
Mata Steven membulat sempurna saat melihat wanita yang akan menjadi calon istri Dave.
"Dave, Ibu, coba jelaskan semuanya, kenapa ada Vera di sini!" pekik Zena, dia mengingat lagi semalam temannya menceritakan bahwa ibunya terkena musibah kecelakaan, dan lawan kecelakaannya meninggal.
Bibir Zena bergetar, "M-mas, apa yang terjadi, ini tidak mungkin kan Mas," ujar Zena, tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
"Sayang," pekik Steven, dia merangkul pinggang istrinya agar tidak terjatuh ke lantai.
"Mas, aku bermimpi kan, ibu ku masih hidup kan Mas, Ibuku Mas," racau Zena, dia menangis di pelukan suaminya.
Melihat istrinya terpukul dengan kejadian ini, Steven langsung membawanya duduk di sofa yang letaknya agak jauh dari acara pernikahan.
"Kalian lanjutkan saja pernikahannya, biar aku yang menjaga istriku di sini," ujar Steven sambil mengusap punggung istrinya yang menangis.
"Ibu," panggil Zena, dia menghapus air matanya, saat melihat ibu Dave dan Dave beranjak pergi.
"Kenapa kalian tidak berbicara yang sejujurnya hah, kenapa!"
"Kenapa bu, hiks.. hikss...," sambung Zena.
Vera beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri kakak tirinya yang sedang menangis.
"Kak Zen, ibu dan Ayah sudah tidak ada hikss... hikss..., aku tidak mau menikah dengan pria itu Kak, tolong Vera ...,"
"Vera sudah mempunyai kekasih Kak, Vera sangat mencintai kekasih Vera, tolong Kak," ucap Vera menangis berlutut di depan Zena.
Dave mematung, sebenarnya dia tidak ingin mengundang Zena ke acara pernikahannya, tapi menurut ibu Dave, mau bagaimanapun Zena adalah kakak dari adik calon istri Dave.
Zena bangkit, dia menghampiri Dave, sahabatnya.
Plak!
"Batalkan pernikahannya, aku tidak mau adiku menikah dengan pria yang tidak di cintainya," pekik Zena,
"Aku juga tidak akan sudi, jika adiku menikah dengan seorang pembunuh," sambungnya lagi.
"Zen," panggil ibu Dave, matanya sudah berkaca-kaca,
"Maafkan ibu, kecelakaan itu terjadi tanpa di minta, ibu juga tidak menginginkan kecelakaan itu, dan kamu tenang saja, Ayah, ibu dan adikmu sudah dimakamkan di Jakarta," ucap Ibu Dave membuat Zena shock.
__ADS_1
"A-adik, apa maksud ibu! " pekik Zena sekali lagi.
"Adiku meninggal, Adit meninggal! "
"Mas, hidupku benar-benar hancur Mas, ibu dan adiku meninggal," gumam Zena tak percaya, dia mengusap wajahnya kasar.
"Jadi ibu mohon Zen, restui pernikahan Dave dan adikmu, karena sebelum ibumu meninggal, dia sudah menitipkan putrinya pada ibu,"
"Dan Dave akan menjaga adikmu sebaik mungkin, kita berjanji padamu Zen," ucap ibu Dave yang mendapat gelengan dari Vera.
"Tidak Kak, aku tidak mau menikah dengan dia Kak, aku sudah mempunyai kekasih Kak,"
"Kaka tega membiarkanku hidup dengan pria yang tidak aku cintai Kak, kaka tega aku di hina semua teman kampusku, jika aku menikah dengan om-om seperti teman kakak," ujar Vera memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kak, please ..., "
"Jika dia teman kakak, maka kakak saja yang menikah dengan dia!" sambung Vera membuat emosi Steven muncul kembali.
"Hei apa kau bilang, dia istriku!"
"Apa kau tidak lihat, kakakmu ini sedang mengandung anakku!" pekik Steven tak terima,
"Kak, tolong aku Kak, aku tidak mau menikah dengannya," mohon Vera kembali.
"Dave," panggil Steven, saat melihat teman istrinya diam mematung. Sebenernya Dave juga bingung, dia juga tidak mencintai wanita yang berstatus adik dari sahabatnya, tapi ibunya selalu meyakinkan jika ini terbaik untuk mereka dan Zena.
Dave sudah lama mempunyai perasaan pada Zena, dia ingin menghilangkan perasaan itu, tapi tidak bisa. Dan menurut ibunya, cara terbaik untuk menghilangkan perasaan cintanya pada Zena yaitu dengan cara menikahi adiknya.
"Dave, aku memberikan restu untukmu menikahi adik tiri dari istriku," ucap Steven sepihak.
Mata Zena dan Vera kembali membulat, mereka benar-benar tidak terima dengan ucapan Steven.
"Mas,--" ucapannya terhenti saat Steven membisikkan sesuatu padanya.
"Ini permintaan terakhir dari ibumu sayang, apa kau ingin melihatnya menangis di alam sana, karena permintaannya tidak dikabulkan olehmu?" ujar Steven, membuat Zena berfikir kembali.
"Kak, aku mohon ... aku rela pergi dari kehidupan kaka, asalkan kaka mau membantuku sekali ini saja," mohon Vera
"Dave, aku titip adikku, walaupun dia adik tiriku, tapi hanya dia yang aku punya setelah Ayahku menghilang,"
__ADS_1
"Dan kau Vera, kau tidak perlu takut menikah dengan temanku ini, dia pria baik-baik, justru Tuhan baik padamu, karena menyiapkan jodoh pria lembut," ujar Zena yang meraih tangan adiknya agar berdiri.
"Ta-tapi Kak,"
"Aku tidak bisa, aku dan kekasihku--" ucapannya terhenti saat Bibi datang dan memberitahukan bahwa acara akan dimulai, dan Bapak penghulu tidak bisa menunggu terlalu lama.
"Zen, aku meminta restu untuk menikahi adikmu. Aku berjanji, aku akan menjaga adikmu, seperti aku menjagamu" ujar Dave tersenyum kaku.
Zena mendekat pada Dave, dia sekali lagi mengusap pundak sahabatnya, "Mungkin adiku sedikit keras kepala, tapi percayalah dia orang baik,"
"Setelah acara ini selesai, aku akan kembali ke Indo untuk menjenguk makam Ibu dan Adit, aku titip Vera ya," sambungnya sekali lagi.
"Kak, kakak jahat, kaka tega membiarkanku menikah dengan pria yang tidak aku cintai, aku semakin membenci kakak," seru Vera saat Bibi membawanya kembali ke tempat duduk diikuti oleh Dave dan ibunya.
Setelah kepergian Vera dan Dave, Zena kembali menangis dipelukan suaminya, "Mas, kenapa ibu ada di sini," tanya Zena kepada Steven.
"Sebenarnya Ayah tirimu terlilit hutang yang begitu banyak Zen, bahkan Ayahmu menjual perusahaan tanpa sepengetahuan aku, pemegang saham terbesarnya, mungkin Ayahmu melarikan diri ke negara ini,"
"Kata Nanda, Ayahmu juga sedang menjadi buronan, sayang," jawab Steven jujur.
"Ya sudah, apa kamu tetap mau di sini atau kita akan melihat Dave mengucapkan ijab qobulnya," tanya Steven pada istrinya.
"Setelah Dave menikah dengan Vera, aku yakin istriku akan kembali mencintai aku," gumam Steven dalam hati
Acara ijab qobul dimulai, Dave memegang tangan penghulu erat, lalu mengucapkan serangkaian kata agar Vera menjadi istrinya secara hukum dan Agama.
"Bagaimana para saksi, Sah,"
"Sah," jawab semua saksi.
"Kalian sudah Sah, sebagai pasangan suami istri," ucap penghulu, membuat Vera menangis kencang.
Setelah acara ijab qobul selesai, hanya ada beberapa tamu yang datang dan itupun tidak begitu banyak, karena Dave memang merahasiakan pernikahannya dengan alasan bisnis, tanpa sepengetahuan Steven dan Zena.
"Maaf karena acaranya mendadak, aku tidak bisa mengundang tamu terlalu banyak," ujar Dave meminta maaf pada Zena dan mengabaikan Vera.
Disaat Dave sedang menyambut beberapa tamu, tiba-tiba perut Vera terasa mual, dan ini bukan pertama kalinya. Dia langsung berlari mencari kamar mandi.
Bersambungš
__ADS_1