
Di ruangan dokter Irma, terlihat dokter cantik itu sedang mengobrol manja dengan pria tampan yang digandengnya mesra.
"Mas, tumben sekali Mas menemuiku di sini?" ucap dokter Irma membuka paperbag yang berisi sarapan pagi dari Al.
"Mas sengaja menemuimu di sini, kata ibu, akhir-akhir ini kamu sibuk. Dan terkadang lupa sarapan," ucap Al.
"Memang akhir-akhir ini aku sibuk, dan aku sering melewatkan sarapan pagiku. Tapi berhubung Mas Al di sini, jadi kita sarapan bersama saja," ujar dokter Irma membuka kotak makanannya.
"Mas sibuk. Mas harus kembali bekerja karena pimpinan perusahaan sudah diganti dan Mas tidak bisa sesuka hati keluar masuk perusahaan," ucap Al mengusap rambut panjang adiknya.
"Mas mulai perhitungan kepada adik sendiri. Padahal kita sudah lama tidak makan bersama," keluh dokter Irma menarik tangan Al dari rambutnya.
"Hahaha Kakak sangat sibuk sayang, tapi demi adik tercinta ... Kakak mau makan bersamamu," ucap Al membuat dokter Irma risih.
"Jangan memanggilku dengan sebutan adik. Aku sudah besar, dan aku tidak mau Mas memanggil Mas Al dengan sebutan Kakak. Aku nyaman saat memanggilmu dengan sebutan 'Mas' karena aku bisa mengusir setiap wanita genit yang berusaha mendekati mu," ucap dokter Irma memakan satu suap sarapan paginya.
Tapi, imbasnya itu terkena Mas, Mas jadi susah mencari jodoh jika kamu bersikap sensitif terhadap semua wanita yang mendekati Mas," jawab Al membuka sarapan paginya.
"Biarkan saja, aku akan tetap berpura-pura menjadi kekasih Kakakku, jika aku melihat wanita yang mendekatimu bukan wanita baik-baik," ucap dokter Irma tersenyum puas saat melihat ekspresi wajah pasrah Kakaknya.
"Terserah Mu saja," jawab Al pasrah, tak sengaja pandangannya tertuju pada coklat batang yang tergeletak di atas berkas milik adiknya.
"Ir, tumben membeli coklat. Biasanya kamu merengek pada Kakak," ucap Al mendapatkan pelototan dari dokter Irma.
"Mas bukan Kakak," ketus dokter Irma menyimpan coklatnya kedalam tas.
"Ini dari fans ku Mas," lanjutnya lagi.
"Wanita atau pria?" tanya Al menghentikan sarapan paginya, dia memandang lekat adiknya yang sudah besar.
"Pria, tapi tunggu dulu. Pria ini sangat tampan," ucap dokter Irma tersenyum saat membayangkan wajah Jeff yang bersorak ria.
"Kamu menyukainya Ir? tanya Al.
__ADS_1
" Tidak tahu, mungkin bisa jadi aku menyukainya dan mungkin juga tidak," ucap dokter Irma polos.
"Siapa nama pria itu? Dan beritahu alamatnya pada Kakak eh maksudnya Mas, lalu pekerjaannya apa?" cecar Al dengan runtutan pertanyaan.
"Emm aku tidak tahu rumahnya di mana, tapi dia selalu datang menemani--"
"Sudah beristri Ir? Mas tidak suka kamu menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri!" tegas Al.
Dokter Irma meletakkan sendoknya, dia berdiri lalu memukul pundak Kakaknya, "Menurutmu aku tidak pantas mendapatkan pria yang masih single Mas? Aku bukan wanita seperti itu yang bisanya merebut suami orang. Percuma aku sekolah tinggi-tinggi dan menjabat sebagai dokter kandungan jika aku di didik untuk menjadi pelakor!" ketus dokter Irma, "Lebih baik Mas pergi. Pasienku sudah datang!" sambungnya lagi.
Al beranjak dari duduknya, "Awas saja, jika Mas tahu kalau kamu simpanan pria beristri atau berhubungan dengan pria yang sudah beristri, Mas akan hukum kamu!" ancam Al mengecup kening adiknya dan berjalan menjauh lalu menghilang di balik pintu ruangan adiknya.
"Iya bawel," ketus dokter Irma.
Di dalam perjalanan, Jeff mengendarai mobilnya dengan tidak fokus. Bayangan dokter Irma dengan seorang pria muda dan pastinya tampan membuat Jeff berfikir keras, 'Apa benar dia kekasih dokter Irma?' gumam Jeff dalam hati, 'Jika benar, berarti Nyonya sedang menipuku?' sambungnya lagi.
Tinn ...
Tinn ....
Jeff menggelengkan kepalanya saat merasa pundaknya terguncang, dan mendengar bunyi klakson dari belakang mobilnya.
"Maaf Nyonya," ucap Jeff menancapkan gassnya.
"Ada apa Jeff?" tanya Zena saat mobil yang ditunggangi sudah berjalan.
"Jika ada masalah, lebih baik ceritakan kepada kami, Jeff. Aku sudah menganggap mu seperti keluargaku sendiri," timpal Steven di setujui Zena.
"Apa yang dikatakan Mas Steven benar Jeff, ceritakan semua masalahmu pada kami. Jangan seperti ini, melamun tidak jelas. Sangat membahayakan Jeff," ucap Zena.
"Maafkan saya Tuan dan Nyonya," ujar Jeff.
"Jeff apa cintamu ditolak oleh dokter Irma?" tanya Zena menatap anak buah suaminya.
__ADS_1
"Apa benar, Jeff menyukai dokter Irma, sayang?" tanya Steven tangan istrinya.
"Benar Mas, dia sudah mengincar dokter Irma lama. Maka dari itu Jeff semangat jika mengantarkanku memeriksakan kandungan," jawab Zena meletakkan kepalanya di pundak Steven.
"Jangan bilang kau ditolak Jeff?" tebak Steven, "Tapi tidak mungkin ditolak, jelas-jelas kita melihat ekspresi bahagia dari wajah Jeff tadi," ujar Steven mengecup pucuk kepala istrinya.
"Tuan, sebaiknya kita jangan membahas masalah ini. Karena akan membuat hati saya terasa sakit," ucap Jeff membuat kening Steven dan Zena mengerut.
"Jangan bersedih hati jika ditolak Jeff. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik daripada dokter Irma dan masih banyak wanita yang lebih cantik dari dokter Irma," ujar Zena, "Bila perlu, aku suruh Mas Steven untuk mencarikan pengganti dokter Irma," lanjutnya kembali.
"Tidak-tidak sayang, aku tidak mau kita bertengkar lagi karena salah paham. Bisa-bisa kamu menuduhku selingkuh lagi," tolak Steven.
"Mas, kasihanilah Jeff. Katamu kau sudah menganggap Jeff sebagai bagian dari keluargamu," ujar Zena.
"Tapi aku tidak mau sayang. Pekerjaanku banyak, aku tidak bisa meluangkan waktu untuk mencari pengganti dokter Irma," tegas Steven.
"Hentikan Tuan dan Nyonya. Bukannya saya tidak menghargai saran dan pendapat kalian, tapi ini masalah hati. Dan hanya saya yang pantas memilih keputusan," ujar Jeff melerai perdebatan kedua bossnya.
"Silahkan keluar, kita sudah sampai," titah Jeff setelah membukakan pintu mobilnya.
"Jeff, kenapa raut wajahmu sangat menakutkan. Jika kamu tidak menyetujui saran dan pendapatku bisakah bicara dengan halus," ucap Zena turun dari mobil diikuti Steven di belakangnya.
"Maafkan saya Nyonya," jawab Jeff menutup pintu mobil.
Mereka berjalan memasuki kantor pusat FN Group. Kantor menjulang tinggi yang memiliki puluhan tingkat.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya," ucap security yang berjaga di depan pintu masuk.
"Siang Pak," jawab Zena tersenyum ramah membuat Steven tak suka.
"Jangan pernah tersenyum kepada orang lain. Kau hanya boleh tersenyum padaku sayang," bisik Steven merangkul mesra pinggang istrinya.
Bisik demi bisikan gosip dari semua karyawan Steven mulai tersebar luas saat melihat perut buncit Zena, wanita yang diketahui kekasih pemilik gedung tempat mereka bekerja.
__ADS_1
Bersambungš