Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 181_Bagaimana ASI nya?


__ADS_3

Tangan bayi mungil itu bergerak, dan sesaat kemudian menangis membuat Steven tersenyum, dia mengecup wajah putrinya dan berulang kali mengucapkan kata syukur dan terimakasih kepada sang Pencipta.


"Ini sebuah keajaiban, aku tidak menyangka dia akan hidup kembali," ucap Irma terharu dan bahagia saat melihat bayi mungil itu menangis, "Sus, bawa bayi itu ke dalam ruang perawatan," titah Irma kepada suster di sampingnya.


"Baik dok," jawab suster kemudian meminta bayi wanita itu kepada Steven.


"Berikan saja, kita harus mengecek keadaannya," ucap Irma yang diangguki sekertaris Nanda.


"Berikan putri kecilmu, Steve. Dia membutuhkan perawatan intensif," titah Nanda membuat bayi yang baru saja berada di dalam gendongan Steven berpindah menjadi di dalam gendongan suster.


"Terimakasih ya Allah, kau sudah mengabulkan doaku," ucap Steven bersujud syukur.


"Lihatkan! Putriku hidup, dia hanya tidur. Kalian saja yang tidak mempercayaiku,"


"Sayang, Putri kita selamat. Kamu cepat sadar, apa kamu tidak ingin melihat wajah anak-anak kita, hem?" ucap Steven mengusap kening istrinya yang tertidur.


"Dok, Kira-kira ... sampai kapan, Nyonya Zena seperti ini?" tanya Nanda kepada dokter yang menangani istri Tuan sekaligus sahabatnya.


"Kita lihat saja, saya juga tidak tahu sampai kapan Nyonya tidak sadarkan diri. Kalau begitu, saya permisi. Saya harus mengecek keadaan baby twin's Nyonya dan Tuan Steven," ucap Irma membungkukkan badannya kemudian berjalan keluar ruangan.


'Mas Jeff, kau di mana? Baru saja, aku berhasil menghapus namamu sedikit di dalam hatiku, tapi kenapa ... mereka harus datang? kenapa mereka selalu mengingatkanku padamu, Mas ...,' batin Irma menjerit.


Tak terasa, hari sudah larut malam. Dan di bandara internasional, Jack dan lainnya baru saja. Mereka menyetop taksi karena kedatangannya tidak diketahui oleh Steven dan sekertaris Nanda.


Sekertaris Nanda hanya mengabarkan bahwa istri Tuan nya sudah berada di rumah sakit dan akan melahirkan.


"Kita langsung saja ke rumah sakit, Pak!" titah Tesa membuat Jeff tersenyum lebar, tapi berbeda dengan Jack. Raut wajah Jack sangat ketakutan saat mendengar kata rumah sakit.


"Nyonya, turunkan saja di pinggir jalan saja. Maaf, saya tidak bisa ke rumah sakit, tiba-tiba Tuan mengabari saya, kalau pekerjaannya menumpuk," ucap Jack kepada Tesa.


"Jangan Jack, seharusnya kau menyambut anak Steven, biarkan pekerjaannya menumpuk, masih ada hari esok," jawab Tesa tersenyum senang, 'Aku tahu perasaanmu, Jack!' batin Tesa menatap sekilas pria yang duduk di samping supir taksi.


'Bagaimana ini, aku tidak mau semuanya terbongkar di saat keadaan Jeff seperti ini, aku takut ... dia berbuat nekat,' batin Jack menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jack? Kau kenapa? Kenapa raut wajahmu seperti orang ketakutan?" tanya Jeff yang tak sengaja melihat raut wajah Kakaknya yang berubah 180°.

__ADS_1


"Sedang tidak enak badan. Mungkin karena lama di pesawat," jawab Jack, "Sebaiknya aku pulang saja, perutku terasa mual."


"Aneh, sejak kapan kamu mabok kendaraan, Jack?" ujar Jeff membuat Tesa menggelengkan kepalanya.


"Pak, lebih cepat. Kakakku sedang mabuk kendaraan, kita harus sampai di rumah sakit dan memeriksanya," titah Jeff membuat Jack melototkan matanya kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kau! Kenapa harus rumah sakit, aku malu!" ucap Jack, "Turunkan saja aku di pinggir jalan, Pak!" titah Jack kepada supir taksi.


"Jangan Pak, aku takut dia akan berguling-guling di jalanan," timpal Jeff terkikik, 'Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, Ir!' batin Jeff membayangkan pertemuannya dengan Irma yang berujung kebahagiaan.


Setelah berada di dalam taksi, akhirnya Jeff dan lainnya telah sampai di depan rumah sakit.


"Aku tidak menyangka, aku akan bertemu denganmu, Ir!" gumam Jeff membuat Jack menelan saliva nya susah.


'Aku harus bagaimana? Apa aku siap dibenci semua orang,' batin Jack menatap kepergian Tesa dan Jeff.


"Jack, ayo ... kenapa diam saja!" titah Jeff menoleh ke belakang, "Kau harus mengecek kondisi tubuhmu, aku takut ... kamu sakit setelah perjalanan jauh," sambung Jeff.


"Aku tidak mau! Aku takut rumah sakit," ucap Jack memutar tubuhnya dan berjalan menjauh dari gedung yang sangat tinggi dan luas.


"Kenapa sikapmu seperti orang ketakutan. Dari kecil sampai sebesar ini, aku baru dengar kalau kau takut rumah sakit. Sebenarnya, ada apa? Apa ada sesuatu di dalam rumah sakit ini sampai-sampai membuatmu ketakutan?" tanya Jeff berlari dan meraih tangan Kakaknya.


'Aku tidak boleh bersikap seperti ini, Jeff akan curiga denganku. Lebih baik, aku bersikap selayaknya diriku saja,' batin Jack memutar tubuhnya kemudian menatap adiknya yang sedang menatapnya.


"Siapa yang ketakutan? Aku cemas saja, aku tidak mau di cek," jawab Jack, "Ayo masuk!" sambungnya lagi.


"Ayo, aku juga sudah tidak sabar melihat dokter cantik pujaan hatiku, pasti dia sangat merindukanku," ujar Jeff berjalan memasuki rumah sakit.


"Di mana Nyonya Tesa?" tanya Jack saat tidak melihat batang hidung Ibu dari bossnya.


"Sudah duluan, kau banyak drama. Jadi, Nyonya masuk duluan," jawab Jeff.


Setelah mencari ruangan Zena, akhirnya Tesa dan lainnya sampai di dalam ruangan menantunya.


"Bu, kapan Ibu kembali?"

__ADS_1


"Kenapa tidak mengabariku?" tanya Steven bangkit dari duduknya, dan mempersilahkan Ibunya duduk di kursi tempat ia duduki tadi.


"Di mana cucu Ibu?" tanya Tesa, "Laki atau perempuan?" sambungnya lagi.


"Mereka ada Bu," jawab Steven membuat Tesa mengerutkan keningnya.


"Mereka?"


"Maksud kamu, cucu ibu banyak?" tanya Tesa diangguki Zena.


"Iya Bu, mereka--"


"Sayang, jangan banyak bicara. Kamu baru saja sadar," potong Steven.


"Ibu bisa lihat sendiri, ruangan baby kita ada di samping ruangan Zena, biar aku antar,"


"Dan kau Jack dan Jeff, temani istriku sampai aku kembali. Jika, terjadi sesuatu ... langsung hubungi saja aku," titah Steven di setujui Jeff dan Jack m


"Baik Tuan ...," jawab Jeff dan Jack bersamaan membuat Zena terkekeh, dia membayangkan jika anak-anaknya sudah besar kelak, akan seperti Jack dan Jeff.


Di luar ruangan, terlihat Steven dan Tesa sedang berbincang, pandangannya menatap dua bayi kembar yang berada di box bayi.


"Kenapa Putri mu ditempatkan khusus, Steve?" tanya Tesa saat melihat cucu perempuannya ditempatkan di tempat khusus.


"Ada gangguan di saluran pernapasannya, Bu."


"Apa? Kenapa bisa?"


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tesa saat melihat raut wajah putranya yang lesu.


"Jadi, ceritanya begini ... Bu," Steven menceritakan semuanya dari kejadian di rumah sampai putrinya dinyatakan meninggal dunia.


"Ibu, jangan bicarakan pada Zena, dan Ibu bilang saja, jika baby twin's sedang tidur. Kondisi Zena belum pulih."


"Bagaimana dengan ASI nya? Mereka membutuhkan ASI dari Ibunya, Steve ...," tanya Tesa.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2