Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 178_Rumah Sakit


__ADS_3

"Iya, kau tidak menemuinya kan? Aku tidak suka, kau menggunakan identitasku untuk bertemu dengannya. Aku tidak mau! Kau kan ketus, sombong dan kaku. Aku tidak mau melihat Irma ketakutan saat kau jadi aku!" ucap Jeff.


'Ah, lebih baik, aku tidak memberitahukan yang sesungguhnya. Aku akan beritahukan jika Jeff benar-benar sembuh, ingat ucapan Nyonya Tesa, jangan membebani pikiran Jeff dengan ucapan yang membuatnya shock,' batin Jack.


"Itu tidak akan pernah. Untuk apa aku menemui seorang wanita, membuang-buang waktuku saja!" ketus Jack beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengisi daya ponsel milik Jeff.


"Memang sangat mustahil bagimu, karena sedari dulu, kau tak suka dengan wanita. Hidupmu hanya bekerja dan bekerja. Mulai sekarang, carilah pendamping hidup untukmu, kau tidak iri denganku? Aku saja sudah mempunyai wanita," ucap Jeff menatap setiap gerak gerik Kakaknya.


"Kau baru saja ditolak sudah mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Jadi, mulai sekarang ... jangan berharap lebih dengan wanita yang pernah menolak cintamu, Jeff," ejek Jack.


"Hei, aku bukan bunuh diri. Aku hanya terpeleset saja," ketus Jeff.


"Terpeleset sampai koma? Ingat! Darah yang mengalir ditubuh mu adalah darahku," ucap Jack berjalan menuju kamar mandi.


***


"Bagaimana? Masih bisa kan?" tanya dokter Riyan setelah Irma mencoba memasukkan sim Card nya ke ponsel barunya.


"Tidak bisa, dok. Bagaimana ini?" tanya Irma cemas.


"Kita coba lagi, pasti bisa!" titah dokter Riyan.


"Ini semua karenamu! Aku sudah bilang ... jangan, jangan, jangan, tapi kenapa dokter tetap merebut ponselku. Jika, sudah seperti ini, mau bagaimana? Aku tidak bisa menghubungi Mas Jeff," keluh Irma.


"Jadi, semua ucapanku benar? Kau mempunyai hubungan dengan pria itu?" tanya dokter Riyan shock.


"Iya! Mau adukan pada Mas Al? Silahkan saja, Mas Jeff sudah bicara denganku, jika dia akan menikahiku," jawab Irma.


"Kau benar-benar ceroboh! Sudah aku peringatkan berulang kali, jangan berhubungan dengannya untuk sementara waktu! Apa telingamu tuli ha!" seru Riyan bangkit dari duduknya.


"Apa maksudmu mengatakan aku tuli? Aku berhak menentukan kebahagiaanku sendiri. Biarkan saja, aku bahagia dengannya!"


"Irma, apa kau benar-benar yakin jika dia Jeff?" tanya dokter Riyan lirih, tubuhnya dijatuhkan ke ranjang pasien, "Apa kau yakin? Setidaknya ikuti perintahku sampai semuanya berjalan dengan baik, aku tidak melarangmu berhubungan dengan pria mana pun. Aku hanya ingin yang terbaik untuk temanku saja," sambung Riyan mengusap wajahnya berulang kali.


"Apa maksudmu? Aku yakin dia Mas Jeff," jawab Irma walaupun di dalam hatinya masih ada sedikit keraguan dengan pria yang mengaku Jeff.


"Baguslah, aku bisa menyimpulkan jika cintamu untuk Jeff memang belum--"


"Katakan! Aku tidak butuh ocehanmu! Sekarang katakan yang sejujurnya, kenapa kau bicara seperti itu, seolah-olah jika dia bukan Mas Jeff!" titah Irma menghampiri dan menjatuhkan bokongnya di samping teman prianya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya saja. Memangnya, aku tidak boleh bertanya?" tanya Riyan, "Aku akan pergi, dan lupakan Jeff. Dia bukan jodohmu!" sambung Riyan beranjak dan keluar dari ruangan teman wanitanya.


"Apa maksud Riyan? Kenapa dia berbicara seperti itu?" gumam Irma.


***


Di kediaman Steven, beberapa barang untuk menyambut kelahiran Putra putri pertamanya pun sudah disiapkan oleh Steven.


"Sayang, tinggal menunggu hari saja, Anak-anak kita akan lahir ke dunia ini," ujar Steven setelah membereskan kamar yang akan ditempati untuk anak-anaknya kelak.


"Mas, apa sebaiknya, kamar anak kita dijadikan satu dengan kita? Aku takut, jika--"


"Tidak perlu takut, kamar mereka berada di tengah-tengah kamar kita di Rio, dan lihatlah ... ada pintu penghubung antara kamar kita dan kamar anak-anak kita," timpal Steven.


"Ta-tapi Mas,"


"Demi kebaikan kita semua, apa kau mau setiap hari Rio tidur dengan kita? Aku tidak mau!"


"Terserahmu saja Mas," jawab Zena berjalan keluar kamar, "Mas Steven tidak ke kantor?" teriak Zena.


"Aku akan cuti sampai kau melahirkan, aku akan menjadi Ayah siaga untuk anak-anakku," jawab Steven.


'Terlalu siaga, padahal masih seminggu atau dua minggu lagi dari perkiraan dokter,' batin Zena berjalan menuju lift.


"Mas, perutku sakit, Mas!" teriak Zena di dalam lift.


"Aw ... sakit," rintihnya lagi, "Sayang ... apa sudah waktunya kamu keluar dari perut mommy, nak?" sambung Zena saat melihat air yang keluar dari area sensiitiffnya.


Ting ...


Pintu lift terbuka, terdengar suara Zena yang mengadu kesakitan di dalam lift.


"Bi, Bibi! Tolong ... Bi!" teriak Zena.


"Mas, Mas Steven! Tolong Mas, perutku sakit!"


Dari arah kejauhan sekertaris Nanda yang baru saja tiba di kediaman bossnya pun samar-samar mendengar suara rintihan dari seseorang di lift yang terdapat dibelakang tangga.


Dengan cepat, sekertaris Nanda berlari dan melihat istri dari bos sekaligus sahabatnya sedang mengaduh kesakitan sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Nyonya, Nyonya tidak apa-apa? Di mana Tuan, kenapa Nyonya sendirian?" tanya sekertaris Nanda panik saat melihat cairan putih membasahi daster yang dikenakan Zena.


"Tolong! Tolong aku! Mas Steven sedang di kamar, tolong aku!"


"Kita ke rumah sakit sekarang," titah sekertaris Nanda.


"Tidak! Panggilkan suamiku dulu, aku tidak mau melahirkan tanpanya. Dia harus melihat aku melahirkan, cepat!" titah Zena, napasnya terasa sesak.


"Baik Nyonya," jawab sekertaris Nanda yang merogoh saku celananya dan menghubungi Tuan bosnya.


"Saya sudah menghubungi Tuan," ujar sekertaris Nanda.


"Bi! Bi sari!" teriak sekertaris Nanda tapi tidak ada jawaban dari ketua pelayan rumah Steven.


"Sayang!" pekik Steven menuruni anak tangganya dengan cepat dan berlari menuju pintu lift.


"Bodoh! Kenapa mau biarkan istriku kesakitan seperti ini ha! Cepat bantu aku buka mobil!" teriak Steven menggendong tubuh Zena yang terasa sangat berat.


"Baik Tuan," jawab sekertaris Nanda berlari dan membukakan pintu mobil bagian belakang, "Silahkan Tuan," titah sekertaris Nanda.


"Kau temani istriku di belakang, biar aku yang menyetir!" titah Steven kepada sekertarisnya.


"Tidak Tuan, seharusnya anda yang berada di bangku belakang."


"Cepat! Aku tidak butuh penolakan darimu!" pekik Steven mendorong tubuh sekertarisnya agar masuk ke mobil.


Setelah sekertarisnya masuk, Steven langsung masuk ke dalam bangku kemudi.


"Sabar sayang, " ucap Steven menancapkan gasnya.


"Aku sudah tidak kuat lagi! Sekertaris Nanda, tolong aku!" titah Zena meremas lengan Nanda erat.


"Sakit Nyonya."


"Sakit mana denganku, Nanda!"


"Aww ... sakit Nanda, sakit!" ringis Zena menarik pakaian sekertaris suaminya dan menarik rambut yang sudah tertata rapi.


"Nyonya, saya juga sakit!"

__ADS_1


"Tuan! Lebih baik saya yang menyetir saja, Nyonya membutuhkan Tuan," titah sekertaris Nanda.


Bersambung😘


__ADS_2