
"Apa mas! kamu bicara apa? " Jawab Zena yang tidak terlalu jelas mendengar ucapan suaminya yang begitu lirih
"Sebentar, aku kecilkan dulu volume TV nya, agar aku bisa mendengar kamu berbicara" Sambungnya lagi.
Steven menggeram kesal, dia bersusah payah untuk menyatakan cinta, dan sekarang, setelah kata cinta itu tersampaikan, kenapa istrinya sama sekali tidak mendengarkan.
"Sudah mas, tadi apa yang kamu bicarakan," Ujar Zena setelah mematikan TV nya
"Kamu benar-benar tidak mendengarkannya Zen?" Tanya Steven terkejut, "Sedikitpun? " Sambungnya lagi
"Emm" Zena berusaha mengingat "Aku hanya mendengarkan jika kamu mengatakan 'Zen, aku.. aku me..' "Me... apa sih mas? tadi suaramu lirih, dan aku menyalakan TV dengan suara keras" Ujar Zena menatap suaminya yang terlihat kesal.
"Lupakan Zen, aku sudah lupa! " Ketus Steven,
Pagi yang cerah, sudah digantikan oleh malam dengan rembulan dan bintang yang menerangi bumi ini, dan sampai saat ini juga, Dave belum datang menjenguk Zena di ruangannya, membuat Zena sangat mencemaskan Dave.
"Mas, boleh aku pinjam ponselmu? ponselku tertinggal di apartemen" Tanya Zena dengan raut wajah cemasnya.
Steven merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponselnya "Ini, pakai saja" Ujar Steven yang memberikan ponselnya pada istri tercintanya, dari sore sampai malam, Steven selalu mengusap perut istrinya dan sesekali dia mengajak calon anaknya berbicara.
Zena mengambil dan mencoba memasukan nomor di aplikasi telfon
Tut....Tut....
Nomor ponsel Dave tidak aktif, "Dave, kamu kemana? kenapa susah banget dihubungi" Gumam Zena yang masih bisa di dengar oleh Steven.
Steven yang sedang mengusap perut istrinya pun langsung menatap wajah istrinya "Dia sibuk, biarkan pria gila itu pergi, ada aku yang slalu menjagamu" Ujar Steven ketus
Tut... Tut...
"Dave kamu kemana Dave, jangan buat aku cemas, hari ini kamu berhutang es krim padaku" Gumam Zena lagi, dia mengabaikan ucapan suaminya,
Krek, pintu ruangan Zena terbuka, terlihat Dave yang sedang menenteng kantong plastik berisi es krim.
"Kau! kenapa kau kemari! aku kira... kau sudah hilang ditelan bumi" Ujar Steven saat melihat teman istrinya berjalan mendekat dengan wajah lusuhnya
__ADS_1
"Dave, ada apa? kenapa wajahmu ditekuk, apa ada masalah dengan caffemu? " Tanya Zena meletakkan ponsel suaminya dia samping ranjang dan menerima 1 plastik berisi es krim yang diberikan Dave.
"Mas, apa om? "
"Aku harus memanggil dengan sebutan apa? pada suamimu Zen? " Tanya Dave tersenyum kaku
Zena tersenyum, dia menggelengkan kepalanya "Tanyakan sendiri, tapi saat pertama kali aku bertemu dengannya, aku memanggilnya om, tapi kalau kamu lebih baik 'Mas' deh, kan umurmu tidak terlalu jauh dengan suamiku" Jawab Zena yang membuka 1 bungkus es krim dan memakannya
"Mas Steven, ada yang mau aku bicarakan, bisa kita bicara empat mata? " Ujar Dave yang menatap Steven
Melihat aura yang ditampilkan sangat berbeda dan sangat serius, Zena menghentikan pergerakan bibirnya yang sedang memakan es krim
"Ada apa Dave, aku tidak mengizinkan kalian bicara empat mata, bisa-bisa kalian berakhir dengan lebam diseluruh wajah,"
"Lihat! lembam kalian saja belum hilang" Sambung Zena kembali yang memperingatkan suami serta temannya
"Kali ini tidak Zen"
"Aku berjanji, aku tidak akan menghajar atau membuat ulah pada suamimu" Jawab Dave yang meyakinkan temannya
Steven berdiri, dia mengikuti langkah teman istrinya yang keluar dari ruangan istrinya.
Setelah berada di luar ruangan, Dave tersenyum, dia menepuk kedua pundak Steven, membuat Steven heran.
"Hei bocah! sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan! dan kenapa harus di luar ruangan, bagaimana jika Zena membutuhkan sesuatu" Seru Steven memecahkan ketegangan .
"Mas, " Panggil Dave yang mendudukan bokongnya di kursi tunggu sambil menepuk-nepuk bangku sebelahnya yang kosong untuk Steven duduk.
Steven mendekat, dia mendudukan bokongnya di kursi samping teman istrinya.
"Mulai hari esok, aku tidak bisa menjaga Zena lagi" Ucap Dave tiba-tiba,
Mata Steven membulat, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan teman istrinya, bukankah selama ini dia sangat gencar mendekati istrinya agar membuatnya darah tinggi.
"Jangan shock gitu mas" Ujar Dave tersenyum saat melihat ekspresi Steven yang terkejut
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak shock, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba dia berbicara seperti itu, pasti ada yang tidak beres" Gumam Steven dalam hati.
"Siapa yang shock, justru aku senang kau berbicara seperti itu, aku jadi tenang karna istriku tidak akan dirayu atau di goda oleh pria kecil sepertimu" Jawab Steven enteng sambil mengangkat salah satu kakinya .
"Bagus, sekarang aku jadi tenang, dan maafkan aku, selama ini... aku selalu menguji kesabaran mas, sebenarnya sewaktu Zena menceritakan jika dia sudah bersuami dan memutuskan untuk ikut denganku ke negara ini, aku sangat terkejut, tapi setelah mendengar perlakuan suaminya yang kejam, aku bertekad untuk menjaga Zena dan anak yang di dalam kandungannya," Ujar Dave, dia menjeda ucapannya lalu tersenyum kembali pada Steven
"Huh! " Dave mengeluarkan nafasnya kasar
"Jaga dia mas, dia wanita baik-baik, walaupun aku dan dia pernah satu atap tapi aku tidak pernah menyentuhnya dan kami pun tidur terpisah"
Steven mengangguk, dia percaya dengan ucapan teman istrinya yang terdengar tulus, tapi rasa penasarannya belum hilang tentang arah tujuan pembicaraan teman istrinya
"Jangan banyak basi basi, sebutkan intinya saja" Ujar Steven penasaran
Lagi dan lagi, Dave tersenyum "Aku sudah menyebutkan intinya, aku mulai besok tidak bisa menjaga Zena lagi" Ujar Dave menepuk pundak Steven agar terlihat lebih akrab
"Ada apa! apa selama ini aku merepotkanmu Dave?" Seru Zena yang baru saja keluar untuk menguping pembicaraan suaminya serta temannya
Mendengar suara Zena, Dave dan Steven langsung bangkit, "Zen, ngapain disini, masuklah" Titah Steven, dia menghampiri istrinya dan memapah istrinya agar kembali ke ranjangnya
"Mas, lepaskan aku, aku masih mau berbicara dengan Dave" Tolak Zena sambil melepaskan tangan suaminya yang sedang memegang pundaknya untuk memapah jalan.
"Apa kamu merasa terbebani olehku Dave? " Tanya Zena kembali, dia meneteskan air matanya tak percaya temannya akan pergi
Dave menghampiri Zena lalu menyuruhnya masuk "Masuk Zen, kita bicarakan di dalam saja, tidak enak jika kita bicara di luar ruangan, apalagi kondisimu yang seperti ini" Titah Dave, dia berjalan lebih dulu agar Steven bisa membawa Zena masuk kedalam ruangannya
Akhirnya mereka masuk kedalam ruangan, dan Zena kini, sudah berada di atas ranjangnya.
"Beritahu aku, alasannya Dave! jangan diam saja! " Ujar Zena sekali lagi
"Alasannya cukup simple" Jawab Dave memandang wajah Zena
"A-aku akan menikah besok, jadi... aku tidak bisa menjagamu lagi mulai besok" Sambung Dave tersenyum getir.
Bersambungš
__ADS_1