
Setelah kepergian Jeff, Steven berjalan menuju kamar pribadinya. Terlihat Rio tertidur pulas di atas ranjang.
"Say--" ucapan Steven terhenti saat melihat putranya yang tertidur pulas.
"Hustt ... diam Mas, Rio baru saja tidur," jawab Zena melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki putranya.
"Biar aku saja, sebaiknya kamu tidur. Jika aku sudah selesai dengan pekerjaanku, baru kita pulang," titah Steven melepas sepatu putranya, "Hanya satu meeting saja," sambung Steven saat melihat istrinya mendengus.
"Aku lapar Mas," ucap Zena mengalihkan pembicaraan suaminya.
"Lapar? Tunggu sebentar, akan kupanggilkan Jeff untuk membelikan makanan," titah Steven menghampiri dan mengusap perut istrinya berulangkali, "Pasti mereka sangat merepotkan mu," ujarnya lagi.
"Sangat merepotkan Mas, semakin hari semakin besar dan semakin susah juga untuk aku bergerak. Sedikit berjalan membuat nafasku tidak teratur, tapi aku senang Mas. Aku akan menjadi seorang Ibu di umurku yang memasuki 23 tahun," ucap Zena tersenyum manis.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Tapi, aku janji ... setelah anak kita lahir, aku tidak akan menyuruhmu hamil lagi," ucap Steven.
"Mas jangan bicara seperti itu, aku lapar ...," kekeh Zena mendengar ucapan suaminya, "Oh iya, jika suatu saat nanti terjadi hal buruk padaku. Aku mohon, selamatkan anak-anak kita. Jangan pernah sedikitpun kamu mengorbankan keselamatan anak-anak kita demi aku ataupun jangan pernah mencoba-coba kamu menukar nyawa anak kita denganku Mas,"
"Aku sudah memerintahkan Jeff untuk kemari," ucap Steven meletakkan ponselnya di atas meja, "Aku tidak suka kamu bicara seperti itu!" ketus Steven, "Memangnya kamu mau hal buruk menimpamu dan anak-anak kita hem? Aku mohon, jangan pernah bicara seperti itu. Ucapan bisa menjadi doa, sayang," sambung Steven mengusap perut istrinya.
"Aww sakit Mas," ringis Zena membuat Steven bingung.
"Apa aku melukaimu sayang?" tanya Steven cemas. Dia menarik tangannya yang menempel di perut istrinya.
"Bukan Mas," jawab Zena meraih tangan suaminya lagi lalu menempelkan di perutnya, "Dia menendang, membuatku kaget dan ngilu," sambungnya lagi.
"Sungguh? Kenapa aku tidak bisa merasakannya? Aku mau merasakan ditendang anak-anakku," ucap Steven antusias, "Dek, ayo tendang tangan Daddy," bisik Steven yang tidak mendapatkan respon dari calon anaknya.
"Mas, sudahlah ... aku lapar, kamu tidak kasihan dengan anak-anak mu ini hem?" ucap Zena membuat Steven menarik tangannya.
"Mau aku belikan makanan apa? Biar aku saja yang keluar, jika menunggu Jeff, pasti dia akan lama," ujar Steven mengambil kunci mobilnya.
__ADS_1
"Emm sate Mas, aku mau Sate," ucap Zena membayangkan satu porsi sate ayam dengan bumbu kacang yang menggoda.
"Di siang hari tidak ada sate sayang," jawab Steven menggaruk kepalanya tidak gatal, "Aku carikan makanan yang enak di restoran dekat kantor saja," sambung Steven lagi.
"Terserah Mas, intinya aku lapar. Jangan lupa Rio dibelikan juga Mas, biar kita bisa makan siang bersama," ucap Zena menatap sekilas putra tirinya.
"Itu pasti, ya sudah aku pergi dulu. Jika Jeff datang, suruh dia untuk menemani mu sampai aku datang," titah Steven berjalan keluar ruangan.
"Hati-hati Mas," pinta Zena mengantarkan suaminya sampai depan pintu kamar pribadinya.
Di dalam perjalanan menuju restoran dekat kantor, samar-samar Steven melihat pria yang dikenalinya sedang mengendarai mobil di samping mobilnya yang sedang berhenti karena lampu sedang berwarna merah.
Belum sempat Steven mengamati dengan jelas, tiba-tiba lampu sudah berubah menjadi hijau, dan mobil di samping Steven sudah melesat membelah jalanan Ibukota.
Tak ingin berfikir panjang, karena mengingat anak dan istrinya yang kelaparan. Akhirnya, Steven memutuskan untuk tidak mengejar mobil yang berada di samping mobilnya.
"Perasaan ku saja yang sedang kacau," gumam Steven, lalu memarkirkan mobilnya di restoran khas Jawa.
'Jangan lama-lama, aku sangat lapar Mas,' begitulah isi pesan dari istrinya.
"Iya, aku sudah sampai di depan restoran. Tunggu sebentar, aku akan meminta pelayan agar menyajikannya dengan cepat," balas Steven kemudian memasukkan ponselnya ke saku jasnya.
Mobil Steven terbuka, kaki panjang Steven mulai turun menginjak rumput dan tanah sekitar restoran. Kacamata yang bertengger di hidung mancungnya menambah ketampanannya berkali lipat.
"Silahkan Tuan," ujar pelayan yang berjaga di depan pintu restoran.
"Saya pesan 4 ayam bakar dengan nasi. take away," ucap Steven pada pelayan yang berjaga di depan pintu tanpa melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Baik, saya siapkan dulu. Tuan silahkan duduk," ujar pelayan wanita menunjukkan tempat duduk yang kosong.
"Hem," Steven berjalan dan mendudukan bokongnya di kursi kosong, sesekali pandangannya menelisik setiap penjuru ruangan.
__ADS_1
'Rupanya penglihatanku tidak salah, sekarang dia ada di sini,' batin Steven memandang seseorang yang tengah memakan makanannya.
Steven mengeluarkan ponselnya dan memencet nama dokter Riyan.
"Hallo, ada apa Tuan Steven?" tanya dokter Riyan dari sebrang sana.
"Aku melihat pasien mu sedang makan di restoran dekat kantorku," ucap Steven menempelkan benda pipih tersebut ditelinganya.
"Pasien ku? Siapa? tanya dokter Riyan penasaran.
Steven menarik benda pipih itu dan memencet tombol foto, " Sshhiit, kemana dia? Bukannya dia ada di sana?" gumam Steven saat tak menemukan keberadaan Riski di meja makan, "Orangnya sudah pergi," ucap Steven pada dokter Riyan.
"Memangnya siapa? Jangan membuatku penasaran. Karena pasienku banyak dan semua pasienku berada di kamarnya masing-masing. Atau jangan-jangan kau melihat--" dokter Riyan menjeda ucapannya, "Dia ada di kamarnya bersama wanita itu. Dan bagaimana bisa, dia pergi lalu makan di restoran mewah," sambungnya lagi tak percaya.
"Lihat saja di kamarnya, ada atau tidak. Kau kan dekat!" ketus Steven mematikan ponselnya.
"Jika dokter Riyan mencariku di kamar, itu tidak mungkin ada. Karena aku sedang bersamamu di sini," ucap Riski yang tiba-tiba berada di belakang Steven.
Steven menoleh lalu tersenyum mengejek, "Untuk apa kau menemui kemari hah! " ucap Steven menepis tangan Riski yang sedang menepuk pundaknya.
"Untuk berterimakasih, sekalian ... aku mau meminta tolong padamu," jawab Riski berjalan lalu duduk di samping Steven.
"Kau menganggapku musuh. Tidak selayaknya musuh meminta bantuan pada musuh!" sindir Steven bangkit dari duduknya.
"Tunggu," cegah Riski memegang ujung jas Steven, "Apa Zena sudah mengetahui kebusukan Ayahnya?" tanya Riski membuat Steven menjatuhkan bokongnya lagi.
...Menyembunyikan kebohongan demi kebaikan. Mungkin, banyak orang yang melakukannya semata-mata untuk melindungi dirinya sendiri. Tapi, tidak selamanya kebohongan itu dapat disembunyikan, karena sepandai-pandainya orang menyimpan kebusukan, maka baunya akan tetap tercium juga....
by : gustikha
Bersambungš
__ADS_1