
"Rio, kamu bicara apa saja dengan --"
"Rio tidak bicara apapun. Tante itu yang mengajak Rio berbicara," ujar Rio.
"Bicara apa kamu dengan putraku, ha!" ujar Steven menarik paksa tangan dokter Irma agar menjauh dari putranya.
"Lepaskan saya, Tuan. Saya hanya ingin mengetahui keadaan Mas Jeff!" ujar Irma menepis tangan Steven..
"Untuk apa! untuk apa ... kau ingin mengetahui keadaan Jeff! Sekarang, uruslah dirimu sendiri. Uruslah masalahmu dengan Jack! Jangan pernah ganggu Jeff lagi. Karena, sebentar lagi ... kau akan menikah dengan Jack!" ketus Steven.
"Siapa yang bicara? Aku--"
"Sudah seharusnya, kalian berdua menikah. Ingat, ada calon anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya yang utuh. Mulai sekarang, jangan pernah memikirkan Jeff. Kau harus ingat itu!"
"Ta-tapi Tuan, kata putra Tuan Jeff sedang di lautan. Apa maksudnya?" tanya Irma.
"Bukan apa-apa. Dan ini, bukan urusanmu. Kau bukan siapa-siapa Jeff. Ingat itu!" ketus Steven kemudian melangkah kakinya ke arah putranya.
__ADS_1
"Tunggu Tuan, tolong beritahu saya, apa arti ucapan dari putra anda?" cegah Irma, kedua tangannya mengatup di depan dada.
"Rio, ayo kita pulang. Tiba-tiba Daddy mendapat kabar dari Om Nanda," titah Steven menggandeng tangan putranya.
"Tapi Dad! tante itu, bilang pada Rio. Kalau tante itu, akan menjelaskan kondisi babygirl," titah Rio melepas tangan Steven.
"Jangan percaya dengan ucapannya. Sekarang, kita pulang," titah Steven tak ingin dibantah.
Melihat raut wajah emosi dari Daddynya, Rio pun menganggukkan kepalanya, patuh.
"Iya Dad," jawab Rio.
"Tante! Sebenarnya, apa mau tante!" kesal Rio, "Asal tante tahu, Rio malu di permalukan di depan umum seperti ini! sambungnya lagi.
"Rio! yang sopan sama orang!" ujar Steven memperingatkan putranya.
"Bagaimana Rio bisa sopan, Dad! tante itu mengganggu kita. Lihat semua orang disekitar kita? Lihat Dad! banyak pasang mata yang melihat kita. Rio malu! ketus Rio.
__ADS_1
"Jelaskan keadaan Mas Jeff. Tolong Tuan, aku mohon ... jelaskan keadaan Mas Jeff. Aku benar-benar mencemaskan!" teriak Irma frustrasi.
Melihat Irma histeris, Steven pun memicingkan matanya, "Jeff mengalami kecelakaan pesawat, dan pesawat itu hilang di tengah lautan. Jadi, aku tidak tahu keadaannya sekarang!" ketus Steven.
"Ayo Rio. Kita pulang, besok kita jemput babygirl," titah Steven yang mendapat anggukan kepala dari putranya.
Di satu sisi, terlihat Irma yang tengah mematung. Mendengar pengakuan dari Steven, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.
"A-apa, Mas Jeff kecelakaan? Dan sekarang, dia hilang?" Ini tidak mungkin. Ini semua tidak mungkin! Mas Jeff, apa kepergianmu karenaku, Mas? tapi kau sempat berjanji akan datang ke acara pernikahanku!" gumam Irma, kedua lututnya tertekuk dan mencium lantai.
"Aku harus pastikan sendiri kabar ini. Siapa tahu, Tuan Steven sengaja mengarang cerita agar aku bisa melupakan Mas Jeff. Iya benar, aku harus mencari tahu kebenarannya," gumam Irma menghapus air matanya dan pergi meninggalkan rumah sakit.
Dari kejauhan, tak sengaja Riyan melihat kepergian teman wanitanya yang sedang terburu-buru.
"Pergi kemana dia?" gumam Riyan, "Dia tidak akan melakukan hal aneh kan? semisal bunuh diri?" sambungnya lagi, kemudian menyusul teman wanitanya keluar rumah sakit.
"Kemana perginya!" gumam Riyan saat kehilangan jejak teman wanitanya.
__ADS_1
Bersambungš