Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 158_Menolak


__ADS_3

Krek ...


Pintu terbuka dari luar, dan menampilkan sosok dokter Riyan menuju arahnya.


"Ketuk pintu dulu. Kamu tidak bisa seenaknya masuk ke ruangan orang!" ketus Irma saat melihat rekan kerjanya menutup pintu ruangannya.


"Apa ... ada masalah lagi?" tanya dokter Riyan menjatuhkan bokongnya di kursi.


"Siapa yang menyuruhmu kemari hem? Bukankah, ini jam kerjamu?Sejak kapan, temanku menjadi suka bolos bekerja?"


"Apa ada masalah?" ulang dokter Riyan mengabaikan pertanyaan temannya.


"Aku? Ada masalah? Menurutmu?"


"Lebih baik, kamu pergilah ... aku sedang ingin sendiri!" usir Irma.


"Aku akan pergi, setelah memastikanmu baik-baik saja. Sekarang, ceritakan semuanya. Apa masalah yang sedang kau hadapi? Atau ini masih menyangkut dia?" tanya dokter Riyan mengambil kue milik temannya.


"Aku-aku sedang bertengkar dengan Mas Al, dia membuatku kesal. Bagaimana bisa, dia tidak merestuiku dan menjodohkanku dengan pria lain. Aku sudah besar dok! Aku bukan anak kecil yang harus mematuhi semua aturannya. Aku berhak menentukan keputusan untuk masa depanku sendiri!" ujar Irma dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Oh ... masalah restu," jawab dokter Riyan santai.


"Oh!" ulang Irma tidak percaya, "Aku bicara panjang lebar, dan dokter hanya menjawabnya dengan satu kata?" sambungnya lagi, "Lebih baik dokter keluar! Bukannya merubah mood malah tambah merusak mood!"


"Santai saja, aku belum selesai bicara," jawab dokter Riyan sambil menelan kue coklatnya, "Untuk apa, kamu memikirkan restu? Memangnya, kamu bisa mendapatkan hati pria itu kembali? Bukankah, kamu sudah menolaknya? Menurutku sebagai seorang pria, jika ... pria sudah ditolak oleh wanita incarannya berulang kali, pasti secara perlahan akan mundur lalu menghilang. Bukankah, kamu pernah bicara, jika dia sudah membencimu?" ujar dokter Riyan membuat Irma bungkam.


"Kenapa diam? Ucapanku benar?" tanya dokter Riyan lagi, "Sudahlah, jika kalian berjodoh, pasti suatu saat akan dipersatukan. Tapi, jika kalian tidak berjodoh, ya kamu ... harus bersikap lapang dada, ini juga kesalahanmu, kenapa sewaktu itu ... kamu menolak cintanya?" sambungnya lagi.


"Tapi--"


"Tapi apa? Menyesal?" tanya dokter Riyan diangguki Irma. Dia berjalan mendekati rekan kerjanya.


"Dok, aku minta tolong ... boleh?" ujar Irma tersenyum manis.


"Aku tidak ada waktu, lagipula ... aku sudah diusir olehmu," jawab dokter Riyan beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Tunggu!" cegah Irma memegang lengan temannya, "Siapa yang mengusirmu, bukankah ... sebagai teman, sudah seharusnya saling membantu?" ujar Irma tersenyum manis, dia berusaha menjatuhkan tubuh teman laki-laki nya di kursi.


"Aku sibuk, Ir ...."


"Sebentar saja, kita teman ... sahabat ... bestfriend ... dan forever," rayu Irma mendorong kotak kue coklatnya kearah temannya.


"Apa? Apa yang kamu butuhkan dariku?" tanya dokter Riyan malas, dia melirik sekilas jam yang berada di ruangan rekan kerjanya.


"Aku mau kamu ... meyakinkan Mas Jeff, maksudku begini ... aku mau bertemu Mas Jeff lagi, dan aku akan menerima cintanya, aku akan berusaha mendapatkan hatinya kembali, ya mungkin ... dia masih marah dan benci padaku, tapi ... saat aku melihat kepribadiannya, dia bukan tipe orang pendendam," ujar Irma memegang tangan temannya, "Mau kan? Sekali ini saja,"


"Aku? Membantumu? Yang benar saja, aku bahkan tidak mempunyai nomernya, dan kau tahu sendirikan ... aku tidak dekat dengannya," jawab dokter Riyan menarik tangannya, "Aku tidak mau! Buang-buang waktuku saja!" sambungnya lagi.


"Please ...."


"Tidak! Aku bilang, tidak ya tidak! Lagipula aku kemari, karena Kakakmu yang menelfon," tolak dokter Riyan mentah-mentah.


"Aku tidak mau dijodohkan,"


"Ya, kalau tidak mau dijodohkan ... lebih baik menurut apa yang dikatakan Kakakmu!" ujar dokter Riyan beranjak dari tempat duduknya.


"Aku tidak mau dijodohkan olehmu! Kakakku bilang, kalau dia menyukaimu," teriak Irma menghentikan langkah Riyan yang baru saja melangkah.


"Apa! Dia mengatakan aku apa? Cerewet?" ucap Irma tidak percaya, "Hei! Aku juga tidak mau, dijodohkan dengan manusia setengah jadia-jadian sepertimu!" pekik Irma saat pintu ditutup keras oleh temannya.


***


"Bagaimana sayang? Kamu sudah siapkan, untuk menikah denganku?" tanya Leo.


'Siap dari hongkong, mana mau aku menikah dengan pria tua sepertimu,' batin Sheila kesal.


"Aku-aku belum siap sayang, aku sudah memikirkan berulangkali, jika aku belum siap menikah. Kamu tahukan, aku sedang mengembangkan karir ku yang sempat ancur karena perbuatan Steven," jawab Sheila menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Leo.


'Jika bukan karena pria gila itu, aku tidak akan sudi menemuinya lagi,' batin Sheila meremas ujung gaunnya.


"Aku akan menunggumu sayang, sekarang ... kita ke kamar," bisik Leo membuat Sheila menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Emm aku-aku ... sedang menstruasssi Mas, maafkan aku," jawab Sheila tersenyum kaku. Dia memperlebar jaraknya dengan Leo.


"Oh ... ya sudah, emm ... jika--"


"Mas, aku harus pergi, aku sudah ada janji dengan teman-temanku, maafkan aku, Mas," timpal Sheila cepat.


"Biar aku antar, aku ingin berkenalan dengan teman-temanmu juga. Dan aku akan mentraktir semua teman-temanmu."


"Ja- maksudku tidak usah Mas, ini bukan urusanmu. Lagian teman-temanku malu, jika membuat konten tiba-tiba ada pria yang datang," jawab Sheila cepat, dia beranjak dari tempat duduknya.


"Aku antar, biar aku yang mengantarkan sayang, aku masih merindukanmu. Kau tahukan, kita sudah lama tidak bertemu," ucap Leo tidak ingin dibantah.


"Ta-tapi Mas,"


"Aku tidak mau ada tapi-tapian, sekarang ... aku akan antar kamu," titah Leo, kemudian memerintahkan pak supir, untuk menyiapkan mobilnya.


"Aku tunggu di depan Mas, kamu bersiap-siaplah dulu. Aku tidak mau, kamu memakai pakaian seperti ini, di saat bertemu dengan teman-temanku," titah Sheila diangguki Leo.


"Baiklah sayang," jawab Leo mencium pipi Sheila sekilas.


'Sungguh menjijikkan, tapi bagaimana lagi ... aku terpaksa karena pria itu yang menginginkan hartanya kembali,' batin Sheila lalu tersenyum pada Leo.


"Kamu tidak mau membalas kecupanku, sayang?" tanya Leo membuat mata Sheila melotot.


"Apa Mas? Membalas? Oh iya ... iya, pasti dong, ini aku akan membalas kecupan dari pacarku tersayang," ujar Sheila mendaratkan kecupan di pipi Leo yang sedikit keriput.


"Lagi ...," rengek Leo menunjuk pipi bagian kirinya.


'Ini aki-aki makin nglunjak,' batin Sheila lalu mencium pipi sebelah kiri.


"Ya sudah Mas, lebih baik ... sekarang Mas, bersiap-siap. Aku tidak mau telat," ucap Sheila menatap jam di pergelangan tangannya.


"Tunggu aku di depan," titah Leo kemudian pergi menuju kamarnya.


Melihat kepergian Leo, Sheila langsung menghubungi Riski dan segera meminta bantuan.

__ADS_1


"Hallo, cepat kemari ... dan bantu aku!" bisik Sheila saat panggilannya sudah terhubung.


Bersambung😘


__ADS_2