
"Bukan seperti itu mas, Rio tidak ada hubungannya dengan aku yang menolak lamaranmu mas, sebenarnya Rio adalah anak angkat aku mas, oh iya kedatanganku kemari karna aku ingin melamar pekerjaan disini, apa di sini masih ada lowongan pekerjaan untukku? Walaupun tidak jadi model juga tidak masalah mas," Ujar Zena yang sesekali melirik Rio yang fokus pada komputer Riski
Riski tersenyum, dia sangat senang saat wanita pujaan hatinya mencari lowongan pekerjaan padanya, pertanda jika dia salah satu orang yang penting dalam hidup Zena "Kau tak perlu khawatir Zen, aku akan menjadikanmu model kembali di perusahaanku, tapi aku mempunyai beberapa syarat untukmu"
"Apa itu mas? jika syarat yang kau ajukan tidak memberatkanku, aku akan menerimanya" Ucap Zena penasaran dengan syarat yang diajukan Riski
"Kau memperbolehkanku dekat denganmu dan masalah anakmu? Bagaimana jika media tahu kalau kamu mempunyai anak diusiamu yang baru saja menginjak 21 tahun"
"Aku akan bicara jujur jika dia anak angkatku mas,"
"Dan masalah dekat denganmu.. maaf, jika sebatas teman aku tak mempermasalahkan tapi jika lebih, aku tidak bisa mas"
"Kau tahu kan, aku sudah mencintai pria lain" Ujar Zena sedikit canggung karna ucapannya yang menolak Riski secara halus
"Tapi Zen, aku mencintai kamu, apa kurangnya aku dimatamu Zen, cintaku padamu sangat tulus, dan aku akan menerima Rio sebagai putraku, kita bisa merawat Rio bersama-sama" Jawab Riski berusaha meraih tangan Zena tapi langsung ditepis oleh Rio yang sudah berada di dekat Zena
"Om! Jangan macam-macam pada mommy! " Ancam Rio membuat Riski geram karena gagal memegang tangan mulus Zena
"Ayo kita pulang mom, om ini genit dengan mommy, aku tak suka" Sambungnya lagi membuat Riski melototkan matanya
"Kenapa? Om gak suka Rio bilang genit! Awas aja ya om kalau berani menggoda mommy aku akan beritahu pada da-" Zena membungkam mulut putranya dengan telapak tangannya
"Sayang" Tekan Zena sambil memainkan mata pada Rio
Rio yang mengerti maksud Zena pun terdiam, dia tak jadi berbicara membuat Riski penasaran dengan kelanjutan ucapan anak kecil ini
"Beritahu pada siapa? " Tanya Riski penasaran
"Maaf mas, Rio suka aneh kalau berbicara"
"Jangan di dengarkan ya"
"Kapan aku bisa mulai bekerja lagi mas, dan apa aku perlu membawa berkas lamaranku? " Tanya Zena yang mengalihkan pembicaraan Riski
__ADS_1
"Besok, besok kamu boleh mulai bekerja, dan seperti biasa aku akan menjadi pasanganmu"
"Rio gak setuju mom, mommy bekerja menjadi model? Lalu mommy bakal di pegang-pegang oleh om genit ini dong? Rio gak setuju mom" Ketus Rio sambil memeluk Zena, dia berusaha duduk diantara Riski dan Zena, membuat Riski mendesaah malas
"Anak ini benar-benar susah ditaklukkan, dari mana Zena mendapatkan anak kecil yang menjengkelkan seperti dia, aku harus membuat bocah ini pergi dari kehidupan Zena, agar aku bisa leluasa dekat dengan Zena kembali" Gumam Riski dalam hati sambil menatap Rio yang sedang memegang tangan Zena
"Rio sayang, om gak genit, dia orang yang baik" Ujar Zena yang memperingatkan putra kecilnya
"Iya sayang, om gak genit," Timpal Steven memandang wajah Rio
"Eh, tunggu dulu! k**enapa wajah anak itu mirip sekali dengan- ah tidak, tidak mungkin Zena kenal dengan pria bajingan itu, wajar kan jika wajah anak kecil suka mirip dengan wajah orang lain" Gumam Riski dalam hati lagi
"Zen, sekarang sudah waktunya makan siang, bagaimana jika kita makan siang bersama"
"Rio mau gak makan siang dengan om" Ujar Riski dengan malas tapi dia tetap menampilkan senyum manisnya untuk menarik perhatian Zena dan Rio
"Aku harus mendapatkan hati anak kecil ini, jika hati anak kecil ini sudah aku dapatkan, aku akan lebih mudah menaklukkan hati Zena" Batin Riski tersenyum pada Rio
"Boleh, tapi om janji akan membelikanku semua yang aku minta" Ujar Rio membuat Zena semakin tak enak hati
"Maafkan Rio mas, lebih aku dan Rio pulang saja, aku tak mau merepotkan mas Riski" Tolak Zena halus
"Jangan ditolak mommy, itu sama saja kita menolak rezeki"
***
Di ruang kerja Steven, sudah berdiri 2 pria yang sedang menunduk karna sedang berhadapan dengan Tuan mudanya
"Nanda! Apa kau sudah menjalankan semua yang aku perintahkan? " Tanya Steven yang sedang duduk diatas meja dengan kaki kanan diangkat ke paha kaki kiri sambil menyalakan sebatang rokok yang diselipkan di sela jarinya
"Sudah Tuan, saya pastikan dalam beberapa hari ini, mereka akan datang kemari dan memohon pada Tuan" Jawab sekertaris Nanda yang memperlihatkan video shock Rey saat mengetahui hartanya jatuh ke tangan Steven
"Hahaha bagus, aku mau lihat seberapa besar keberanian wanita itu dalam menghadapiku"
__ADS_1
"Dan kau! " Pandangan Steven beralih menatap dokter Riyan yang sedang menyimak pembicaraan antara Steven dan sekertaris Nanda
"Jelaskan! Ini obat apa" Titah Steven yang merogoh saku celananya lalu memberikan plastik yang berisi pil berukuran kecil
Dokter Riyan langsung mengambil obat itu, dia mengamati dan mengeceknya berulang kali karna tak ingin ada kesalahan
"Kalau saya boleh tahu, Tuan menemukan obat ini dimana? "
"Karna ini sebuah pil KB, biasanya yang meminum pil ini adalah wanita yang belum siap memiliki keturunan"
Deg!
Mata Steven membulat sempurna "Pil KB" Ulangnya lagi, dia langsung membuang putung rokok dan berjalan kearah doker Riyan
"Kau tidak becanda kan! " Sambungnya lagi sambil mencengkram kerah kemeja dokter Riyan
"Tu-tuan, saya tidak becanda, ini benar pil KB"
"Kalau Tuan tidak percaya Tuan boleh mengeceknya di beberapa rumah sakit atau apotik terdekat" Jawab dokter Riyan yang ketakutan
"Rupanya dia benar-benar menginginkan perang denganku" Gumam Steven tersenyum sinis
"Nanda! Suruh dia kembali dan kunci dia di kamar tamu! Ingat Rio jangan sampai mengetahui ini semua! " Pekik Steven yang membuat doker Riyan bingung
"Lalu saya Tuan? Apa saya sudah boleh pergi? " Tanya dokter Riyan kembali, keadaan diruang kerja Steven sangat menakutkan AC yang tidak menyala membuat tubuh dokter Riyan bercucuran keringat.
"Nanda! Bawa dia pergi! "
"Dan transfer uang lebih karna dia sudah memberitahu tentang pil KB itu" Titah Steven pada sekertarisnya lalu pandangannya beralih pada dokter Riyan yang sedang mematung
"Kau" Tunjuk Steven pada dokter Riyan "Rahasiakan peristiwa ini dari siapapun, dan jika ada berita yang menyebar tentang peristiwa ini, akan aku pastikan kau orang yang pertama aku bunuh! " Ancam Steven
Bersambungš
__ADS_1