Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 183_Bugh!


__ADS_3

Seketika emosinya kembali memuncak, tak menyangka mereka akan berbuat jauh dari perkiraannya.


Brak ....


Pintu dibuka paksa oleh Steven, dan dua orang yang sedang berbicara serius pun terdiam sambil menoleh pintu ruangan.


Jack yang melihat Steven pun cukup terkejut, betapa bodohnya dia tidak mengunci pintu ruangan kekasihnya.


"Tuan ... Tuan sedang apa?" tanya Jack gugup begitu juga dengan dokter Irma, dia diam sambil menitikan air matanya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Sedang apa kau di sini, ha!" pekik Steven, tangannya mengepal erat.


Bugh!


Bugh!


"Tuan, jangan lakukan ini. Kasihan Mas Jeff!" Irma mencoba menghentikan pukulan yang diberikan Steven pada Jack.


"Pergi! jangan halangi aku untuk memukul bajingaaan sepertinya. Dia tidak pantas di lindungi!" pekik Steven membuat Irma memundurkan langkahnya.


Bugh!


Bugh!


"Kau pantas mendapatkan semua ini! kau tahu, kesalahanmu sungguh fatal!" teriak Steven saat tubuhnya sudah di atas tubuh Jack.


"Maafkan saya, saya khilaf. Saya memang bersalah, dan saya akan menebus semua kesalahan saya!" ucap Jack dengan wajah babak belurnya.


"Dengan cara apa Jack! kau tega mengkhianati adikmu sendiri, Jeff!"


Deg!


Jantung Irma seakan berhenti saat mendengar ucapan dari suami pasiennya.


"Ja-jack? si-siapa Jack?" tanya Irma sambil menggelengkan kepalanya, "Dia Mas Jeff kan?"


"Kau, gampang sekali dibodohi olehnya. Asal kau tahu, dia bukan Jeff, dia adalah Jack, kembaran dari Jeff." ucap Steven.

__ADS_1


Bugh!


Bugh!


"Kau harus mengakui semuanya di depan Jeff, dan kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan mu!"


"Ba-baik Tuan, saya akan bicara jujur dengan Jeff, tapi biarkan Jeff memulihkan kesehatannya dulu, saya tidak mau melihat Jeff melakukan hal bodoh lagi seperti dulu," jawab Jack memegang sudut bibirnya yang robek.


"Aku tidak mau tahu, sekarang kau jelaskan. Kalian berdua ikut aku ke ruangan dan bertemu dengan Jeff," titah Steven bangkit dari atas tubuh Jack.


"Aku-aku tidak tahu maksud kalian. Aku masih tidak percaya dengan semua yang kalian katakan!" ucap Irma bergeming.


"Ikut aku, dan semuanya akan jelas," titah Steven.


Melihat Irma beranjak dari tempat duduknya, seketika tubuh Jack bersujud dihadapan wanita tersebut sambil tangannya mengatup di depan dada.


"Ir, please! Aku mohon ... jangan bicarakan apapun di depan Jeff. Aku takut dia akan berbuat nekat atau mengakhiri hidupnya dengan tragis. Hanya dia yang aku punya di dunia ini, aku sangat menyayanginya, walaupun dia menyebalkan," mohon Jack.


"Berdiri Mas, berdiri!" teriak Irma membuat mau tak mau Jack berdiri.


"Maafkan aku ir! Maafkan aku," gumam Jack lirih, "Aku salah, aku sudah merahasiakan identitas asliku padamu," sambungnya lagi.


Satu tamparan mendarat mulus di pipi kanan Jack, membuat pipi putih itu berubah warna menjadi merah merona.


"Maaf! kau bilang maaf! kau sudah membohongiku! jika Tuan Steven tidak datang, apa kau tetap akan membohongiku, Mas!" teriak Irma, tangannya gemetar, hatinya terasa sakit.


"Sakit Mas, sakit! aku mencintai Mas Jeff bukan Jack atau lainnya! Pantas sikap Mas Jeff akhir-akhir ini berubah, ternyata yang aku temui bukan Mas Jeff ternyata Jeff palsu!"


"Irma, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya ingin mengorek informasi kenapa adikku bisa sampai koma, udah itu saja."


"Apa menurutmu, aku penyebab Mas Jeff koma?"


"Aku benci kamu!" teriak Irma lalu berjalan menuju pintu ruangan, "Tuan Steven, di mana Mas Jeff, aku ingin bertemu!" ucap Irma sambil menghapus air matanya.


"Dia ada di ruangan Zena. Oh iya, Zena ingin melihat anaknya, aku meminta izin untuk mengambil anak laki-laki untuk dibawa ke ruangan Zena," titah Steven berjalan menuju dokter Irma.


"Silahkan Tuan, tapi untuk bayi perempuan sebaiknya jangan dulu. Dia membutuhkan penanganan yang insentif," titah Irma kemudian pergi berlari.

__ADS_1


'Kenapa aku bodoh! Kenapa! kenapa aku bisa melakukan hal bodoh, seharusnya kau sadar Irma. Seharusnya kau lebih teliti, jika sudah seperti ini, semuanya akan hancur. Bagaimana caraku meminta maaf pada Mas Jeff, apa dia mau memaafkan kesalahanku yang sangat fatal?' batik Irma menjerit, tak henti-hentinya dia mengusap wajahnya dengan jas dokter yang dikenakan.


"Irma!" cegah dokter Riyan merentangkan kedua tangannya saat melihat teman wanitanya menangis, "Ada apa?" tanyanya lagi.


"Riyan ... hiks ...," Irma memeluk dokter Riyan menumpahkan semua air matanya di jas teman prianya.


"Kenapa, hem? ceritakan padaku, ada apa?" tanya Riyan mengusap punggung temannya.


"Dia-dia bukan Mas Jeff," ucap Irma sesenggukan.


Deg!


'Jadi, Irma sudah tahu? tapi siapa yang memberitahunya? bukankah mereka sudah menghilang?' batin Riyan sambil mengusap dan menenangkan teman wanitanya, "Dari mana kau tahu, bukankah ... katamu, dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar?" tanya Riyan penasaran, "Kita duduk ya? dan jelaskan semuanya padaku," sambung Riyan kembali.


Irma menggelengkan kepala, dia melepas pelukannya dari teman prianya, "Aku tidak bisa menceritakan semuanya sekarang, aku harus menemui Mas Jeff, dia ada di sini," ucap Irma menghapus air matanya.


"Jangan menangis Ir, jika Jeff tahu, kau menangis. Pasti dia akan bersedih, hapus air matamu," titah Riyan memberikan tissue.


"Terimakasih," ucap Irma mengambil tissue yang diberikan dokter Riyan.


"Aku temani ya, aku takut terjadi sesuatu padamu. Apalagi di sana ada Nyonya dan Tuan Steven," ucap dokter Riyan yang diangguki Irma.


Akhirnya mereka berjalan berdua menuju ruangan pasien dokter Irma dengan Riyan merangkul teman wanitanya yang sedari tadi mengeluarkan air matanya.


"Jangan menangis, kita hampir sampai, dan bukankah jam kerjamu sudah habis? seharusnya, kau pulang?" tanya Riyan melirik sekilas pada Irma.


"Aku sengaja ingin merawat baby twin's 24 jam. Aku gemas dengan perkembangan bayi perempuannya, juga ada sedikit rasa cemas, takut jika aku tinggal, tiba-tiba keadaannya memburuk," jawab Irma, "Aku seperti orang menangis tidak?" tanya Irma lagi, langkahnya terhenti dan wajahnya menatap teman prianya.


"Tidak, tidak. Kau cantik jika tidak menangis," ucap dokter Riyan membuat Irma sedikit menarik kedua sudut bibirnya, "Ya begitu dong, senyum ... jangan nangis terus, kasihan air matamu, bisa-bisa habis," canda dokter Riyan.


"Aku kecewa dengan mereka, bisa-bisanya Mas Jeff palsu menyamar dan dengan bodohnya, aku tidak menyadari itu semua," ucap Irma, matanya kembali mengembun.


"Aku sudah peringatkan berulang kali, bukan? tapi tetap saja kau tidak mau mendengarkan pendapatku!" jawab dokter Riyan membuat langkah Irma terhenti.


"Apa maksud mu? apa jangan-jangan selama ini, kau sudah tahu, kalau yang berada di dekatku kemarin bukan Mas Jeff! Katakan, dokter Riyan!" pekik Irma.


"Ir! jaga nada bicaramu, di sini banyak pasien yang harus beristirahat, ingat! di sini ... kau dokter, dan dokter tidak pantas berbicara seperti itu!" jawab dokter Riyan dengan tegas.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2