Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 113_Es Krim Lagi!


__ADS_3

Rio tersenyum, dia melirik sekilas pada Zena, lalu menatap teman wanitanya lagi.


"Mommy, kata Ca, mommy cantik,"


"Dia ingin menjadi seperti mommy saat sudah besar nanti," sambungnya membuat Cassandra mencubit pinggang Rio.


"Sakit Ca," ringis Rio saat pinggangnya dicubit.


"Tante, aku gak suka dipanggil Ca sama Rio, padahal semua teman-temanku memanggilku dengan sebutan Sandra," ujar Cassandra pada Zena.


Zena menggelengkan kepalanya, "Sudah sanah, kalian masuk ... sebentar lagi pelajaran akan dimulai, dan mommy akan pergi," ujar Zena mengusap kepala Rio dan Cassandra.


"Cassandra, Tante ... titip Rio padamu,"


"Dan Rio, biar mommy suruh om Jeff untuk mengantarkan bekalmu," titah Zena yang mendapat gelengan dari Rio.


"Jangan Mom, lebih baik mommy lihat adek Rio dulu,"


"Rio gapapa hari ini tanpa bekal," ujar Rio kemudian mengusap perut buncit Zena.


"Eh iya Tante, lagipula aku membawa bekal lebih banyak kok, aku bisa berbagi bekal kepada Rio," timpal Cassandra.


"Tuh kan Mom, temanku ini memang baik, kecuali jika aku meminta contekan, dia seperti orang kerasukan setan," ujar Rio lalu berlari ke dalam kelasnya.


"Rio!" pekik Cassandra lalu tersenyum kaku pada Zena yang tengah menatapnya.


"Tante, aku gapapa kan kalau keras dengan Rio, eh maksud aku ... aku gapapa kan sekali-kali memarahi Rio jika Rio salah," ralat Cassandra dengan menautkan jemarinya.


"Boleh, asalkan Rio salah, Cassandra boleh memarahinya, dan Tante percaya pada Cassandra,"


"Terimakasih Tante, andai ibuku masih hidup. Pasti sekarang aku bisa melihat senyumannya,"


"Ya sudah, Ca pamit masuk kelas Tan," ujar Cassandra yang diangguki Zena,


Setelah melihat anak perempuan itu masuk ke dalam kelas, Zen langsung berjalan menuju mobilnya. Dia meminta Jeff mengantarkan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


"Silahkan Nyonya," ujar Jeff yang membukakan pintu mobil belakang untuk Zena.

__ADS_1


"Terimakasih Jeff, oh iya ... kita singgah ke minimarket terdekat Jeff, aku mau membeli sesuatu," titah Zena saat Jeff menutup pintu mobilnya.


Jeff berlari memutari mobil lalu masuk kedalam mobil, "Apa yang Anda perlukan Nyonya," tanya Jeff mulai menyalakan mesin mobilnya dan mobilnya mulai berjalan membelah jalan ibukota.


"Emm ... Jeff aku ingin memakan es krim satu saja," pinta Zena memelas. Hanya pada Jeff, Zena berani meminta. Karena kejadian terlalu banyak memakan es krim dan berakhir di rumah sakit, Steven melarang keras siapapun memberikan istrinya es krim, jika ada yang melanggarnya, Steven akan menghabisinya hidup-hidup.


"Nyonya, saya tidak berani," jawab Jeff tegas


"Ayolah Jeff, ini bukan keinginanku, tapi ini keinginan calon anakku. Apa kamu mau Mas Steven marah jika kemauan calon anaknya tidak dituruti," ujar Zena membuat Jeff berfikir berulang kali.


Melihat Jeff berfikir, kedua sudut bibir Zena tersungging keatas, "Ayolah Jeff, anakku menginginkan es krim, hanya satu saja," titah Zena mengusap perutnya, dia membayangkan begitu nikmatnya makan es krim coklat kesukaannya di cuaca yang mulai panas.


"Sa-saya--"


"Jeff, aku janji ... tidak akan bicara dengan Mas Steven. Seperti hari-hari sebelumnya," ujar Zena.


"Huh!" Jeff membuang nafasnya kasar, dia benar-benar tidak tega melihat istri Tuan nya memohon seperti itu.


"Baik Nyonya, tapi hanya satu. Dan saya yang akan masuk ke dalam, Nyonya tunggu di mobil," titah Jeff yang di angguki Zena.


"Iya Jeff, sekarang menepi ya. Aku sudah tidak sabar memakan es krim, setelah itu kita pergi ke dokter,"


Akhirnya mobil yang dikendarai Jeff terparkir mulus di depan minimarket.


Dan Jeff turun dari mobil meninggalkan Zena di dalam mobil,


"Horeee sayang, akhirnya kita bisa memakan es krim lagi. Kita harus berterima om Jeff sayang," ujar Zena sambil mengusap perut buncitnya.


Pandangannya tak sengaja menatap sosok wanita yang sedang merangkul mesra pria yang sudah berumur, "Sheila, apa benar dia Sheila," ujar Zena mengucek matanya lalu membuka kaca mobilnya sedikit, "Iya benar, itu Sheila," sambungnya lagi.


"Ta-tapi kenapa dia bersama pria tua. Apa setelah gagal mendapatkan Mas Steven dia beralih kepada pria tua, eh tunggu dulu ... aku seperti mengenal pria tua itu," ujar Zena saat melihat pria tua yang tertutupi topi dan juga kacamata yang bertengger di hidungnya.


"A-ayah, di-dia Ayah,"


"A-ayah, Sheila menjadi wanitanya Ayah," gumam Zena yang langsung menutup kaca mobilnya. Dia takut jika kehadirannya diketahui oleh Sheila dan Ayahnya Leo.


"I-ini tidak mungkin, aku sudah lama tidak berjumpa dengan Ayah,"

__ADS_1


"A-apa mataku salah melihat," gumamnya sekali lagi. Ingatannya di jual kepada rentenir tua membuat Zena ketakutan.


Jeff yang baru saja masuk ke mobilnya pun terheran saat melihat istri Tuan nya ketakutan.


"Ada apa Nyonya, kenapa Nyonya seperti orang ketakutan," ujar Jeff menatap wanita yang bersembunyi di bawah kursi.


"Jeff, a-ada Ayahku. Dia bersama Sheila," bisik Zena menunjuk tangannya pada kaca mobil samping kanan.


Jeff menoleh, dia tidak melihat siapapun dan tidak melihat Sheila di area parkir.


"Tidak ada Nyonya," ujar Jeff menutup pintu mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


"A-ada Jeff, mereka memasuki mobil samping kita," ujar Zena menyakinkan anak buah suaminya.


"Tidak ada Nyonya, tidak ada mobil di samping kita," jawab Jeff yang tidak melihat mobil terparkir di samping mobilnya.


"Benar Jeff, dia sudah pergi?" tanya Zena sekali lagi.


Jeff mengangguk, dia sekali lagi menoleh tapi tidak melihat mobil ataupun Sheila di samping mobilnya, "Tidak ada Nyonya, kalau Nyonya tidak percaya, silahkan cek sendiri. Dan ini, ini es krim pesanan Nyonya," ujar Jeff memberikan kantong plastik yang berisi satu es krim saja.


Zena keluar dari persembunyiannya, dia sudah tidak melihat siapapun di samping mobilnya.


"Dia sudah pergi Jeff, terimakasih Jeff," ujar Zena menghembuskan nafasnya lega lalu mengambil kantong plastik dari tangan Jeff.


Matanya membulat sempurna saat melihat di dalam kantong plastik itu hanya terdapat satu es krim saja.


"Jeff, kenapa hanya satu?" tanya Zena mengambil es krim itu lalu membukanya.


"Nyonya hanya meminta satu es krim saja, dan saya tidak berani membeli terlalu banyak,"


"Tapi Jeff, ishhh ... kenapa kau jadi perhitungan dan pelit sih!" gerutu Zena memakan es krim nya dengan cepat.


Melihat istri Tuan nya kesal dan memakan es krim belepotan, Jeff terkekeh, dia memperingati istri Tuan nya agar hati-hati, "Nyonya, pelan-pelan tidak ada yang mau meminta es krim Nyonya," ujar Jeff membuat Zena melototkan matanya.


Di dalam mobil lain, terdapat sepasang kekasih yang sedang berdebat.


"Kenapa kita harus cepat-cepat sayang," ujar Leo pada kekasihnya Sheila.

__ADS_1


Mendengar kata sayang yang terucap dari mulut Leo, Sheila Seakan-akan ingin memuntahkan semua isi diperutnya, "Menjijikan sekali," gumam Sheila dalam hati.


Bersambung😘


__ADS_2