Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 154_Kedatangan Dinda


__ADS_3

"Steve, aku bisa jelaskan, dengarkan aku dulu," cegah Dinda berlari menarik lengan mantan suaminya.


"Lepaskan! Tindakan mu ini sangat tidak wajar!" titah Steven mulai emosi.


"Aku tidak akan melepaskanmu Steve, aku mau kita balikan dan aku janji, aku akan menyayangi anak kakakmu itu. Aku dengar, dia sudah sadar dari komanya?" ucap Dinda basa basi.


"Jangan harap aku mau kembali dengan wanita seperti mu. Hanya mementingkan harta dan gaya," jawab Steven menepis tangan Dinda yang melingkar di lengannya.


"Steve, apa tidak ada sedikit perasaan cinta untukku?"


Seakan tuli, Steven tetap berjalan dan memasuki mobilnya. Kali ini moodnya benar-benar ancur. Bagaimana bisa setelah urusannya dengan Sheila selesai, datanglah wanita ular baru yang menurutnya akan merusak rumah tangganya.


'Lihat saja nanti, aku akan mengambilmu lagi Steve, ternyata sekarang kamu sudah sukses, tidak seperti dulu. Aku menyesal telah meninggalkan mu,' batin Dinda menatap kepergian mantan suaminya.


Di dalam mobil, Steven berusaha menghubungi sekretarisnya sekaligus sahabatnya,


Tidak membutuhkan waktu lama untuk panggilannya diangkat.


"Ada apa menelfonku malam-malam begini?" tanya Nanda melihat jam di dinding kamarnya.


"Panggil Fahri dan lainnya untuk mengawasi rumahku lagi. Oh iya, perketat penjagaan di depan gerbang, jangan ada siapapun yang mengizinkan tamu masuk sebelum aku memberikan izin," perintah Steven membuat Nanda kebingungan.


"Memangnya ada apa? Ada masalah di rumahmu?"


"Lakukan saja sesuai perintah. Dan satu hal lagi, perketat kantor. Tutup semua mulut karyawan yang melihat Zena, jangan pernah bicara pada orang luar, jika aku membawa istriku ke kantor," ujar Steven lagi.


"Tidak ada yang tahu jika Zena istrimu, Steve. Mereka mengira, jika Zena simpananmu. Aku cape, aku mau tidur. Beberapa hari ini tubuhku terasa lelah karena merangkap pekerjaanmu juga, seharusnya kamu menghubungiku untuk memberi cuti, bukan menambah masalah baru," jawab sekertaris Nanda memeluk bantal gulingnya.


"Menikahlah, lalu aku akan memberikanmu cuti sehari," ketus Steven mematikan telfonnya membuat sekertaris Nanda mengumpat kesal.


Ke esokan harinya, sekertaris Nanda datang lebih awal dengan membawa beberapa anak buahnya.


"Sayang, kenapa banyak anak buahmu di sini?" ucap Zena heran saat melihat beberapa pria berpakaian hitam sedang berjejer rapi di ruang tamu yang di ketuai oleh sekertaris Nanda.


"Aku tidak tahu, Nanda yang membawa mereka semua," jawab Steven enteng, membuat sekertaris Nanda melototkan matanya.


"Aku dan Mas Steven tidak membutuhkan bodyguard atau pengawal atau satpam atau lainnya, lebih baik kamu bawa mereka pergi," titah Zena berbisik pada sekertaris Nanda.

__ADS_1


"Ta-tapi Nyonya?"


"Sudahlah sayang, Nanda menginginkan yang terbaik untuk keluarga kita. Terima saja bantuannya," ucap Steven menengahi perdebatan antara istri dan sekertarisnya.


Tingg ... Tonggg ...


Bel rumah berbunyi.


"Siapa yang datang Mas?" tanya Zena saat mendengar bunyi Bel.


"Tidak tahu, aku tidak mengundang tamu," jawab Steven, "Apa mungkin Jack yang baru saja tiba, dia bilang mau kembali siang atau pagi ini," sambungnya lagi.


"Oh, Jack toh," ucap Zena menganggukan kepalanya, "Bi ...," panggil Zena.


"Iya Nyonya," jawab Bi Sari berlari menghampiri istri majikannya.


"Tolong bukakan pintu," titah Zena kemudian menggandeng lengan suaminya menuju meja makan..


"Rio di mana sayang?" tanya Steven saat berjalan menuju meja makannya.


"Sudah berada di meja makan Mas, aku sudah menyuruhnya berjalan lebih dulu," ujar Zena diangguki Steven.


"Ada apa Bibi berlari, memang siapa yang bertamu pagi-pagi ini Bi?" tanya Zena saat melihat raut wajah cemas ketua pelayan.


"Anu Nyonya, di depan ada --"


"Ada siapa Bi? Jack?" tebak Zena.


"Bukan Nyonya, tapi ... Tuan, Tuan di depan ada--"


"Hai semuanya ...," teriak wanita yang baru saja masuk ke dalam rumah mantan suaminya. Rumah yang pernah di tinggali selama 2 tahun saat menjadi istri Steven.


Mendengar suara wanita, mata Zena menatap sumber suara, terlihat wanita cantik dengan tubuh bak gitar spanyol sedang berjalan menujunya.


Mata Steven membulat sempurna, niat hati ingin menyembunyikan identitas istrinya, tetapi belum sempat, dia menjalankan rencananya, tiba-tiba wanita yang sedang dihindarinya datang ke kediaman rumahnya.


"Hai sayang, masih ingat dengan tante?" ucap Dinda basa basi. Dia mengecup pipi gembul Rio dan memberikan satu paper bag berisi mainan keluaran terbaru untuk anak sambung suaminya.

__ADS_1


"Rio tidak mengenal tante, mungkin tante salah alamat," jawab Rio ketus.


'Anak ini benar-benar mengesalkan. Awas saja, jika aku sudah menjadi istri Steven lagi, aku pastikan akan menendangmu dari rumah ini dan menjamin hidupmu menjadi gelandangan,' batin Dinda tetap tersenyum menatap Rio yang sudah memalingkan wajahnya.


"Steve, aku juga memberimu ini," ucap Dinda mengangkat paper bag yang berisi makanan ke udara.


Steven menelan saliva nya susah, saat melihat istrinya meremas garpu dan sendok yang dipegangnya.


"Tidak perlu, lebih baik kamu pergi dari sini. Bukankah semalam aku sudah memperingatimu agar tidak mengganggu keluarga ku lagi," ketus Steven mengusap pundak istrinya.


Dinda melihat wanita di samping Steven, "Dia istrimu Steve atau simpanan mu? Kau memang tidak pernah berubah, selalu bermain wanita di belakang kekasihmu," ucap Dinda berbohong.


Prangg ...


"Aku sudah selesai sarapan paginya," ucap Zena beranjak dari tempat duduknya.


"Hati-hati sayang," titah Steven.


"Mom, yang benar jalannya. Rio tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada adik Rio," titah Rio saat melihat raut wajah Zena berubah.


"Iya sayang," jawab Zena tersenyum menatap putra tirinya.


"Oh iya mbak, Mbak ada urusan apa kemari?" tanya Zena menatap wajah wanita di hadapannya.


"Perkenalkan nama saya, Dinda, saya mantan istri dari Steven," ucap Dinda mengulurkan tangannya pada Zena, 'Aku jamin, wanita ini akan marah lalu meninggalkan Steven,' batin Dinda tersenyum puas.


"Oh mantan," jawab Zena enteng, "Perkenalkan saya Zena, istri Sah dari Mas Steven yang sedang mengandung buah hatinya," ujar Zena tersenyum menang lalu menjabat tangan Dinda.


Steven tersenyum saat melihat ekspresi istrinya yang tiba-tiba berubah.


'Syukurlah, aku takut, dia akan marah,' batin Steven menatap perdebatan sengit itu.


'Oh tidak, bukankah ini semacam reuni?' batin sekretaris Nanda saat melihat mantan istri dan istri sah dari Steven saling menatap tajam.


"Senang bertemu denganmu Mbak Dinda, oh iya ... Mbak silahkan duduk, biar saya perintahkan Bibi untuk membuatkan minum," ujar Zena menarik tangannya.


'Kenapa dia tersenyum, bukankah, seharusnya dia marah, karena aku memperkenalkan diriku sebagai mantan istri Steven,' batin Dinda menggeser kursi lalu menjatuhkan bokongnya.

__ADS_1


"Bi ... buatkan minuman untuk Mbak Dinda," pekik Zena mengusap perutnya yang sudah buncit.


Bersambung😘


__ADS_2