Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 161_Sarapan Pagi


__ADS_3

'A-aku bukan Jeff, aku Jack. Aku tidak bisa membalas pelukanmu, Ir. Kamu milik Jeff,' batin Jack.


"Mas, aku dingin," ujar Irma dengan tubuh yang sudah menggigil, "Peluk aku Mas," pintanya dengan memohon.


"Apa? Dingin?" ucap Jack bingung, 'Maaf, Jeff, aku harus memeluknya,' batin Jack langsung membalas pelukan Irma dan membawanya masuk kedalam mobil.


"Masuklah, dan pakai ini," titah Jack setelah pintu mobilnya terbuka. Dia mengambil jaketnya yang sengaja tertinggal di mobil..


"Tapi, kamu, Mas?" tanya Irma melihat tubuh kekasihnya yang sudah basah kuyup.


"Jangan khawatirkan aku. Lebih baik, pakai ini. Dan aku akan mengantarkan mu pulang," ucap Jack tidak ingin di bantah.


Irma menurut, dia mengambil jaket yang berada di tangan Jack lalu memakainya, hawa dingin yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya pun mulai berkurang, walaupun bibirnya masih bergetar.


"Tunggu di sini, aku akan kembali ke Caffe," titah Jack kemudian menutup pintu mobil dan berlari ke Caffe memesan minuman hangat untuknya dan Irma.


'Sejak kapan aku mengkhawatirkan seorang wanita? Oh Tuhan, mungkin, aku sudah gila. Atau, hari ini aku benar-benar mulai gila,' batin Jack,


***


Di dalam kamarnya yang tidak terdapat ventilasi yang cukup. Dinda sedang mondar mandir, bibirnya menggigit jarinya sampai berdarah.


"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin, mereka melakukan hubungan seperti itu dengan pintu yang terbuka. Apa mereka tidak takut, jika anak tirinya tahu dan melihatnya. Atau, jangan-jangan mereka sudah melihatku dan ingin membuatku panas?" gumam Dinda, pikirannya teringat saat mengintip mantan suaminya yang sedang melakukan hal dewasa di atas ranjang.


"Ahhh, siall! Aku tidak bisa menggunakan cara halus seperti ini. Aku akan gunakan cara yang lebih halus dan menyakitkan, tapi ... cara apa itu?'


***


"Bagaimana sayang? Berhasil kan?" tanya Steven setelah menutup pintu kamarnya.


"Aku bahkan tidak melihatnya, dan kenapa, dia mengintip kita, Mas," ujar Zena memakai pakaiannya.


"Sudahlah sayang, jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kita tidur," jawab Steven meregangkan otot-ototnya. Tubuhnya terasa lelah setelah melakukan pertempuran yang tidak terduga.


"Kamu yakin sudah mengunci pintu Mas, aku tidak mau, dia datang merayumu di saat aku sudah tertidur, Mas."

__ADS_1


"Hemm ...," jawab Steven memeluk istrinya dan tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus darinya.


Ke esokan harinya, tepat di meja makan. Semua orang di kediaman rumah Steven, dikejutkan dengan teriakan Dinda yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Aaaaa ...," teriak Dinda mengejutkan Bi Sari yang sedang memasak di dapur.


Jack yang baru saja tertidur pun terbangun karena teriakan dari wanita sebelah kamarnya.


"Siapa sih, malam-malam begini teriak-teriak. Apa dia tidak tahu, kalau aku baru memejamkan mata!" gerutu Jack turun dari ranjang lalu berjalan keluar kamar.


"Aaaaaa ... wajahku, tubuhku, kakikku!" teriaknya lebih kencang.


"Hei, siapa yang menyuru--" ucapan Jack terhenti setelah mengucek matanya berulang kali dan memastikan wanita di hadapannya adalah mantan istri bossnya.


"Ada apa Nyonya Dinda? Ini masih malam, dan saya masih mengantuk," ujar Jack, tubuhnya dia senderkan di dinding tembok.


"Malam! Kau bilang ini malam!" pekik Dinda melihat jam di dinding dapur yang sudah menujukan pukul 7 pagi.


"Iya Nyonya, lain kali, tolong jaga nada bicara Nyonya, karena tidur saya terganggu dengan suara Nyonya yang luar biasa merdu," jawab Jack memejamkan matanya kembali.


"Den Jack, apa semalam aden tidak pulang?" ujar Bi sari mengguncang tubuh bodyguard bossnya, "Bangun den, ini sudah siang. Memangnya aden tidak berjaga atau mengantarkan Tuan kecil Rio sekolah," sambungnya lagi.


"Siang?" gumam Jack membuka matanya lebar, "Ini sudah siang Bi?" tanyanya memastikan.


"Iya, den," jawab Bi Sari menunjuk jam di dinding dapurnya.


"Astaga!" Jack menepuk jidatnya, "Aku harus mandi dan bersiap-siap," titah Jack berjalan dengan sempoyongan.


"Jack, kau mau kemana? Sarapan pagi dulu," titah Zena yang baru saja tiba di meja makan.


"Jack, kau tidak apa-apa kan?" tanya Steven saat melihat tubuh lemas Jack.


"Emm aku, eh maksudku saya baik-baik saja Tuan. Hanya saja saya, Hoaaammm ..." Jack menguap.


"Kamu baru pulang?" tanya Zena saat melihat pakaian dan wajah anak buah suaminya yang berantakan.

__ADS_1


"Hei, kau mabuk ya!" pekik Steven.


"Emm ... saya izin beristirahat sebentar Tuan, mata saya terasa berat," ujar Jack melangkah menuju kamarnya dengan tubuh yang sempoyongan.


Bugh ...


Tidak sengaja, tubuh Jack menabrak pintu kamarnya.


"Jack kau tidak apa-apa kan?" tanya Zena meringis kesakitan saat melihat Jack terjatuh.


"Tidak apa-apa Nyonya, anda tenang saja," jawab Jack cengengesan, lalu masuk ke kamarnya.


"Kenapa dia Mas? Apa ada masalah lagi?" tanya Zena berjalan sambil mengusap perutnya yang sudah membesar.


"Mabuk, dia mabuk. Biarkan saja, jangan berinteraksi dengannya dulu biar Rio, aku yang mengantarnya," jawab Steven menarik kursi dan memerintahkan istrinya untuk duduk.


Merasa diabaikan, Dinda menendang meja di dekatnya, dirinya kesal saat melihat keharmonisan keluarga baru suaminya.


'Selama bersamaku, Steven tidak pernah memperlakukanku seperti itu,' batin Dinda meyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Stev, memangnya tidak ada kamar selain kamar ini! Lihat mataku, sudah seperti panda. Dan lihat tubuhku, semua otot-ototku terasa kaku, karena kasur yang sangat keras. Oh satu lagi, di mana pakaianku, aku meninggalkan beberapa pakaianku di sini," ujar Dinda menjatuhkan bokongnya di samping mantan suaminya.


"Semua pakaianmu sudah aku bakar dan sumbangkan pada orang yang membutuhkan. Lebih baik, setelah sarapan pagi ini, kau pulang. Dan jangan pernah kembali ke sini lagi."


"Kau, kau mengusirku!" ucap Dinda tak percaya.


"Mbak, bukannya kami mau mengusir Mbak, tapi kita juga tidak mau mendapat cibiran dari tetangga, karena Mbak menginap di rumah kami terlalu lama," timpal Zena meremas jarinya di bawah meja makan. Dirinya tidak terima melihat mantan istri suaminya duduk bersebelahan dengan suaminya.


"Di sini kawasan elite, tidak ada tetangga yang akan mencibir, atau jangan-jangan ... kau yang sudah menghasut Steven agar mengusirku?" tuduh Dinda.


"Seharusnya kau berterimakasih pada istriku, andai saja, dia tidak mengizinkanmu menginap di sini, pasti sudah aku tendang kau dari rumahku," ujar Steven beranjak dari tempat duduknya dan menjatuhkan bokongnya di kursi samping istrinya.


'Lihat saja, aku tidak terima dengan penghinaan kalian. Awas saja nanti,' batin Dinda mengepal erat tangannya.


"Setelah ini, aku akan memerintahkan sekertaris Nanda untuk mengantarkan mu pulang. Tidak ada alasan hujan dan lainnya," ucap Steven.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2