Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 159_Menginap


__ADS_3

"Aku sudah di dekat rumahku, lebih baik ... kamu keluar dan masuk ke mobilku," jawab Riski mematikan panggilannya.


"Dasar pria tidak tahu diri! Beraninya, dia mematikan telfonku!" geram Sheila berjalan menuju pintu utama.


Saat ingin membuka pintu utama, tiba-tiba Sheila melihat beberapa penjaga yang sedang menjaga gerbang utamanya.


"Bagaimana, bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?" gumam Sheila mulai membuka pintu utamanya.


"Nona Sheila," ujar beberapa bodyguard Leo yang menunduk memberi hormat saat melihat calon istri bossnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi.


"Emm tidak ada ... aku haru pergi," jawab Sheila gugup. Dia berjalan cepat.


"Tunggu Nyonya! Apa Nyonya sudah meminta izin pada Tuan Besar!" pekik salah satu bodyguard.


***


"Mas Jeff, apa boleh, kita bertemu?" ucap Jack saat membaca pesan di ponsel adiknya.


"Untuk apa?" gumam Jack, kemudian jarinya membalas pesan yang dikirim dari dokter cantik, pujaan hati adiknya.


Ting ...


Di sebuah ruangan, kedua sudut bibir dokter Irma tertarik ke atas saat mendapatkan balasan pesan dari pujaan hatinya.


"Kira-kira, untuk apa aku bertemu, ya? Aku tidak mungkin bilang jika--" ucap Irma terjeda. Kemudian, dia mulai mengetik membalas pesan dari Jack.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," send Mas Jeff


"Dok? Dokter kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya pasien dokter Irma yang baru saja masuk.


Irma menoleh lalu tersenyum, "Tidak ada apa-apa. Silahkan duduk Bu," titah Irma.


"Terimakasih dok."


Malam harinya, sesuai dengan permintaan Irma, sekarang Jack sedang menunggu kehadiran wanita yang dicintai adiknya di sebuah restoran dekat kantor.


"Sudah 10 menit, aku menunggu, tapi tidak ada balasan apapun. Apa dia mau menipuku?" gumam Jack saat melihat jam dipergelangan tangannya.

__ADS_1


"Biar aku tunggu 5 menit lagi, jika sampai 5 menit, dia tidak datang. Aku yakin, dia mau menipuku, atau jangan-jangan dia tahu, kalau aku bukan Jeff,"


"Maaf Mas, menunggu lama. Tadi pasienku sangat banyak, dan tidak mungkin, aku meninggalkan mereka semua," ucap Irma menjatuhkan bokongnya di kursi depan Jack.


"Tidak apa-apa. Ada apa? Tumben mengajakku bertemu?" tanya Jack melambaikan tangannya mengundang pelayan.


"Mau makan apa?" Jack memberikan menu makanan pada Irma.


"Minum aja Mas, kebetulan ... sebelum aku ke sini, aku sudah makan," jawab Irma menunjuk menu jus alpukat.


"Kamu suka jus alpukat? tanya Jack membuat Irma mengeryitkan keningnya.


"Iya Mas, memang kenapa?"


"Aku tidak menyukainya."


"Deg!"


Tangan Irma bergetar, menu makanannya yang dipegangnya pun terjatuh ke lantai. Otaknya berusaha mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


"Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba shock, apa ucapanku salah?" tanya Jack mengambil menu makanan yang terjatuh.


"Jadi, Nona dan Tuan, mau pesan apa? Biar saya tulis sekalian," ujar pelayan yang sudah siap dengan kertas dan pulpennya.


"Ka-kamu siapa? Kamu ... bukan Mas Jeff kan? Jujur saja!" ujar Irma dengan bibir bergetar, "Di mana Mas Jeff!" teriaknya lagi.


"Jeff? Aku Jeff, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menuduhku bukan Jeff, aku Jeff, Ir!" ujar Jack menyakinkan wanita dihadapannya.


"Bohong! Mas Jeff menyukai jus alpukat," timpal Irma cepat.


'Apa! Sejak kapan, anak itu menyukai jus alpukat?' batin Jack, wajahnya sudah bingung dan pucat. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya sebelum semuanya terungkap.


"Kamu tidak percaya denganku, Ir? Tatap mataku, tatap wajahku! Pikirkan, aku Jeff atau bukan."


Irma menatap pria di depannya, menatap mata, pipi, hidung, semua mirip dengan Jeff.


"Lalu, ke-kenapa ... Mas Jeff bilang tidak menyukai jus alpukat?" tanya Irma menatap perbedaan raut wajah Jack.


"Emm ... itu, karena aku ... aku hanya ingin becanda denganmu. Aku sangat menyukai, bahkan di rumah, aku selalu menyetoknya," ucap Jack tersenyum kaku.

__ADS_1


"Oh, maafkan aku Mas, mungkin karena aku terlalu lelah, jadi ... aku tidak bisa melihat mana becanda dan mana serius," ucap Irma, 'Tapi, kenapa, aku merasakan jika dia bukan Mas Jeff? Atau mungkin, ini kekhawatiranku saja. Mungkin perubahan sikapnya karena dulu, dia melihatku memeluk Mas Al,' batin Irma.


"Okeh. Sekarang katakan, kenapa kamu memintaku bertemu? Apa ada sesuatu hal yang penting?" tanya Jack.


"Emm ... tidak ada Mas, aku hanya ingin mengucapkan--"


"Mengucapkan apa?" jawab Jack penasaran.


***


"Sampai kapan dia berada di sini Mas? Ini sudah malam," bisik Zena, ekor matanya melirik sekilas wanita yang menjadi mantan istri suaminya.


"Ekhem ...."


"Lebih baik, kau pergi. Sudah malam, tidak baik jika bertamu sampai larut malam," sindir Steven pada mantan istrinya.


"Aku masih betah Steve, Oh ... atau begini saja, aku menginap di tempatmu. Lagipula, jarak rumahku dan rumahmu sangat jauh, aku takut jika terjadi sesuatu padaku," jawab Dinda memakan satu potong irisan buahnya.


"Kau gila ya! Mana mungkin, aku membiarkanmu menginap di sini!" pekik Steven bangkit dari duduknya. Kesabarannya benar-benar sudah habis saat berhadapan dengan mantan istrinya.


"Mbak, Bolehkan ... kalau aku tinggal di sini? Semalam saja, di luar sedang hujan, dan hari sudah larut malam. Apa Mbak tega, membiarkanku menyetir mobil dalam posisi hujan deras seperti ini?" ujar Dinda mengatupkan kedua tangannya.


"Aku akan meminta Jack untuk mengantarmu," tolak Steven.


"Jack pergi, aku tadi melihatnya pergi menggunakan mobil," jawab Dinda santai, kakinya di naikan ke atas meja.


"Bolehkan Mbak, atau Mbak takut, jika suamimu itu tergoda denganku?" ucap Dinda memperkeruh keadaan.


"Aku tidak mengizinkanmu Din! Lebih baik, kamu pergi dari rumahku sekarang juga!" usir Steven, tangannya mulai menyeret wanita di hadapannya.


"Mas, sudah Mas, di luar sedang hujan. Dan aku juga melihat Jack pergi. Lebih baik, Mbak Dinda menginap saja di sini," ucap Zena membuat Dinda tersenyum senang.


"Dengar! Istrimu saja memperbolehkanku menginap di sini. Atau jangan-jangan, kau yang takut, takut jatuh hati padaku lagi, secara kan ... aku lebih cantik, Sexy daripda istrimu yang--" Dinda melihat penampilan Zena dari ujung kaki sampai kepala, berpakaian daster, perut buncit, dan tanpa polesan make up.


Mendengar penghinaan dari mantan istri suaminya, telinga Zena terasa panas, tetapi dia harus tetap menebar senyuman.


"Iya, aku memang tidak seperti Mbak Dinda yang mempunyai kulit putih mulus, tubuh yang sangat menggoda dan sexy serta wajah yang cantik. Tapi, setidaknya, aku masih mempunyai hati yang tulus, tidak pernah memanfaatkan kekayaan suamiku untuk kesenangannya sendiri. Dan aku juga tidak pernah menjajakaan tubuhku untuk pria hidung belang," jawab Zena.


"Oh iya, kamar Mbak di dekat dapur dan kamar pembantu. Jika Mbak ingin beristirahat, kami persilahkan," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Apa! Kamarku--"


Bersambung😘


__ADS_2