
"Biarkan saja. Paling besok atau nanti, anak itu sudah baikan. Aku mau tidur. Tubuhku terasa lelah," titah Steven, kemudian kakinya dia luruskan di ranjang.
"Mas ...," panggil Zena.
"Hem ...."
"Mas, Tiba-tiba aku merindukan Ayah. Bagaimana kabar Ayah, Mas? setelah aku menjadi istrimu, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan Ayah. Apa ini teguran dari Tuhan, karena aku menelantarkan Ayah?" ucap Zena yang menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang dekat kaki Steven.
"Teguran? Memangnya, ada apa denganmu, sayang?" tanya Steven memejamkan mata.
"Mas, aku serius. Jangan becanda!" ujar Zena menggoyangkan kedua kaki suaminya.
"Aku juga serius, sayang. Biarkan Ayahmu itu bahagia," jawab Steven menggeser kakinya.
"Mas, Mas Steven. Aku rasa, penyakit babygirl kita, karena aku tidak pernah berbakti pada Ayah. Aku mau cari Ayah, Mas? Bolehkan?" tanya Zena, membuat kelopak mata suaminya terbuka lebar.
"Aku tidak mengizinkanmu. Memangnya, kamu tahu keberadaan Ayahmu, hem? tidak kan?"
"Tapi, aku mau meminta maaf pada Ayah, Mas. Aku mau memberitahu Ayah, kalau aku sudah mempunyai anak," ujar Zena.
"Aku tidak mengizinkanmu sayang. Ingat, Ayahmu sudah menjualmu kepada rentenir itu, kan? dan aku yang membelimu di rentenir tua itu. Aku juga melarangmu, untuk memberitahu kehadiran anak-anak kita padanya. Aku tidak mau, keluarga kita yang harmonis akan--"
"Mas, izinkan aku untuk mencari Ayah. Feelingku tidak enak Mas," pinta Zena mengatupkan kedua tangannya, "Please!"
"Aku tidak akan mengizinkanmu, sayang. Biarkan Ayahmu hidup bahagia dengan pilihannya sendiri. Sekarang, kamu milikku. Dan, aku tidak mengizinkanmu untuk mencari keberadaan Ayahmu, itu!" ketus Steven.
"Mas, Mas jangan egois dong. Dia Ayah aku, sampai kapanpun akan tetap menjadi Ayahku, dan juga mertuamu, Mas," ucap Zena tak kalah ketus.
'Sejujurnya, aku tidak sudi mempunyai Ayah mertua seperti Leo. Mungkin saja, sekarang dia sudah tertangkap oleh Riski dan sudah dijebloskan ke dalam penjara,' gumam Steven dalam hati.
__ADS_1
"Mas, Mas Steven! Kenapa Mas Steven diam! Aku sedang bicara dengan Mas Steven!" ujar Zena, "Kita cari Ayah, Mas. Aku benar-benar merindukannya," sambungnya lagi.
"Apa kasih sayang yang selama ini aku berikan kurang?" tanya Steven yang mendapat gelengan dari Zena.
"Aku rindu Ayah Mas, kasih sayangmu berbeda dengan kasih sayang Ayah pada anaknya," jawab Zena, kemudian memeluk Steven yang tengah merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
"Aku bisa menjadi Ayah sekaligus suami untukmu, sayang," ucap Steven mengusap punggung istrinya berulang kali.
"Mas, aku rindu Ayah. Aku tidak bisa menyamakan mu dengan Ayah. Please! tolong Mas, tolong!"
"Aku mau tidur. Kamu jaga baby Evan," ujar Steven yang mendapat gelengan dari istrinya.
"Mas, cari Ayah. Lagipula, ini siang hari. Mas Steven tidak pernah tidur di siang hari,"
"Aku hanya meminta izin darimu, Mas!"
"Aku tidak mengizinkanmu, sayang. Aku takut, Ayahmu akan memisahkan kita. Kau tahu sendirikan, Ayahmu haus harta!"
"Sayang, aku ada kabar baik. babygirl besok sudah diperbolehkan pulang. Kita harus menyambutnya, tapi dengan catatan ... babygirl harus menjalani rawat jalan," ujar Steven mengalihkan pembicaraan.
"Benar Mas? Anakku sudah diperbolehkan pulang. Akhirnya, aku akan menyiapkan semuanya, Mas. Kenapa, bukan sekarang? Kenapa harus menunggu besok?"
"Sekarang aja Mas. Ayo, kita jemput babygirl," rengek Zena, kemudian menarik tangan suaminya.
"Sayang, jangan--"
Oekk ... Oekk ....
"Mas, diamkan anakmu. Salah siapa, kamu berteriak seperti tadi, jadi bangunkan!"
__ADS_1
"Aku mau menghias box babygirl," titah Zena, membuat Steven mendelik tajam.
"Aku? yang benar saja. Mungkin, Evan terbangun karena haus,"
"Kami ssusuin dia Mas! Masa begitu saja tidak bisa. Kalau haus, beri dia sssusu,"
"Hei, sayang ... mana mungkin aku memberikan--"
"Maksud aku, itu di sana aku sudah menyediakan botol susu untuk Evan. Tinggal Mas Steven panaskan saja, Itu Asi bukan susu formula," jawab Zena kemudian berjalan menuju pintu kamarnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Steven, saat melihat istrinya pergi.
"Aku mau mengecek putraku yang dibuat merajuk olehmu, Mas!"
"Mas Steven jaga Evan dengan benar. Katanya, mau jadi Daddy siaga. Daripada tidur, mending jaga Evan, bye," ucap Zena kemudian membuka pintu kamarnya.
"Apa! tidak anak, tidak istri, sama saja," geram Steven kemudian beranjak dari tempat tidurnya.
"Anak Daddy, kenapa menangis, hem?" ucap Steven, kemudian mencium bau yang menyengat di balik celana yang dikenakan putranya.
"Em, rupanya kamu pup, ya sayang ...,"
Oek ... Oek ....
"Cup, cup sayang ... Daddy akan ganti popokmu dulu," ujar Steven, sesaat kemudian dia menggaruk Kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang, Daddy tidak tahu cara membersihkan pup yang benar. Sebentar, daddy panggilkan mommy," ucap Steven, kemudian berjalan menuju pintu
Oek ... Oekk ....
__ADS_1
Belum sempat, Steven membuka pintu kamarnya, Tiba-tiba suara tangis baby Evan terdengar semakin kencang, membuatnya sedikit frustasi.
Bersambung 😘