
"Dave lepaskan! " Ucap Zena langsung melepaskan pelukannya
"Hehe, maaf Zen, tetap jadi teman yang baik untukku ya"
"Kalau usahamu gagal, kau boleh kembali bekerja di caffeku"
"Maksudmu kau sedang mendoakan usahaku gagal?"
"Hehehe tidak, jangan marah"
"Dave!!!! Pekik Zena sambil meremas tangannya "Sudah sanah pergi" Sambungnya lagi
"Iya iya"
Dave berjalan menuju mobilnya, setelah melihat mobil Dave pergi dari parkiran, Zena langsung berlari menuju mobil Steven
"Masuk! " Ketus Steven, wajahnya sudah sangat berubah
Glek!.
Zena mengangguk patuh, walaupun didalam hati dia ketakutan karna perubahan sikap Steven, tapi dia berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang, setelah berhasil mengontrol dirinya, Zena langsung membuka pintu mobil Steven. karna Steven sudah memperingati sekertaris Nanda untuk tidak membukakan pintu Zena
Setelah Zena masuk kedalam mobil, mobil itu langsung melaju meninggalkan parkiran kantor
Tak ada yang berbicara di dalam mobil, hawa hening dan merinding begitu menusuk kulit Zena, sesekali Zena melirik suaminya yang sedang bersender di bangku dengan memejamkan matanya
"Tuan, ada yang mengikuti kita" Ucap sekertaris Nanda melihat kaca spion mobilnya,
Steven langsung membuka mata dan menoleh kebelakang, Benar saja ada 3 mobil hitam berada tepat di belakang mobilnya
"Siapkan semuanya" Ucap Steven yang diangguki sekertaris Nanda,
Sekertaris Nanda langsung melakukan mobilnya kencang, sebelumnya dia sudah menelfon Jeff untuk mengatasi kekacauan ini
"Zen, berlindung dibawah, jangan pernah mendongakan kepalamu sebelum aku memerintahkanmu" Titah Steven yang langsung di patuhi Zena
Di satu sisi, pengendara di mobil hitam yang sudah menyadari bahwa Steven dan lainnya diikuti pun langsung menembakkan pelurunya ke arah mobil steven
Dor!!!
Dor!!!
Tembakan mulai menembak mobil Steven tapi dengan lihai sekertaris Nanda mengendarai mobilnya
Dor!!
Steven menembak dan mengenai salah satu ban mobil musuh
Dor
Dor
Dor
"Percepat lajumu Nda!! Kita tidak boleh mati disini!! " Pekik Steven sambil menembak ban mobil musuh,
Hal yang tak terduga kembali datang, ternyata semakin banyak mobil musuh dibelakang mobil Steven, rupanya jalan ini memang sengaja dikosongkan oleh musuh agar Steven bisa ditaklukkan
Tubuh Zena bergetar, dia menutup telinganya agar tak mendengar suara tembak itu, lalu dia mengingat saat dulu bermain senjata dengan Ayahnya
Di rogohnya tas yang dibawa Zena, dia teringat kalau dia pernah menyimpan pistol dari sekertaris Nanda, tak lupa dia menutup wajahnya dengan masker
"Ingat sembunyikan identitasmu jika kau ingin berperang, karna musuh berada dimana saja, bersikaplah seperti wanita biasa, Ayah mengajarimu menembak untuk melindungi dirimu bukan untuk menyombongkan diri" Ingatan Zena tertuju pada kata-kata ayahnya
Steven masih fokus pada musuh, beberapa kali tembakan mampu membuat ban musuh kempes lalu menabrak dan meledak
Dor!!
Steven yang mendengar suara tembakan langsung menatap tajam sekertaris Nanda, dan sekertaris Nanda menggelengkan kepala
Dor!!
Mendengar suara tembakan itu lagi, Steven dan sekertaris Nanda menatap pada seorang wanita yang sedang menembak musuh Steven
__ADS_1
"Nyonya" Gumam sekertaris Nanda
"Zena" Pekik Steven, tiba-tiba dia merasakan cemas dalam hatinya
"Apa yang kau lakukan!! " Pekik Steven yang diabaikan Zena
Dor!!
Dor!!
Dor!!
Serangan musuh semakin merajalela, membuat Zena semakin menarik pelatuk dan Dor!! Dor!!
"Tuan, saya sudah menghubungi yang lainnya, mereka akan menunggu kita di depan jalan sana, saya akan mengebut,"
"Lakukan yang terbaik!! "
Dor!!
Dor!!
Dor!!!
"Cepat!! Peluruku hampir habis" Steven menutup kaca mobilnya
"Dimana pistolmu!! " Pekik Steven pada sekertaris Nanda
"Ini Tuan" Sekertaris Nanda memberikan pistolnya
Steven mengecek peluru tapi sial, pelurunya habis
"Arggggkkkhhh sial!! Peluru kita habis!!! " Pekik Steven
"Percepat!!! "
"Baik Tuan"
"Zen, berikan pistolmu padaku! " Teriak Steven
"Tapi Zen!! Ini terlalu berbahaya"
Steven meraih tangan Zena dan mengambil pistolnya
Dor!! Suara tembakan memecahkan kaca belakang mobil membuat Steven dan Zena menunduk, Steven melindungi Zena dibawah tubuhnya
"Berlindung!! Biar aku saja!! "Ucap Steven tak ingin dibantah
"Tuan, di depan sudah ada anak buah kita"
"Kita aman Tuan"
"Syukurlah"
Akhirnya Steven, Zena dan sekertaris Nanda aman, mereka langsung pulang kerumah utama menggunakan pengamanan yang ketat
***
"Maaf bos, kami gagal" Lapor anak buah yang langsung mendapatkan pukulan keras dari Putra,
Putra ditugaskan oleh ketua geng bandit untuk menjadi tangan kanannya
"Bodoh!! Lalu apa yang harus aku ucapkan pada kaka!!
Bugh
Bugh
"Maaf bos, kami tidak tahu jika mereka mempunyai anak buah yang lebih banyak daripada kami, juga seseorang yang melindungi pria itu, keahliannya menembak membuat beberapa ban mobil rekan kami meledak"
"Sudahlah! Sebentar lagi kaka ku datang, dan kau!!! " Tunjuk putra pada anak buah lainnya
"Bicara sendiri dengan kakaku! Aku sudah berjanji pada pacarku, akan kencan hari ini" Sambung putra yang mengabaikan kegagalan rencananya
__ADS_1
Derap kaki berjalan semakin mendekat, membuat putra menyunggingkan senyumnya
"Siap-siap kalian, hahaha,
"Habislah kalian dihajar kakaku, haha" Putra menjulurkan lidahnya tertawa mengejek anak buah kakaknya
"Bagaimana? Berhasil kan rencana kita? " Ucap pria misterius yang menjadi kaka Putra
"Tidak berhasil kak, aku sudah memukulnya agar mereka tak ceroboh lagi" Jawab putra dengan angkuhnya
Pletak!
Pria itu menyentil dahi putra membuat putra meringis kesakitan
"Aww kaka! Sakit tahu! " Putra mengusap keningnya yang sakit
"Dasar bocah! Apa yang kau tahu hanya berpacaran saja hah! "
"Pulang! Dan kerjakan tugas kuliahmu, " Ucap pria itu
"Baik kaka, aku pergi," Putra berjalan, setelah agak jauh dari sang kaka, putra kembali melanjutkan perkataannya yang membuat pria misterius itu dongkol
"Tapi sebelum aku pulang, aku mau bertemu pacar aku dulu, bye bye! Kakaku! " Putra langsung lari dan masuk kedalam mobilnya
Anak buah pria misterius itupun terkekeh saat melihat interaksi putra yang menyebalkan
"Kenapa kalian tertawa hah! Memang ada yang lucu!!! " Kesal pria itu mendorong meja sampai membentur tembok
"Ma-maaf bos"
"Karna kalian tidak bejus melakukan pekerjaan kalian maka, kalian harus mendapatkan hukuman!!
"Al!! Urus dia!! " Pria itu memerintahkan orang kepercayaannya
"Siap bos"
Bugh, Plak
Bugh, Plak
Bugh, Plak
Bugh, Plak
Tamparan serta pukulan mendarat disetiap anak buah geng bandit
"Berapa banyak korban! " Teriak Al
"Tidak ada bos, hanya saja mobil yang dipakai kita rusak parah, bahkan ada yang masuk kejurang"
"Salah satu dari kalian, apa sudah ada yang membantu teman kalian yang terluka?! Jangan sampai rekan kita tertangkap oleh musuh! " Ucap Al lagi
"Sudah ada boss"
****
Di sebuah rumah yang cukup megah dan mewah, mobil Steven terparkir mulus, pagar yang menjulang tinggi membuat mobil Steven tak terlihat dari luar
"Masuk! " Ucap Steven pada sekertaris Nanda dan Zena
Mereka berdua menurut pada Steven, bagai boneka hidup, tak ada yang berani berbicara pada Steven,
Steven mengumpulkan sekertaris Nanda dan Zena diruang tamu
Bugh
Pukulan keras mendarat di perut sekertaris Nanda, Zena yang melihat hanya ngilu, dia juga tak berani melawan Steven dalam keadaan seperti ini
"Apa kau tahu kesalahanmu Nanda!!! " Bentak Steven tepat di depan wajah sekertaris Nanda
Terimakasih teman-teman yang sudah mendukung author sampai saat ini,
Jangan lupa berikan jejak kalian disini seperti like, komen, vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambungš