
Makasih Mas, ya sudah aku pergi dulu. Aku harus bertemu dengan teman-temanku," ujar Sheila, dia beranjak dari balkon kamarnya meninggalkan Leo sendiri yang sedang memandangnya.
"Aku harus pergi sendiri. Aku harus memastikan keadaan Riski itu di rumah sakit. Jika aku mengandalkan pria tua itu, maka aku tidak akan bergerak," gumam Sheila menuruni tangga dan berjalan menuju pintu utama.
Setelah keluar dari rumah Leo, sheila langsung memasuki mobilnya dan meninggalkan rumah itu.
"Sekarang aku harus pergi kerumah sakit. Aku harus melihat keadaan Riski, aku akan pantau dia sampai sadar," ujar sheila sambil menyetir mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya sheila tiba di rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit dan berjalan memasuki rumah sakit tersebut.
"Sus, saya mau tanya ruangan pasien bernama Riski Corth di mana?" ujar sheila kepada resepsionis.
"Maaf anda dengan siapa? karena pasien tidak boleh di jenguk sembarang orang," tanya suster itu yang menatap Sheila dari atas sampai bawah.
"Mbak, Mbak bukannya selebgram yang terkenal itu kan? boleh saya meminta foto dengan Mbak?" sambung suster lagi yang mengambil ponselnya.
"Maaf sus, saya--"
"Sebentar saja Mbak, saya fans berat Mbak," ujar suster memohon. Dia mengatupkan kedua tangannya dengan memasang wajah melasnya.
Melihat suster itu memohon, akhirnya sheila mau berfoto dengannya. Dengan syarat foto itu tidak boleh di posting di sosial media suster.
"Terimakasih Mbak, saya tidak akan memposting di sosial media," ucap suster tersenyum senang, dia melihat foto-fotonya dengan Sheila.
"Sekarang beritahu aku, di mana ruangan Riski sus," tanya Sheila lagi .
"Mbak, siapanya Tuan Riski,?
" Kami tidak memperbolehkan sembarang orang masuk ke ruangan Tuan Riski," ucap suster membuat Sheila berfikir.
"Sa-saya ... saya, kekasihnya Sus. Bolehkan saya menemui kekasih saya?" ucap Sheila tersenyum manis.
"Oh kekasihnya Tuan Riski, baiklah ... sebentar biar saya carikan dulu," ujar suster mencari nama Riski di layar komputernya.
"Tuan Riski, berada di ruangan VIP nomer 2, Mbak bisa lurus saja nanti ada arahan untuk sampai di ruangan Tuan Riski," ucap suster sambil memberikan arahan kepada Sheila.
Sheila mengangguk, "Terimakasih sus," ujar Sheila yang berjalan mengikuti arahan dari suster tersebut.
__ADS_1
Setelah melewati lorong dan beberapa ruangan, akhirnya Sheila sampai di dekat ruangan Riski yang di jaga oleh satu bodyguard suruhan Leo.
Sebelum Sheila masuk kedalam ruangan Riski, dia meminta suster yang lewat untuk bertukar posisi, karena anak buah Leo itu akan mengenalinya.
"Sus, boleh saya meminta tolong?" tanya Sheila yang bersembunyi di dinding tembok rumah sakit.
"Boleh, apa yang saya bisa bantu?" tanya Suster itu.
Sheila menyuruh Suster itu mendekat dan mulai membisikkan sesuatu, setelah selesai berbisik. Sheila mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan diberikan kepada suster.
"Sekarang, Suster ikut saya ke toilet. Dan kita akan bertukar posisi," titah Sheila yang berjalan lebih dulu.
"Baik Nona, terimakasih atas bantuan Nona,"
"Sama-sama, aku juga membutuhkan bantuanmu. Jadi sekarang kita adil, aku membantumu untuk membayar uang sekolah anak suster, dan suster membantuku menyamar menjadi suster di sini," ucap Sheila, dia memasuki kamar mandi bersama suster dan mengganti pakaiannya.
Setelah selesai berganti pakaian, Sheila keluar dengan pakaian Suster, dan suster itu keluar dengan pakaian Sheila.
"Ambil saja pakaianku ini, dan untuk pakaian suster ... saya akan kembalikan setelah saya keluar dari ruangan kekasih saya," ucap Sheila yang di angguki Suster.
Di saat Sheila bercermin untuk merapihkan penampilannya, dia tak lupa memakai maskernya agar tidak ketahuan oleh anak buah Leo.
"Suster bisa menelfon saya untuk pakaian suster ini, atau aku beli saja pakaian Suster ini," tawar Sheila mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lagi kepada suster.
"Terimakasih Nona, terimakasih banyak. Saya senang bekerjasama dengan anda," ujar suster menerima uang itu dan berjalan meninggalkan Sheila.
Sheila tersenyum sinis saat melihat kepergian suster yang membantunya, "Di dunia ini, jika ada uang ... semuanya akan terlihat lebih mudah," gumam Sheila berjalan keluar dari toilet.
Dia berjalan menuju ruangan Riski sambil membawa beberapa lembar kertas data pasien.
"Maaf, saya ingin mengecek keadaan pasien," ujar nya saat bodyguard Leo mencegah langkahnya.
"Saya periksa dulu," titah bodyguard itu yang melihat kertas lalu merogoh saku pakaian suster.
"Anda sangat tidak sopan, berani-beraninya anda memegang tubuh saya. Saya bisa laporkan ini sebagai tindakan pelecehan," ujar Sheila kesal, dia berjalan masuk ke ruangan Riski.
"Jadi kamu yang bernama Riski," gumam Sheila berdiri di samping ranjang Riski dengan sesekali pandangan melirik pintu ruangan.
__ADS_1
"Cepat sadar, aku membutuhkanmu untuk membalaskan perbuatan Steven padaku. Bukankah jika kau sadar, kita mempunyai tujuan yang sama, kamu terluka seperti ini karena Steven kan?" sambungnya lagi.
Di saat Sheila ingin memegang tangan Riski, tiba-tiba bodyguard itu datang.
"Jika sudah selesai, anda boleh keluar," ucap bodyguard Leo kepada Sheila yang sedang berpura-pura sebagai suster.
"Saya akan memeriksa keadaannya dulu, lebih baik anda jangan ganggu saya," titah Sheila membuat bodyguard itu keluar ruangan.
Melihat bodyguard itu pergi, Sheila memegang tangan Riski memastikan denyut nadinya.
"Aku harus menemui dokter yang menangani Riski," gumam Sheila berjalan keluar ruangan.
***
"Dad! Rio mau es krim," ujar Rio saat sudah berada di dalam mobilnya.
"Es krim?" ulang Steven dengan pandangan menuju istrinya yang sedang bermain ponsel.
Melihat suaminya menatapnya, membuat Zena mematikan ponselnya, "Bukan aku Mas, aku tidak menyuruh Rio. Serius!" bela Zena kemudian mengusap perutnya yang buncit.
"Akhirnya, setelah Rio meminta es krim, pasti Mas Steven akan membelikan, dan otomatis aku juga dibelikan," gumam Zena dalam hati, dia tersenyum puas saat anak tirinya menuruti permintaannya.
Dan Jeff yang sedang menyetir pun menggelengkan kepalanya, "Nyonya, ternyata satu es krim saja tidak cukup," batin Jeff menatap Zena dari kaca spion.
"Ya Dad! Rio mau es krim. Om kita berhenti di sana, Rio mau beli es krim," titah Rio pada Jeff.
"Aku juga Mas, Mas tidak kasihan melihat anakmu di sini. Jangan pilih kasih," ujar Zena saat Steven menghembuskan nafasnya kasar.
"Mommy mau es krim apa? biar Om Jeff membelikannya untuk kita," ucap Rio membuat Zena tersenyum senang.
"Coklat dua sayang," jawab Zena membuat Steven melototkan matanya.
"Sayang, aku tidak mengizinkanmu memakan es krim," protes Steven.
"Dan Rio, kita tunda memakan es krim nya sampai adik Rio lahir ya?" ucap Steven membuat Zena melemas.
"Gagal lagi," batin Zena.
__ADS_1
Bersambungš