
Sheila yang merasa pisau itu semakin mendekati tubuhnya pun langsung membuka pintu dan keluar mobil Steven.
Setelah sheila keluar dari mobilnya, dengan cepat Steven menancap gas dan keluar dari halaman kantornya,
Memikirkan istrinya yang hilang membuat keadaannya semakin kacau, bayangan istrinya yang tidur di emperan toko atau dicelakai orang yang tak dikenal membuat hati Steven ngilu
"Kembalilah Zen, aku janji jika kau kembali aku akan memperlakukanmu dengan baik, tak bisa dipungkiri aku sudah menaruh hati padamu"
"Maafkan aku Zen, maafkan aku" Ujar Steven sambil melirik kanan kiri jalan berharap dia dapat menemukan istrinya
Di bandara internasional, mobil Dave sudah terparkir mulus di salah satu parkiran yang sudah disediakan oleh pihak bandara, mereka masuk dan memesan tiket VIP untuk Zena
Setelah memesan tiket, Dave mengajak Zena untuk mengisi perutnya sebelum penerbangan di mulai
"Kita makan siang dulu, isi perutmu ingat bayi yang ada diperutmu, walaupun tak lapar tapi setidaknya isi sedikit saja" Ujar Dave menggenggam erat tangan Zena sambil berjalan menunu cafe yang berada di dekat bandara
Mereka bergandengan tangan selayaknya sepasang kekasih dan tak lupa mereka menggunakan masker untuk melindungi dirinya dari orang yang memata-matai atau yang sedang mencarinya, disetiap perjalanan menuju caffe tak henti-hentinya Dave bercerita tentang masa-masa di kampusnya, Dave sengaja melakukan itu agar temannya ini tak larut dalam kesedihan, walaupun dia tak tahu siapa selebgram itu dimata Zena, tapi dia yakin bahwa keputusannya ikut dengannya berhubungan dengan wanita selebgram itu
"Dave, maafkan aku yang sudah merepotkanmu, bagaimana caraku membalas budi padamu, bahkan sekarang kamu membelikanku tiket pesawat dan beberapa pakaian untuk persediaan di Amerika"
Dave tersenyum, dia menarik kursi untuk Zena lalu menyuruh Zena duduk
"Duduk" Titah Dave yang berjalan menuju kursi depannya dan duduk di hadapan Zena
"Kita teman, dan bukannya teman harus saling membantu"
"Oh iya mau pesan apa Zen? " Tanya Dave lagi saat pelayan datang membawa buku menu caffenya
"Samakan saja Dave" Jawab Zena tersenyum, dia mengedarkan pandangannya, dilihatnya sekeliling bandara yang akan menjadi tempat terakhirnya saksi pilu semua penderitaannya
"Aku tidak percaya kalau aku akan pergi dari negara ini Dave" Gumam Zena sambil menangkup kedua pipinya
Dave yang baru saja menyebutkan pesanannya pada pelayan pun tersenyum kaku "Kau yakin ingin ikut denganku Zen, lalu bagaimana dengan suami dan anakmu itu? " Tanya Dave mengingatkan Zena pada sosok Rio
__ADS_1
Zena menepuk jidatnya lupa "Benar Dave aku sampai lupa dengan anakku Rio, boleh aku pinjam ponselmu, aku akan menghubungi Rio sekalian berpamitan padanya" Pinta Zena memelas sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada membuat Dave langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel miliknya
"Ini, pakai saja, setelah kita sampai di Amerika, aku akan membelikanmu ponsel baru, sebenarnya aku mau membelikanmu sekarang, cuma waktu kita sudah mepet" Ujar Dave sambil menyerahkan ponselnya
Dengan sigap Zena langsung mengambil ponsel milik temannya dan memencet tombol angka di aplikasi telfon
"Bagaimana? " Tanya Dave yang tak bersuara saat ponselnya sudah di dekatkan di telinga Zena
Zena menggelengkan kepalanya pertanda telfonnya belum diangkat oleh Rio, anak tirinya
Beberapa kali Zena menelfon Rio tapi tak dijawab, setelah frustasi akhirnya panggilan ke 5 itu tersambung pada Rio anaknya
"Hallo" Ujar Rio disebrang sana yang baru saja terganggu tidur siangnya
"Sayang, ini mommy nak" Jawab Zena cepat, rasanya dia benar-benar rindu pada anaknya
Mata Rio membulat sempurna dan berbinar-binar saat Zena mengatakan bahwa yang menelfon adalah mommynya
"Mommy, mommy dimana, Rio kangen mommy"
"Mommy juga kangen Rio"
"Anak mommy sayang, maafkan mommy ya sayang..., tapi untuk sementara waktu kita tidak bisa bertemu dulu" Ucap Zena terhenti, dia mengambil nafas dalam-dalam dan menyeka air matanya yang mulai turun menuju pipinya "Setelah mommy pergi nanti, Rio jangan nakal dan nurut sama semua ucapan Daddy" Sambungnya lagi
"Mommy, mommy mau pergi kemana, mommy gak akan ninggalin Rio sendiri di sini kan mom!! Jawab Rio mom!! Rio mau ikut mommy hiks.. hiks... disini daddy jahat mom"
"Mommy dimana" Pekik Rio yang tak sengaja di dengar oleh Jeff
Jeff yang mendengar suara Tuan kecilnya menangis pun langsung masuk ke kamar Rio, karna takut terjadi sesuatu pada anak Tuan mudanya
"Tuan kecil, kenapa Tuan kecil Rio kenapa menangis" Ujar Jeff keras membuat Zena disebrang sana mendengar suara Jeff,
Tut... Tut....
__ADS_1
Panggilan telfon telah berakhir, Zena meletakkan ponselnya di atas meja
"Ada apa Zen" Ujar Dave mengambil ponselnya lalu mematikannya
"Tak apa-apa, hampir saja aku ketahuan oleh anak buah suamiku, "
"Kau sedang apa Dave? " Tanya Zena lagi saat melihat Dave mengeluarkan SIM card nya dan membuangnya kesembarang arah
"Jika aku masih menggunakan SIM card ini maka, kita akan ketahuan Zen, " Jawab Dave enteng sambil mengeluarkan SIM card baru lalu memasangnya kedalam ponselnya
****
"Selamat jalan Indonesia, negara kelahiranku dan negara yang memberikanku luka pahit,"
"Teruntuk suamiku semoga kali ini kau benar-benar bahagia bisa menjalani hidupmu dengan wanita yang kau cintai dan kau tenang saja, aku akan membesarkan anakku sendiri di negara lain" Gumam Zena saat pesawat yang ditumpanginya lepas landas, dia memandang negaranya dalam balik kaca pesawat
"Aku akan memulai hidupku yang baru, membesarkan anak tanpa seorang suami, memberikan kasih sayang yang utuh pada anakku kelak dan menjadi ibu sekaligus Ayah dari anak yang aku kandung" Ujar Zena pada Dave yang tengah memandangnya
Perlahan Dave mengusap pundak Zena, dia menarik tubuh temannya kedalam pelukannya "Menangislah, bajuku akan menerima tetesan air matamu itu, dan masalah anak yang di dalam kandunganmu, aku akan berusaha menjaganya juga seperti aku menjaga anakku kelak,"
"Masalah pekerjaan, aku akan memperkerjakanmu di caffeku disana sebagai kasir, apa kau mau?? " Tanya Dave sambil mengusap pundak Zena berulang kali, air mata Zena menetes deras membasahi baju Dave, tubuhnya bergetar hebat saat Dave memperlakukannya dengan baik dan tulus
"Sekarang tidurlah, jika sudah sampai atau makan malam datang, aku akan membangunkanmu" Titah Dave yang diangguki Zena
Perlahan Zena memejamkan matanya dan tertidur dipelukan Dave, Dave yang mendengar nafas teratur dari temannya pun tersenyum, tak sengaja dia mengecup pucuk kepala Zena "Nasibmu sungguh malang, kau temanku sampai kapanpun akan menjadi temanku, aku tidak mau temanku tersakiti oleh pria ataupun manusia lain,
"Kau wanita terkuat yang pernah aku temui Zen" Gumam Dave, tak terasa Dave tertidur sambil membalas pelukan Zena
***
Sekertaris Nanda mendapat informasi bahwa nama Nyonya mudanya masuk kedalam daftar penerbangan pesawat di bandara internasional
"Maaf Tuan, saya mendapat informasi bahwa nyonya siang tadi melakukan penerbangan ke Amerika bersama temannya yang bernama Dave, kami sudah mengecek, dan benar saja disana tertera nama Nyonya" Ujar sekertaris Nanda
__ADS_1
Bersambungš