
Saat melihat ponselnya di letakan di atas meja makan, mata Zena akhirnya terbuka dia meraba dan tersenyum senang "Ah aku tidak bermimpi kan? Singaku memberikan ponselku lagi," Gumam Zena dengan mengucek matanya
"Mommy! Mommy dihajar seperti apa sama daddy! Biar Rio balas daddy! " Pekik Rio yang pertanyaannya diabaikan
"Sudah sayang, jangan dibahas lagi, mommy berangkat kerja dulu, ini sudah siang, mommy bisa telat" Ujar Zena lemas, dia berdiri menenteng tasnya lalu mengecup kening putranya
"Jaga diri Rio sayang," Teriak Zena lagi
"Mom! aku ikut mom!! " Teriak Rio yang turun dari kursi
"Bi!! bawa Rio ke kamar! jangan sampai dia mengejar Zena! " Titah Steven yang langsung diangguki bi sari
"Tuan kecil!! " Bibi berlari lalu menangkap Rio, dia membawa Rio kedalam kamarnya
"Mommy!! "
"Dad! Daddy!! hikss.. hikss.. " Tangan Rio berusaha menggapai Steven, dia memanggil dan berteriak histeris
"Tunggu bi"
"Aku mau berpamitan dulu dengan Rio" Cegah Steven yang menghentikan bi sari
Steven bangkit dan berjalan lalu mengecup kening dan pipi gembul putranya "Daddy berangkat dulu, Rio nurut sama bibi, jika Rio nakal,.. Rio akan daddy kirim pada omah! " Ancam Steven membuat Rio diam menangis
Karna melihat istrinya pergi dan tak pamit, emosi Steven seketika hadir, setelah berpamitan pada putranya dia berlari mengejar istrinya,
Melihat istrinya mau memasuki mobil, Steven lebih dulu menutup pintu mobil "Kau! Kau ikut denganku! Biar aku yang mengantarmu" Ujar Steven menarik tangan Zena lalu memasukan Zena kedalam mobilnya
Zena yang masih mengantuk pun tak membantah, tubuhnya seperti setengah sadar, berjalan saja dengan sempoyongan seperti orang habis mabuk
"Duduk! Biar aku antar! " Titah Steven yang sambil mendudukan bokong Zena di dalam mobilnya
Setelah menutup pintu mobil, Steven memutar dan masuk kedalam mobil, sebelumnya dia sudah memperingatkan Jeff untuk mengikutinya dari belakang karna Steven ingin berdua di dalam mobil
"Mas! Aku tidur dulu, kalau udah sampe bangunin aku," Gumam Zena dengan mata terpejam, seketika nafasnya sudah teratur, dan dia sudah memasuki alam mimpinya
Tak ingin menjawab atau merespon ucapan istrinya, Steven justru mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati-hati, bahkan setiap ada polisi tidur dia seperti membawa sepeda, lajunya sangat pelan, karna tak ingin istrinya terbangun
__ADS_1
Drtt.. Drtt... Drtt
Ponsel di saku jas Steven berbunyi, dia langsung merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel tersebut
Hembusan nafas kasar terdengar tak enak "Hallo shei? Ada apa menelfonku pagi-pagi? " Tanya Steven yang fokus menyetir mobilnya sesekali melirik istrinya yang sedang tertidur
"Sayang, kau bisa kan jemput aku? Aku mau menemui beberapa orang untuk membuat konten? " Rengek Sheila dengan manja
"Aku tidak bisa shei, aku ada meeting mendadak di pagi ini" Jawab Steven yang melirik istrinya berharap suaranya tak membangunkan tidur nyenyaknya
"Apartemenmu kan melewati rumahku sayang, please!! Aku sudah telat,"
"Atau aku akan ke kantormu selepas aku pulang dari hotel, aku sangat merindukanmu sayang"
"Ehh... Okeh.. Okeh aku jemput kamu, tapi aku membawa-" Ucapan Steven terhenti saat Zena menggeliat lalu membuka matanya perlahan
"Maaf mas, aku ketiduran" Ujarnya yang sambil mengucek matanya
Steven melirik sekilas lalu kembali menyetir "Okeh, aku jemput kamu sekarang, sekitar 5 menit lagi aku sampai" Jawab Steven langsung mematikan telfonnya
"Mas, kenapa berhenti? " Tanyanya lagi saat melihat mobil Steven sudah terparkir di pinggir jalan
"Keluar dan duduklah dibelakang" Titah Steven yang membuka kunci mobil
"Mas, memangnya ada apa? "
"Keluar saja.. Apa susahnya keluar lalu pindah ke belakang hah! Aku tidak punya waktu lagi untuk meladeni ucapanmu" Ujar Steven saat melihat jam dipergelangan tangannya,
Tak banyak berfikir, Zena keluar dari mobil lalu pindah ke bangku belakang, di dalam hatinya dia merasakan kecewa pada suaminya, baru saja dia dianggap ada tapi sekarang dia sudah dianggap tak ada.
Setelah Zena duduk di belakang, Steven menjalankan mobilnya lagi
Tak ingin bertanya, Zena pun memejamkan matanya, dia tidak ingin berfikir masalah suaminya, toh yang penting dia sudah bebas dan boleh bekerja lagi
Setelah 5 menit Zena memejamkan matanya, tiba-tiba dia merasakan mobilnya berhenti dan samar-samar dia mendengar suara wanita cantik yang memasuki bangku depan
"Hei sayang, aku sangat merindukanmu" Ucap sheila sambil mendudukkan bokongnya tak lupa mereka memberi kecupan di pipi keduanya membuat Zena yang mengintip meremas tasnya erat
__ADS_1
"Bedebah! Seharian menempel denganku dan menyetubuhiku sekarang dia berani bermesraan di depanku dengan selebgram gadungan itu!
apa tubuhku belum cukup sampai-sampai dia--aaaahhhh dasar pria breengseek" Gumam Zena dalam hati yang emosi
Tak sengaja pandangan Sheila melirik kursi belakang, dia melihat wanita cantik yang sedang tertidur di bangku belakang, mempunyai sikap penasaran membuatnya bertanya pada kekasihnya sambil bergelanyut manja dilengan kekar Steven
"Bukankah wanita itu kekasih sekertarismu? Kenapa dia bisa ada bersamamu" Ujar Sheila melirik Steven, kepalanya dia senderkan dipundak Steven
"Oh jadi bedebah itu mengaku jika aku kekasih Nanda, baiklah.. Awas saja kau!! Aku akan balas kau" Gumam Zena dalam hati, lalu dia berpura-pura menggeliat dan membuka matanya
"Apa masih lama?" Tanya Zena sambil menguap
Mendengar kekasih Nanda terbangun, Sheila memicingkan matanya "Hei kau putri tidur! ! Enak ya, pasti tidurmu sangat nyenyak,..
"Iya jelas lah! namanya juga tidur di dalam mobil mewah punya boss, pastilah nyenyak!!
" Aku peringatkan padamu, ini pertama dan terakhir kalinya aku melihatmu tidur didalam mobil kekasihku! Jangan mentang-mentang kau kekasih sekertaris Steven, jadi kau bisa seenaknya sendiri" Ucap Sheila dengan sinis, dia melirik sekilas dari kaca mobilnya
"Hentikan shei, aku tidak suka kamu bersikap kasar pada kekasih karyawanku" Seru Steven sambil melepas lingkaran tangan Sheila yang berada di tangan kekarnya
"Sayang, kenapa kau membelanya, aku tahu dia kekasih sekertarismu, tapi kau tidak bisa memperlakukannya seenaknya, bagaimana bisa kekasih karyawanmu tidur dengan nyenyak di mobilmu, sedangkan kau seperti menjadi supirnya"
Mendengar perdebatan antara Steven dan Sheila, Zena pun angkat bicara, dia benar-benar sudah muak dengan drama suaminya "Tuan! turunkan aku di depan saja"
"Ada sesuatu yang harus aku urus, jadi turunkan aku di depan Tuan Steven, dan terimakasih atas tumpangannya" Ujar Zena sambil meremas tasnya
"Aku akan antarkan kamu, tapi sebelumnya aku akan antarkan Sheila ke hotel dulu" Titah Steven yang tak suka dengan ucapan istrinya
"Biarkan saja sayang, biar kita ada waktu untuk berdua, memang kau tak merindukanku hem? " Ujar Sheila sambil mengusap rahang bawah Steven yang membuat hati Zena semakin panas,
"Mas! Turunkan aku! " Pekik Zena sambil menghentakkan kedua kakinya membuat Sheila terkejut
"Hei!! Kau lancang yah! Kau berani melawan atasanmu dan menyebut atasanmu dengan sebutan mas! Hargai Steven sebagai atasanmu, walaupun kau kekasih sekertarisnya tapi dia tetap atasanmu!! "
"Turunkan di depan saja yank, dan aku akan memaki sekertarismu itu,"
Bersambungš
__ADS_1