
Sekertaris Nanda tak berani menatap Tuan mudanya, "Ma-maaf Tuan" Ucap sekertaris Nanda terbata-bata
"Kesalahanmu sangat fatal!! " Steven mengusap wajahnya dengan kasar, lalu pandangannya tertuju pada istrinya yang masih tertutup masker
"Buka maskermu! " Titah Steven yang dipatuhi Zena, dia langsung membuka maskernya
"Darimana kau mendapatkan benda berbahaya itu hah! darimana!! " Bentak Steven
Zena melirik sekilas sekertaris Nanda lalu menunduk lagi
"A-aku mendapatkan dari dia" Tunjuk Zena pada sekertaris Nanda dengan jarinya
Steven menghembuskan nafasnya kasar "Huh! Lalu darimana kau bisa menembak seperti tadi? Bagaimana jika mereka menembakmu" Gusar Steven
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanmu jika tertembak" Sambungnya lagi membuat Sekertaris Nanda mendongakkan wajahnya "Apa ini, Tuan mencemaskan Nyonya? " Gumam sekertaris Nanda dalam hati
"Apa hah! kenapa kau lihat aku seperti itu! ingat kau lalai dalam melakukan pekerjaan, gajimu akan aku potong 30%!! " Bentak Steven saat sekertaris Nanda menatapnya, seketika sekertaris Nanda menundukan kepalanya lagi
"Jangan Tuan, jangan potong gaji saya,"
"Saya minta maaf"
Melihat sekertaris Nanda memohon, membuat Zena tak enak hati, dia memang di didik oleh Ayahnya untuk bersikap lemah lembut pada semua orang termasuk suaminya kelak,
"Jangan potong gajinya, aku yang salah... aku yang meminta senjata itu"
"Lagipula aku aman, jangan terlalu mencemaskanku"
"Ck, siapa yang mencemaskanmu! " Ejek Steven
"Ma-maaf Tuan, jangan potong gaji saya" Ucap sekertaris Nanda yang membuat pandangan Steven tertuju lagi pada pria yang sedang meminta maaf
"Baiklah, aku akan memaafkanmu,"
"Terimakasih Tuan"
Setelah selesai berbicara pada sekertarisnya, sekarang pandangan Steven menatap istrinya kembali "Ikut aku! kau harus dihukum" Seret Steven
"Aww sakit, pelan-pelan" Ucap Zena saat pergelangan tangannya yang terluka dipegang erat Steven
"Sakit kau bilang! Apa kau tahu resikonya saat menembak hah! mungkin kau akan mati!
"Bagaimana kau bisa menembak seperti tadi? tak mungkin jika itu tembakan pertamamu" Ucap Steven mendorong tubuh Zena ke ranjang
"A-aku pernah belajar diam-diam saat Ayahku berlatih tembakan dibelakang rumah" Jawab Zena bohong, dia tak mungkin menceritakan yang sesungguhnya kalau dia diajarkan Ayahnya menembak untuk melindungi dirinya
"Lain kali, jangan lakukan ini lagi, aku tidak mau kau terluka, sekarang bersihkan badanmu, lalu kita makan malam bersama" Jawab Steven yang mempercayai ucapan istrinya
"Iya sayang" Zena berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi,
__ADS_1
Setelah Zena hilang dibalik pintu, Steven mengusap kasar wajahnya, dia berniat duduk dipinggir ranjangnya, tapi tak sengaja Steven melihat bercak darah
"Pasti rasanya sakit sekali, sampai darahnya tercecer ke sprei" Gumam Steven langsung mengganti sprei kasurnya dengan sprei yang baru, di simpannya sprei kotor kedalam cucian kotor
30 menit Zena berada di dalam kamar mandi,
Krek, pintu terbuka, Zena berjalan menuju walk in closetnya dengan cepat lalu memakai pakaian tidurnya
Cukup lama Zena berada diruang ganti, membuat Steven yang sudah menunggu bosan
Steven turun dari ranjang dan berjalan menuju walk in closet istrinya
Krek, pintu dibuka Steven, Zena yang sedang duduk pun terkejut saat pintu tiba-tiba dibuka, dia menoleh dan mendapati Steven yang menghampirinya
Sorot mata tajam dan dingin seakan membuat Zena takut
"Sa-sayang, aku fikir kamu sudah tidur" Ujar Zena
"Bagaimana aku bisa tidur, jika tak ada teman yang menemaniku"
"Dan apa kau tak ingin makan malam hah! "
"Aku tidak lapar sayang, tapi kalau kamu mau, aku bisa temani, ayo kita keluar"
"Jangan! Lebih baik kau keluar dan naik ke tempat tidurmu"
"Ta-tapi, hari ini aku sedang-" Ucapan Zena terhenti saat Steven duduk di sampingnya
Zena menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Aku tidak memikirkan apapun, ya sudah ayo kita tidur" Titah Zena berdiri tapi tangannya di pegang oleh Steven,
"Duduk! "
"Ada yang ingin aku bicarakan"
"Iya, ada apa, apa ini masih masalah penembakan itu? "
"Aku minta maaf sayang"
"Bukan, ini lebih seriuss" Steven menatap lekat wajah Zena sejujurnya dia tak rela dengan permainan yang akan dia lakukan, tapi ucapan sekertaris Nanda juga benar, hanya Zena yang bisa menyelusup masuk ke dalam geng bandit
Melihat wajah serius Steven, tiba-tiba fikiran Zena mengarah pada sheila
"Apa mungkin Steven mau memintaku untuk merestui hubungannya dengan selebgram genit itu ya? Apa Steven mau menikahinya "
"Aaa tidak-tidak, aku tidak mau dimadu" Gumam Zena dalam hati.
Tak terasa Zena membayangkan jika dirinya dimadu, dan Steven lebih menyayangi madunya daripda istri Sah nya
"Aaaaaaa" Zena berteriak kencang yang mengagetkan Steven
__ADS_1
"Hei! kenapa kau teriak!!" Pekik Steven
"Emm tidak ada apa-apa, memang kamu mau membicarakan masalah apa" Ucap Zena kikuk, dia merasa malu dengan dirinya sendiri
"Jangan berfikir aneh-aneh
"Aku ingin memberitahumu bahwa kau boleh bekerja menjadi model lagi di perusahaan SC Group tapi ingat! Jaga batasanmu,"
"Jangan pernah mengecewakan kepercayaanku" Ucap Steven yang tak rela
"Apa! " Jawab Zena terkejut lalu setelah itu dia tersenyum
"Aku tidak akan kembali keperusahaan itu sayang",
" Aku tak mau membuat masalah lagi yang akan mengancam nyawaku sendiri, lebih baik aku akan mencari pekerjaan di caffe atau di perusahaan lain tapi bukan sebagai model," Jawab Zena tersenyum pada Steven, perlahan Zena menggapai tangan Steven lalu menggenggamnya erat
"Walaupun kita menikah kontrak dan tak saling mencintai, tapi aku tidak ingin membawa duri dipernikahan kita"
Jleb,
Ucapan Zena menampar keras hati Steven
"Baiklah jika kau tak ingin bekerja di perusahaan itu maka lebih baik kau diam dirumah, aku tak mengizinkanmu bekerja dimanapun selain di perusahaan SC Group"
"Sekarang lebih baik kita tidur" Titah Steven menarik tangannya dari Zena, dia berdiri berjalan keluar walk in closet
"Kenapa perasaanku menjadi seperti ini, kenapa aku semakin tidak rela jika Zena bekerja di sana," Gumam Steven dalam hati sambil berjalan menuju ranjangnya
Melihat Steven pergi Zena langsung mengikutinya "Sayang" Zena mengikuti Steven dari belakang "Kenapa harus perusahaan mas Riski? " Tanya Zena lagi
Steven menghentikan langkahnya dia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan istrinya "Stop panggil dia dengan sebutan yang menjijikan itu! " Tegas Steven
"Aku tak suka kau memanggilnya dengan sebutan itu, paham! " Amarah Steven semakin tak bisa ditahan saat Zena memanggil musuhnya dengan sebutan itu
"Okeh, baiklah, tapi kasih aku penjelasan, kenapa kamu menyuruhku kembali ke perusahaan itu?"
"Bukankah mencari pekerjaan diluar seperti caffe akan lebih baik untuk pernikahan kita" Ucap Zena yang berhenti tak mengikuti langkah Steven, hatinya terasa sakit saat suaminya menyuruh dia bekerja di tempat pria yang menyukainya
Steven berhenti, lalu memutar tubuhnya, dia maju 3 langkah tangannya mencengkram dagu Zena, membuat Zena memundurkan langkahnya membentur tembok "Jangan banyak bertanya, lakukan saja perintahku, lagipula aku tidak memaksamu untuk kembali ke perusahaan itu!! Tapi jika kamu masih ingin melihat keluargamu hidup bahagia, maka bekerjasamalah denganku, kau kembali bekerja di perusahaan itu"
"Mengerti! "Jawab Steven sambil melepas cengkramannya kasar
Melihat Steven sudah berjalan meninggalkannya, Zena berlari menuju kamar mandi, saat sudah berada di dalam kamar mandi Zena meremas tangannya kasar
"Aku tak menginginkan lebih darimu, aku hanya ingin di cintai dan diakui sebagai istrimu oleh semua orang, walaupun sementara hikss... hiks.. "
"Kau tahu, rasa sakit cengkraman ini tak terasa di tubuhku, tapi perlakuan kasarmu membuat hatiku terasa sakit, tak bisa dipungkiri aku sudah jatuh hati padamu Steven hiks.. hiks.. " Gumam Zena lalu membasuh wajahnya dengan air
"Ayah aku kangen yah, walaupun Ayah sudah menjualku tapi aku tahu kalau Ayah sangat menyayangiku"
__ADS_1
Bersambungš