menyangkut data pribadi Tuan Steven dan Tuan kecil Rio" Jawab Riki yang diangguki Fahri


"Sekali lagi kami minta maaf Nyonya" Ucap Fahri sambil menundukkan kepalanya


"Ya sudah, kenapa harus minta maaf segala, oh iya dimana jeff? Aku mau minta tolong padanya"


"Oh Jeff sedang menemani Tuan kecil Rio di dalam kamarnya, karna bibi sedang ditugaskan untuk membeli perlengkapan Tuan kecil Rio"


"Jika sangat penting, Nyonya bisa langsung masuk kedalam kamar Tuan kecil Rio, tapi sebelumnya Nyonya harus-" Ucapan Riki terhenti saat tak sengaja melihat bekas kepemilikan tuannya di leher Zena


"Harus apa? " Tanya Zena penasaran, dia melihat pandangan Riki yang menuju lehernya, di raih ponselnya lalu Zena mengaca dan melihat bekas permainannya dengan Steven


"Jangan dilihat, aku akan menghilangkan bekas ini" Ucap Zena menutupi bekas itu dengan tangannya


Kedua pengawal itu langsung menunduk tak berani menatapnya karna dibelakang Zena sudah berdiri Steven


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentak kalian" Ujar Zena yang melihat kedua pengawalnya menunduk takut


"Hei aku meminta maaf, jangan menunduk seperti itu" Kesal Zena tapi tak mendapat respon dari Riki dan Fahri


Ekhem! Deheman dari arah belakang Zena membuat Zena menoleh kebelakang


"Ah sudah kuduga, kau takut pada singa itu kan? " Bisik Zena diantara kedua pengawalnya


"Lanjutkan pekerjaanmu, aku mau masuk ke kamar" Sambungnya lagi sambil berjalan masuk dan menutup

__ADS_1


Hay gaes, jangan lupa tinggalkan jejak kalian seperti komen, like, favorite, vote dan hadiah, bila perlu kasih kritik dan saran, dan boleh kok kasih pendapat tentang alur ceritanya


Bersambung😘


__ADS_2