Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 91_Cerai


__ADS_3

"Hentikan! dia bukan suaminya! aku suami asli dari pasien di dalam! " Pekik Steven saat mendengar dokter Rima menyebutkan kata istri pada Dave


Dokter Rima melirik Steven lalu mengkerutkan keningnya,"Maaf, anda berbicara dengan saya? " Tanya dokter Rima sambil menunjukkan tubuhnya dengan salah satu jemarinya


"Kau! " Geram Steven,"Menurutmu aku sedang bicara dengan siapa hah! hari ini juga aku akan pindahkan istriku ke rumah sakit yang terkenal bagus pelayanan! " Sambung Steven dengan emosi,


Melihat Steven emosi, Dave langsung masuk kedalam ruangan Zena, dia mengabaikan Steven yang sedang bertengkar dengan dokter.


"Zen, bangun Zen.. " Ujar Dave mengusap punggung tangan temannya.


"Bangun... kata dokter kamu baik-baik aja, sekarang bangunlah Zen"


Di dalam mimpinya, Zena merasakan tetesan demi tetesan air yang jatuh diatas punggung tangannya, perlahan dia membuka matanya "A-aku dimana" Tanya Zena saat melihat setiap sudut ruangan yang serba putih


"Zen, kau sudah sadar"


"Apa masih ada yang sakit, jika ada.. beritahu aku, agar aku bisa memanggil dokter" Ujar Dave yang bangkit lalu memeluk Zena sekilas


Zena melepaskan pelukan temannya lalu tersenyum "Aku sudah baik Dave,"


Dari depan pintu, Steven yang baru saja masuk, melihat Dave yang memeluk istrinya


"Kau!! terbuat dari apa otakmu hah! tadi kau mengaku menjadi suami Zena di depan dokter, dan sekarang dengan lancangnya, kau memeluk istriku di depan aku.. yang berstatus suaminya"


"Apa otakmu sudah gila atau sudah tidak berfungsi hah! " Seru Steven yang menjauhkan Dave dari istrinya


Dave tersenyum, dia tertawa renyah saat Steven mengucapkan kata 'suami' membuat Steven yang melihatnya semakin geram dan kesal.


"Hei bocah!" Tunjuk Steven yang sudah bersiap-siap melayangkan bogeman mentahnya pada Dave


"Jadi kau suami Zena? suami yang kesehariannya menyiksa istrinya diatas ranjang?" Ejek Dave, dia berjalan menuju Zena yang sedang berbaring


"Lebih baik, kau bercermin... lihatlah kesalahan apa saja yang pernah kau lakukan pada Zena, dan apa Zena bahagia saat bersamamu?"


"Apa kau pernah berfikir, jika istrimu pernah di culik oleh psikopat, dia sampai harus kabur memanjat dinding tembok yang tinggi agar bisa bebas,"


"Emm apa kau pernah mengerti perasaannya selama ini? raga dan batinnya sangat tersiksa"


"Oh iya, satu lagi...aku sama sekali tidak menyuruh atau membawa Zena untuk pergi bersamaku, dia yang menginginkan ikut denganku, bahkan aku sudah berulang kali memastikan keputusannya, jadi berhentilah menyalahkanku!! " Seru Dave yang lelah dengan ocehan Steven


"Dave" Lirih Zena, dia menggenggam tangan temannya ini agar tenang,


"Lepas Zen, aku benar-benar sudah muak dengan semua tuduhan suamimu, lihat! sekarang lihat!! karna suamimu... kamu masuk kedalam rumah sakit! " Kesal Dave yang berjalan menjauh dan duduk di sofa, tanpa sepengetahuan mereka, Dave menarik salah satu sudut bibirnya


Melihat istrinya menatap pria lain dan mengabaikan dirinya, membuat Steven merasa semakin bersalah

__ADS_1


"Zen" Panggil Steven lirih,


Pandangan Zena beralih pada Steven, suaminya


"Hai mas,"


"Sudah lama kita tidak bertemu," Ujar Zena tersenyum manis "Aku fikir kamu sudah lupa denganku" Sambungnya lagi membuat Steven memudarkan senyumnya yang baru saja dia terbitkan untuk istrinya


"Zen" Panggil Steven lagi, kali ini dia benar-benar ingin meminta maaf pada istrinya


"Iya mas,"


"Ka-kamu hamil anakku? " Tanya Steven kaku, lidahnya terasa kelu saat ingin mengucapkan kata maaf


Zena menghembuskan nafasnya kasar lalu menganggukan kepalanya "Iya mas, tapi...tolong... setelah anakku lahir, jangan pisahkan aku dengan anakku mas, aku belum siap mas," Lirih Zena, dia memalingkan pandangannya pada suaminya


Steven mengambil kursi, dia duduk di dekat ranjang Zena "Aku tidak akan memisahkan anak kita dengan ibunya" Ucap Steven, dia meraih tangan istrinya dan mengecup beberapa kali membuat Zena bingung.


"A-apa maksudmu mas" Tanya Zena bingung


"Emm... aku... aku... " Ujar Steven ragu,


"Aku apa mas? "


"Mau? " Tanya Zena semakin penasaran, karna wajah Steven tiba-tiba menjadi kaku


"Aku... mau... " Steven menjeda ucapannya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Mau?? " Tanya Zena lagi


"Mau... aku mau... "


"Ah sudahlah mas! jika kamu ragu berbicara denganku, lebih baik tidak usah berbicara, karna kamu akan membuatku penasaran! " Ketus Zena, dia berusaha bangkit dari tempat tidurnya


Steven yang melihat pergerakan istrinya pun langsung membantu meletakan bantal ke punggung istrinya.


"Aku bisa sendiri! " Ketus Zena, dia masih penasaran dengan apa yang akan diucapkan suaminya


Dave tersenyum saat melihat interaksi sepasang kekasih yang menggemaskan di hadapannya.


Sebelumnya dokter riyan sudah memberitahukan wajah steven dan keberangkatan Steven menuju AS untuk menyusul istrinya pada Dave, dan Dave memang sengaja memancing amarah Steven saat di apartemennya, dia ingin menguji seberapa besar cinta suami Zena pada Zena sahabatnya. tapi saat pukulan Steven mengenai wajah Zena, Dave merasa sangat bersalah dan dia merutuki kebodohannya


Zena tak sengaja melihat temannya tersenyum kearahnya pun mengkerutkan keningnya, dia melirik kanan kiri untuk memastikan bahwa temannya tersenyum bukan untuknya.


"Dave, apa pukulan dari mas Steven membuat otakmu sedikit geser? " Tanya Zena membuat Steven menatap Dave yang sedang tersenyum

__ADS_1


"Gila, dia sudah gila, otaknya bukan geser tapi sudah pindah Zen" Ujar Steven yang masih kesal dengan perlakuan manis yang diberikan kepada istrinya


"Otakmu juga mas, kalian semua memang tidak ada yang beres"


"Mas Steven yang tiba-tiba bicara setengah-setengah membuatku jadi penasaran, dan Dave yang tiba-tiba senyum-senyum sendiri membuatku jadi takut" Gerutu Zena yang mengusap perut buncitnya


"Zen," Steven meraih kedua tangan Zena


"Aku, aku mau minta maaf Zen, aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, maafkan aku Zen"


Deg..


"Apa maksudmu mas? "


"Apa jangan-jangan-" Ucapan Zena terhenti, dia membayangkan jika suaminya akan menceraikannya, ucapan yang tidak akan memisahkan anak kita dengan ibunya membuat Zena berfikir jika suaminya sudah mendapatkan kebahagiaan bersama Sheila


"Aku minta maaf Zen, aku mau-"


"Kamu mau menceraikanku dan menikah dengan Sheila? "


" Tunggu sampai anak kita lahir, setelah itu kamu boleh menceraikanku " Ujar Zena yang tak ingin suaminya meneruskan ucapannya


"Cerai? " Ulang Steven,


"Aku minta cerai? " Tanyanya lagi yang tak percaya dengan pikiran istrinya


"Menurutmu aku datang jauh-jauh kesini hanya untuk mengucapkan kata cerai? " Ujar Steven lagi


"Iya, memangnya untuk apa? "


"Pasti kekasihmu Sheila, sudah memaksamu untuk menikah ya? "


"Bilang pada kekasihmu, tunggu beberapa bulan lagi"


"Zen! " Geram Steven yang bangkit dari duduknya membuat Zena terkejut


Dave yang melihat Steven emosi pun langsung berdiri dan maju beberapa langkah untuk berjaga-jaga.


"Siapa yang mau menceraikanmu hah! " Pekik Steven


Bersambung😘


...Hutang lunas, hari ini 3 Bab,😍🥰...


...Yuk berikan bintang 5, agar rate ku naik lagi😌...

__ADS_1


__ADS_2