
Sekertaris Nanda yang mendengar jerit dan tangis Nyonya mudanya pun merasa kasihan, dia menemui Tuan Mudanya bahwa sudah cukup hukuman yang diberikan untuk istrinya
"Tuan saya takut jika Paijo akan melakukan hal yang sembrono pada Nyonya," Bisik sekertaris Nanda pada Steven
"Buka pintunya dan bawa dia ke rumah utama, setelah aku puas bermain aku akan menghampirinya dan jangan lupa bunuh rentenir tua itu aku tidak ingin ada korban lagi seperti istriku"
"Ba-baik Tuan"
Sekertaris Nanda langsung pergi dan membuka pintu kamar Zena,
Krek, pintu terbuka, sekertaris Nanda bisa melihat Nyonya mudanya sudah ketakutan, tubuhnya bergetar hebat
"Sekertaris Nanda aku takut, "
"Hentikan,! " Sekertaris Nanda menendang tubuh Paijo sehingga Paijo terjatuh, kedatangannya sangat tepat
Perkelahian tak bisa dihindari, Paijo dan sekertaris Nanda berkelahi tapi karna faktor umur Paijo yang sudah tua baru berberapa kali pukulan Paijo sudah tepar
"Ayo saya antar Nyonya ke kamar," Ucap sekertaris Nanda sambil memapah Nyonya mudanya yang sudah tak bertenaga, sekertaris Nanda bisa merasakan getaran ketakutan ditubuh Nyonya mudanya,
"Aku takut, dia mau melecehkanku seperti om Rey, aku takut"
"A-aku takut sekertaris Nanda" Zena menggigit jarinya sampai berdarah, tak henti-hentinya dia meracau
Bi sari yang melihat Nyonya mudanya di papah oleh sekertaris Nanda pun langsung membantunya, dia membantu membawa Nyonya mudanya kedalam kamar lalu tak lupa membaringkan tubuh Nyonya mudanya agar beristirahat
"A-aku takut, " Darah semakin mengalir deras di jari dan bibir Zena
"Bi, obati Nyonya muda, aku akan mengurus lainnya, lalu panggilkan dokter Riyan"
"Baik sekertaris Nanda"
"A-aku takut bi, dia jahat, dia mau melecehkan aku bi, aku takut, aku takut hiks.hiks."
"Nyonya, Nyonya tenang saja, tidak ada yang mau melecehkan Nyonya, Nyonya sudah aman, ada Bibi dan Tuan Muda serta sekertaris Nanda yang akan menjaga Nyonya" Ucap bi sari sambil membersihkan darah yang menetes lalu menelfon dokter Riyan, karna sekertaris Nanda hanya mempercayai dokter Riyan sebagai dokter pribadi Zena
"Bi, ba-bahkan suamiku sudah membuangku ke pria tua itu, aku takut bi, aku takut, pria tua itu ada disini bi, aku tidak mau dijadikan istri simpanannya"
"Lebih baik aku mati bi, tidak ada yang mengharapkanku di dunia ini bi"
Dilemparnya gelas yang ada diatas nakasnya
Prangg..
__ADS_1
"Nyonya mau apa nyonya" Tanya bi sari khawatir saat Nyonya mudanya berusaha meraih pecahan gelas itu
"Jangan Nyonya, jangan." Pekik bi Sari
"Bibi menjauh bi! Menjauh!!!!! " Teriak Zena
"Aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga, menjauh!!! "
"Tidak Nyonya, jangan seperti ini, Tuan muda pasti akan marah, jangan lakukan ini Nyonya"
"Bibi menjauh atau aku akan meremas pecahan kaca ini, tinggalkan aku sendiri, aku mau membunuh diriku sendiri"
"Cepat pergi! "
Bi sari terlonjak kaget, dia segera pergi mencari sekertaris Nanda
"Tuhan maafkan aku jika aku sudah membuat dosa dengan membunuh diriku sendiri, tapi aku tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi dalam keadaan seperti ini"
Perlahan Zena mendekatkan pecahan kaca itu pada pergelangan tangannya
"Hentikan! " Suara bariton Steven membuat Zena menjatuhkan pecahan kaca itu
"Apa kau sudah gila! Kau bahkan masih mempunyai hutang padaku, dan kau ingin membunuh dirimu sendiri, lalu aku meminta pada siapa untuk melunasi hutangmu" Ucap Steven yang perlahan menghampiri istrinya, dia sangat menyesali kebodohannya, gertakannya membuat depresi istrinya kambuh kembali
"Tolong, jangan halangi aku"
"Jika kau ingin melihat kematianku, kau cukup berdiam diri disitu, jangan mendekat hiks..hiks..bahkan kau tak pernah percaya padaku,"
Zena berusaha mengambil pecahan gelas itu tapi tangannya dicegah oleh Steven, beruntung dokter Riyan datang, dia segera mengecek keadaan Zena
"Dokter Riyan" Gumam Zena, dia berusaha melepas cengkraman Steven
"Iya ini aku, kamu tenang dulu ya, aku obati lukamu dulu" Dokter Riyan mengambil cairan lalu menyuntikan kedalam tubuh Zena, tak membutuhkan waktu lama, Zena pingsan tak sadarkan diri
"Aku sudah menyuntikan obat tidur dalam tubuh Zena, dan aku rasa trauma Zena kembali, apa ada yang memicu trauma itu? " Tanya dokter Riyan
"Keadaan Zena baru saja stabil, jangan buat dia tertekan" Ucap dokter Riyan pada Steven
"Emm apa kalian sepasang kekasih? " Sambungnya lagi penasaran
Steven tersenyum sinis "Tak perlu tahu hubunganku dan Zena, sekarang tugasmu cukup memeriksa Zena, berikan pengobatan yang terbaik, aku ingin dia sembuh dari traumanya dengan cepat"
"Baiklah, buat dia nyaman di dekatmu, trauma itu akan hilang sendiri
__ADS_1
"Ini, tebus resep ini, dan berikan pada Zena, pastikan Zena meminum obatnya dengan rutin, satu lagi jangan biarkan Zena melakukan aktivitas yang berat, dia butuh istirahat total"
"Aku akan mengecek 2 hari sekali," Jawab dokter Riyan sambil membereskan peralatannya
"Aku permisi"
"Biar sekertaris Nanda mengantarmu"
Dokter Riyan mengangguk, dia berjalan diikuti sekertaris Nanda dibelakangnya
"Bi, bereskan kekacauan ini,"
"Baik Tuan"
Tubuh Steven terasa lengket tak terasa waktu sudah menujukan pukul 10 malam dan dia langsung masuk kedalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya menggunakan air yang dingin mampu menenangkan pikirannya yang sedang kacau
Memikirkan istrinya yang kambuh karna ulahnya dan memikirkan penyelundupan senjatanya yang siap dikirim
Tak membutuhkan waktu lama bagi steven untuk menyelesaikan ritual mandinya, setelah selesai, Steven segera menaiki ranjangnya dan melihat wanita yang sedang tertidur lelap, bi sari juga sudah mengganti pakaian Zena menjadi pakaian tidur
"Kenapa kamu selalu membantah ucapanku, aku tak suka ada bantahan, dan kenapa kamu menantangku dengan cara berjalan mesra dengan pria lain" Gumam Steven, tak sadar tangannya membelai wajah Zena, Steven bisa melihat bibir Zena yang pecah-pecah
"Cantik, tapi maaf, aku hanya membutuhkan seorang anak untuk meneruskan perusahaanku nanti, aku tak ingin jatuh cinta, aku tak ingin jika suatu saat aku mati seperti kakaku yang meninggalkan duka bagi orang yang dicintainya, aku tidak ingin meninggalkan kesedihan untuk seseorang yang aku cintai kelak"
"Selamat malam," Steven mengecup kening Zena lalu merebahkan dirinya disamping istrinya
Ke esokan harinya, Steven selalu bangun lebih awal dari Zena, apalagi sekarang Zena masih terkena obat tidur, dicarinya ponsel istrinya untuk memberitahukan pada rekan kerja istrinya bahwa istrinya tidak bisa masuk kerja dalam beberapa hari kemudian
Tak sengaja menggeledah saku jaket istrinya, Steven justru menemukan kotak merah yang berisi cincin berlian
"Apa pria itu melamarmu"
"Dan apa kamu menyukainya lalu menerima lamaran pria itu, asal kamu tahu, kamu adalah bonekaku, tak ada yang boleh menyentuh kamu selain aku! " Gumam Steven dalam hati
Diraihnya ponsel istrinya lalu dia melihat pesan paling atas yaitu Nida, segera dia memencet gambar telfon
"Hallo, Zena udah sampai mana! Dari kemarin aku khawatir, apa kamu sudah sembuh? Jika belum, jangan masuk dulu biar aku yang berbicara pada boss Riski, kau istirahatlah" Suara Nida membuat Steven menjauhkan ponselnya dari telinganya
"Hei! Jangan diam saja! Aku ini khawatir padamu, maaf kemarin aku menuruti permintaan boss Riski,"
"Zen!!! Aku bicara panjang lebar dan kau diam saja, katakan sesuatu,"
Bersambungš
__ADS_1