Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 173_Tidak Mengenalku?


__ADS_3

Glek,


Mata Nanda dan Jack saling bertemu. Dengan cepat, kedua pria itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak boleh!" jawab Nanda dan Jack bersamaan, membuat hati Rio semakin kesal.


Steven dan Zena hanya menyaksikan keributan yang telah dibuat anak tirinya.


Semua makanan yang sudah terjejer rapi di meja makan pun tidak ada yang menyentuhnya.


"Hentikan! " teriak Steven, "Hentikan!"


"Dad! Mereka bersalah, mereka yang--"


"Kalian semua bersalah, jangan saling menyalahkan. Sekarang, kita diam dan nikmati sarapan pagi. Aku mengumpulkan kalian di sini bukan untuk berdebat!" pekik Steven membuat semua orang terdiam termasuk istrinya sendiri.


"Mau kemana kalian!" sambung Steven saat melihat kedua bawahannya beranjak pergi.


"Sarapan pagi Tuan, maaf kami sudah membuat keributan di pagi hari dan menganggu aktivitas Tuan," jawab Jack.


"Benar Tuan," timpal sekertaris Nanda.


"Siapa yang menyuruh kalian pergi! Kita sarapan bersama!" tegas Steven, suara yang terdengar begitu lantang membuat kedua bawahannya kembali duduk di tempat.


"Sebenarnya, di sini aku yang bosnya atau kalian. Sesuka hati, pergi tanpa pamit," gerutu Steven.


"Maaf Tuan," ucap Nanda dan Jack bersamaan.


***


"A-apa, kalian mau membawaku kemana?" tanya Sheila setelah sampai di bandara.


"Sayang, kita mau kemana?" sambungnya lagi menatap pria paruh baya yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Kita akan berlibur, aku sengaja memberikan kejutan spesial ini untukmu," jawab Leo menggenggam tangan Sheila.


"Kejutan? Tapi, kau bilang ... kita akan--"


"Haha ... maafkan aku sayang, aku telah membohongimu. Sebenarnya, aku ingin mengajakmu berlibur di LA. Aku akan mengenalkan mu pada anakku yang tengah melanjutkan kuliahnya di sana," timpal Leo cepat.

__ADS_1


"Ha!"


"A-aku tidak mau, aku belum siap memperkenalkan diriku pada anakmu. Bagaimana, jika anakmu tidak menyukaiku?" jawab Sheila melepas genggaman pria paruh baya itu.


'Bisa-bisanya, aku kecolongan. Bagaimana jika, anaknya tampan. Aku tidak mau mempunyai anak tiri,' batin Sheila menarik kopernya.


"Sebentar saja, temani aku menemui anakku. Anakku menginginkanku untuk melamar kan wanita pujaannya," pinta Leo meraih lengan Sheila.


"Tidak bisa sayang, aku belum siap. Kamu juga--"


"Kita tidak mempunyai banyak waktu, pesawat akan terbang. Sebaiknya, kita masuk," titah Leo tak ingin dibantah.


"Tidak mau Mas," jawab Sheila kencang, "Jangan paksa aku, aku tidak mau, Mas!" sambungnya.


"Bukankah, ini cita-citamu, berlibur ke luar negeri dengan seseorang yang mencintaimu? Kau pernah mengatakannya beberapa hari yang lalu. Jadi, aku akan mengabulkan ucapan mu itu," jawab Leo menarik paksa Sheila agar segera berjalan dengannya.


"Ha!" mata Sheila membulat sempurna, "Salah Mas, kamu salah dengar. Aku tidak bicara seperti itu, Aku menginginkan liburan itu dengan kekasihku, kekasih yang aku cintai," ucap Sheila, beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan, karena tangan Leo yang menariknya dengan paksa.


'Walaupun sudah tua, tapi tenaganya masih oke juga. Aku tidak bisa memberontak, lebih baik aku mengalah. Lagi pula, ini kesempatan untuk Riski melancarkan aksinya,' batin Sheila menghentikan langkahnya kemudian menepis kasar tangan Leo.


"Baik, aku akan ikut denganmu. Tapi, Jangan seperti ini, aku malu dengan semua orang, Mas!" ucap Sheila lirih, matanya menatap ke seluruh penjuru ruangan.


***


Setelah mengantarkan putra dari bosnya menuju sekolah, Jack kembali melajukan mobilnya ke taman kota.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Jack sampai di taman kota. Setelah dia sampai dan memarkirkan mobilnya, Jack langsung berjalan dan menjatuhkan bokongnya di kursi tengah taman.


Hati dan pikirannya bekerja dua kali lebih cepat, bahkan dia tidak memikirkan apapun selain Jeff dan Irma.


"Aku harus bicara dengan Irma!" gumam Jack memainkan ponselnya.


"Tapi, jika aku bicara, maka kemungkinan besar ... Irma akan membenciku atau membenci kami (Aku dan Jeff), "


Cukup lama Jack terdiam di taman kota, bahkan dia melupakan semua pekerjaannya yang telah diberikan oleh Steven.


Berjam-jam, Jack terdiam tanpa berbicara, sinar matahari yang sangat terik, tidak membuat Jack mengeluh kepanasan.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, waktu belajar Rio sudah habis 1 jam lalu, ponsel yang berdering ditangannya tidak membuat Jack tertarik untuk menatap si penelpon. Sampai di mana, Jack melihat anak kecil berseragam sekolah sedang berjalan menujunya.

__ADS_1


Jarak antar sekolah Rio dan taman kota, tidak terlalu jauh. Rio yang melihat salah satu mobil Daddynya yang terparkir di pinggir taman kota pun langsung mencari keberadaan sang supir.


Setelah melihat seseorang yang sedang melamun di kursi taman kota, Rio langsung menghampiri orang itu dengan emosi yang tidak bisa ditahan.


Kakinya berlari sangat cepat, " Om!" pekik Rio saat melihat anak buah Daddy nya melamun.


"Sedang apa Om di sini! Apa Om tidak--"


"Maafkan Om, Om lupa, jika harus menjemput Rio. Jangan mengadukan ini pada Daddy ya?" pinta Jack beranjak dari tempat duduknya dan menggandeng lengan anak kecil di depannya.


"Akan aku adukan ini pada Daddy!" teriak Rio menepis tangan Jack dan berlari karena sinar matahari yang begitu menyengat kulitnya yang putih.


Melihat anak dari Tuan nya berlari, Jack langsung melangkahkan kakinya dengan lebar menyusul anak dari Tuan nya.


"Hati-hati!" teriak Jack.


Brugh!


Tiba-tiba Rio menabrak tubuh seseorang sampai terjatuh.


"Huaa ... sakit ... kaki Rio sakit, Om!" teriak Rio memegang lutut kakinya yang cedera.


Mendengar teriakan dari Rio, Jack langsung berlari dan membantu anak dari Tuan bossnya.


"Rio tidak apa-apa, kan?" tanya Jack saat melihat sedikit luka di lutut dan siku.


"Sakit Om! Kakiku berdarah," ujar Rio, "Dan semua ini, karena dia. Om ini yang menabrak Rio karena, Om ini fokus dengan ponselnya," sambung Rio.


Mendengar ucapan Rio, seketika Jack mendongakkan wajahnya. Dia melihat wajah seseorang dengan wajah yang menurutnya tidak asing.


"Kau! Sedang apa kau di sini!" pekik seseorang itu.


"Siapa kau! Berani-beraninya kau menabrak Tuan kecil ku!" teriak Jack.


"Kau benar-benar tidak mengenalku?" tanya seseorang itu dengan memicingkan matanya.


'Siapa dia? Atau mungkin, orang ini mengiraku Jeff?' batin Jack.


"Em ... aku tidak mengenalmu?" tanya Jack gugup.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2