
"Dia sedang berada di UKS, luka ditangannya cukup parah, dan Ibu wali kelas sedang mengobati lukanya," jawab Bapak kepala sekolah.
"Saya akan menunggu 5 menit, setelah 5 menit, tidak ada kabar, maka saya akan pergi. Karena urusan saya, bukan hanya menunggu keluarga mereka saja," ketus Steven mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.
'Sikap anak dan bapak, sama saja. Sama-sama dingin. Pantas saja, anaknya tidak mempunyai teman di kelas,' batin kepala sekolah.
5 menit sudah, Steven menunggu kedatangan orang tua dari anak yang memeras putranya, tapi belum ada tanda-tanda, akan kemunculan wali murid tersebut.
"Semua sudah jelas, Putra saya tidak bersalah. Dan saya, akan kembali bekerja," ucap Steven beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu 5 menit lagi, jalanan Ibu kota di jam seperti ini, sangat macet. Dan asalkan Tuan tahu, keluarga mereka juga berada dari golongan keluarga terhormat. Lebih baik, Tuan menunggu sejenak," cegah Bapak kepala sekolah.
"Memangnya, anda tidak tahu. Dengan siapa, anda berurusan sekarang?" tanya Steven membuang putung rokoknya sembarangan.
"Saya mengundang anda kemari, karena anak anda melakukan kesalahan. Jika urusan jabatan anda, itu bukan urusan saya."
"Baiklah, saya akan bicarakan ini pada ketua yayasan sekolah. Bahwa saya, memecat anda dan memblacklist anda dari sekolahan mana pun. Jangan harap, setelah ini ... hidup keluarga mu akan tenang," ucap Steven tersenyum miring.
"Sebenarnya, Tuan siapa? Kenapa, Tuan berani berbicara seperti itu?" seru Bapak kepala sekolah bangkit dari duduknya.
"Saya? Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya orang biasa,"
"Dan perkenalkan nama saya, Steven Fernando. Ayah dari Rio, itu saja," jawab Steven, tangannya mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Saya sudah bicarakan ini dengan ketua yayasan yang mengelola sekolah ini. Dan Saya, bisa memastikan bahwa besok anda akan di pecat dari sekolah ini," sambung Steven, kemudian melangkahkan kakinya keluar ruangan..
Setelah keluar ruangan, Steven menekuk lututnya, dia mensejajarkan tubuhnya dengan putranya.
"Rio, tidak berbohong kan?" tanya Steven menatap dan menghapus keringat yang membasahi kening putranya.
"Tidak, Dad! Sejak kapan, Rio berbohong pada daddy, terkecuali--"
"Terkecuali apa?"
"Rio suka begadang, hanya untuk bermain game online, Om," timpal Cassandra cepat.
__ADS_1
Mendengar pengakuan dari teman yang sudah dianggap sebagai sahabat, seketika raut wajah Rio berubah. Dia berusaha meraih lengan teman wanitanya itu.
Sebelum tangannya mendapat cubitan maut dari temannya, Rio. Cassandra langsung membuat jarak dan tersenyum dengan jari di buat angka V.
"Piss ... aku tidak sengaja, sungguh," ucap Cassandra cengengesan.
"Rio, mulai hari ini. iPad Rio ... akan Daddy sita. Dan jangan harap, Rio akan--"
"Dad, Rio minta maaf. Rio khilaf," ucap Rio memulai dramanya.
"Jangan terpercaya oleh dramanya, Om. Sekarang, dia sedang ber drama. Aku rasa, setelah besar nanti, Rio akan menjadi bintang sinetron di stasiun televisi yang soundtrack filmnya 'Ku menangis'. Kan Rio pandai berakting menangis," ucap Cassandra dengan tawa mengejeknya.
"Hei, seharusnya kamu berterimakasih padaku. Aku sudah menyelamatkanmu, bukan di hina seperti ini!" gerutu Rio, air mata yang hampir menetes, sudah masuk kembali.
Mendengar celotehan Rio dan teman wanitanya, kedua sudut bibir Steven tertarik ke atas. Baru kali ini, dia melihat anaknya berinteraksi seakrab ini dengan teman sebayanya.
"Masuklah ke kelas, dan jangan membuat onar lagi. Atau Daddy akan memindahkan mu ke sekolah lain," ancam Steven.
"Jangan, Dad! Rio tidak mau dipisahkan dengan Cassandra. Bagaimana, jika Rio kesulitan belajar, siapa yang akan membantu Rio. Teman Rio, hanya Cassandra."
"Baik Dad."
"Bilang pada Om ini jika Rio nakal lagi. Om percaya, kamu anak yang baik," ucap Steven menghampiri dan membelai kepala Cassandra.
"Siap Om, bagaimana dengan mommy Rio? Apa adik Rio sudah lahir? Aku ingin melihatnya," jawab Cassandra menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Belum, besok ... jika adik Rio sudah lahir, Om akan meminta teman Om ini, untuk mengantar mu kerumah Om."
"Wah, bener Om? Terimakasih, Om ...," ucap Cassandra yang tidak sengaja memeluk Steven.
Mendapat pelukan dadakan dari Cassandra, Steven pun tersenyum dan langsung membalas pelukan teman wanitanya Rio.
***
"Malam nanti, aku akan menemui Mas Jeff. Dan aku mau meminta tolong pada dokter," ucap Irma saat berada di kantin rumah sakit.
__ADS_1
"Tidak ada, aku tidak bisa bantu. Malam ini, aku mau--"
"Sekali saja. Aku sudah berbohong pada Mas Al, jika aku akan pergi denganmu. Lagi pula, kamu hanya perlu mengatakan 'Iya' jika Mas Al menelfon mu," pinta Irma menggenggam tangan dokter Riyan.
"Tidak bisa, ya tidak bisa. Aku tidak mau mendapat masalah baru,"
"Sudah diberi hati, minta jantung," gerutu dokter Riyan menarik tangannya.
"Dok, tapi--"
"Tapi apa? Kau memanfaatkan status pertemanan kita, Ir!"
"Ya sudah, aku sudah terlanjur berbohong. Jika dokter tidak mau mengikuti rencanaku, maka dokter juga yang akan dimarahi Mas Al, karena lalai menjagaku. Ingat loh! Status dokter dimata Mas Al, adalah kekasihku," ucap Irma memasukkan makanan ringannya ke dalam mulut.
"Biarkan saja, aku akan bicara yang sejujurnya, bahwa aku ... tidak memiliki hubungan apapun denganmu. Kita hanya sebatas berteman, tidak lebih," jawab dokter Riyan menyuapkan nasi pertamanya.
"Baik, aku akan bicarakan pada Mas Al, jika dokter Riyan meninggalkanku demi wanita lain."
"Apa hubungannya? Kenapa membawa wanita lain? Ini urusan kita, Ir!"
"Ya sudah, bantu aku. Aku tidak akan menuntut lebih, aku hanya ingin dokter mengatakan 'Iya' saat Mas Al menanyakan keberadaanku."
"Terserah Ir, aku cape. Napsssu makan ku hilang, setelah mendengar ocehan mu!" ketus dokter Riyan beranjak dari tempat duduknya.
'Aku tidak mungkin mendukung rencanamu itu Ir, mungkin jika yang kau temui Jeff asli, aku masih bisa mendukungnya. Tapi, ini berbeda, kamu sedang berurusan dengan pria yang lebih jahat,' batin dokter Riyan berjalan keluar kantin.
"Dasar, katanya teman. Masa hanya mengatakan 'Iya' susahnya minta ampun," gerutu Irma meminum jus nya dan bangkit dari tempat duduknya, dia berusaha menyusul dan membujuk teman pria nya tadi.
"Dokter, dokter jangan seperti ini. Kita kan berteman, sudah seharusnya ... kita saling membantu. Apa dokter tidak mau melihat temannya ini bahagia? Atau jangan-jangan, dokter menyukaiku? Dan menyetujui perjodohan ini di belakang ku?" tebak Irma yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan dokter Riyan.
"Lebih baik, kita pergi dan periksakan kejiwaan mu. Mungkin saja, otakmu sudah bergeser," jawab dokter Riyan membuat Irma terpaku.
'Beraninya, dia mengataiku gila!' batin Irma meremas jemarinya dan berjalan melawan arah untuk kembali ke ruangan kerjanya.
Bersambungš
__ADS_1