
"Apa kamu menyukai rasa Durian Mas, aku lihat ... kamu sangat menikmatinya," ujar Zena, dia kembali memakan es krim rasa coklatnya.
Zena memang sengaja membeli es krim rasa Durian dan coklat. Tapi dia hanya memakan rasa coklat, dan duriannya dia sisihkan untuk suami dan anak buahnya.
"Emm, enak sayang ... enak banget," ujar Steven tersenyum kaku. Rasa dan bau Durian begitu menyengat di hidungnya, dia melihat sekilas pada Jeff yang sedang terkikik.
"Jeff, diam. Jangan tertawa, tidak ada yang lucu!" ujar Steven marah membuat Jeff berhenti tertawa.
"Ma-maaf Tuan, saya sedang menertawakan bungkus es krim ini. Di sini terlihat gambar beberapa gambar orang memakan Durian dengan ekspresi masam, hehehe ...," jawab Jeff terkikik dalam hati.
"Hah, mana Jeff ... di mana ada gambar orangnya, dimana ... aku ingin melihatnya, hahaha," kekeh Zena melihat Jeff memakan es krimnya belepotan.
"Jeff!" pekik Steven membuat Jeff benar-benar diam.
"Sudah, sudah jangan bertengkar. Ini aku masih mempunyai 6 es krim, lebih baik kalian bagi dua ya, karena aku tidak menyukai rasa Durian, dan es krim rasa coklatku sudah habis,"
"Apa!"
"Tidak menyukai?" ulang Jeff dan Steven bersamaan, membuat beberapa penumpang di sekitarnya menggerutu kesal.
"Hei, kalian bisa diam tidak!"
"Hei, jika ingin berteriak di dalam hutan saja!"
"Anakku sedang tidur, dan kalian membangunkannya!"
Begitulah komentar pedas para penumpang, membuat Steven dan Jeff emosi,
"Memang kalian siapa hah!" pekik Steven berdiri, tapi segera mungkin Zena menarik tangan suaminya yang sedang emosi agar duduk ditempatnya.
"Kalian tidak tahu, siapa Tuan Steven! dia adalah bos saya ... bos yang memiliki beberapa perusahaan terbesar di Asia," timpal Jeff membuat Steven menyilangkan kedua kakinya tersenyum.
"Jeff diam, duduk!" titah Zena membuat Jeff mendudukkan bokongnya kembali.
"Maaf semuanya, mereka berdua jika sedang bercanda memang seperti ini, tidak tahu situasi dan kondisi. Sekali lagi saya meminta maaf atas nama suami dan teman suami saya,"
__ADS_1
"Terimakasih," ujar Zena tersenyum kaku.
"Ngakunya bos besar, tapi tidak mampu membeli tiket VIP" gerutu salah satu penumpang membuat emosi Steven kembali memuncak.
"Hei kau!" Hardik Steven menuding dengan jarinya.
"Kau bilang apa hah, jika bukan karena istriku yang meminta, aku tidak sudi duduk berdampingan dengan kalian," sambung Steven dengan mata merahnya.
"Mas, duduk Mas, jangan mempermalukan dirimu seperti ini," ujar Zena yang menarik tangan suaminya.
Seakan tuli, Steven semakin memaki dan mengumpat seseorang yang mengejeknya, "Jeff, cari tahu dia. Berikan hukuman berat untuknya, karena sudah berani menghina aku di depan umum," ujar Steven lagi.
"Mas, sudah Mas, duduk ...,"
"Duduk, atau aku akan pindah tempat duduk," sambungnya lagi membuat Steven mau tidak mau duduk di tempatnya.
Zena tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya, "Mohon maaf semuanya," ucap Zena yang diangguki beberapa penumpang.
Setelah mendapat maaf dari penumpang, pandangan Zena beralih pada suaminya dan Jeff, "Kalian mau membanggakan diri kalian hem?" tanya Zena menatap kedua pria nya secara bergantian.
"Benar apa yang dikatakan Jeff, mereka sangat keterlaluan. Bahkan mereka berani merendahkanku,"
"Sudah aku peringatkan beberapa kali lebih baik kita membeli tiket VIP agar lebih leluasa, kenapa kamu memilih tiket semacam ini, lihat ... di sini kita berujung dengan perdebatan," ujar Steven kesal, dia menekuk salah satu kakinya dan diletakan di atas paha kaki satunya.
Mendengar suara tegas Steven, Zena merasa jika suaminya sedang memarahinya. Tak terasa air mata di pelupuk matanya kembali lolos, bahkan es krim yang berada di genggamannya sudah meleleh membasahi tangannya.
"Hiks ... hiks ... aku tidak percaya ... aku di bentak suamiku sendiri di depan umum hiks ... hiks ...," gumam Zena.
Melihat istrinya menangis, Steven segera mengambil tissue dan membersihkan tangan istrinya yang terkena lelehan es krim.
"Bukan seperti itu sayang, aku tidak membentakmu. Aku hanya kesal dengan orang-orang tadi, jangan menangis," ujar Steven, sambil mengelap lelehan es krim ditangan istrinya sampai bersih.
"Sudah, kali ini sudah memakan es krim nya. Sekarang kamu tidur, ini sudah malam, biar Jeff yang menghabiskan beberapa es krim yang tersisa," sambung Steven, menarik istrinya ke dalam pelukan hangat.
"Jangan menangis, kasihan anak kita. Kamu tidak mau kan anak kita terlahir menjadi anak yang cengeng," tanya Steven menghapus sisa air mata yang masih tersisa di pipi cantik istrinya.
__ADS_1
"Tidak Mas, aku tidak mau anak kita cengeng, dan aku juga tidak mau anak kita mempunyai sifat sepertimu, yang Arrogant," ucap Zena yang melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
Steven mengerutkan keningnya, "Mana ada, anak kita harus mempunyai sikap seperti aku yang tegas, dan berwibawa," jawab Steven cepat.
"Menurutmu aku tidak tegas dan berwibawa, Mas," tanya Zena menatap suaminya yang menggelengkan kepalanya.
"Eh ... maksudku bukan seperti itu sayang, kamu--" ucapanya terhenti saat Zena membungkam mulutnya dengan tangan.
"Sudah Mas, aku tidak mau berdebat denganmu. Yang aku inginkan, anak kita mempunyai sikap dan sifat seperti Dave yang lembut, perhatian, penyayang, dan murah senyum pada semua orang," ujar Zena membayangkan hari demi harinya bersama Dave, sahabatnya.
"Jika kamu membuatnya dengan Dave, itu bisa terjadi. Tapi jika kamu membuatnya dengan aku, suamimu. Itu tidak akan terjadi," gerutu Steven yang tidak suka dengan istrinya yang memuji temannya itu.
"Nyonya, Tuan sedang cemburu. Sebaiknya Nyonya tidur saja, jangan ganggu singa yang baru bangun," timpal Jeff sambil menyengir kuda saat Steven melototkan matanya.
"Aku ingin dia cemburu Jeff, aku belum pernah melihatnya cemburu," ujar Zena tersenyum.
Tak terasa pesawat yang ditumpangi Steven sudah sampai dan mendarat sempurna di Bandara Internasional jakarta.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Steven saat melihat wajah istrinya yang pucat, "Ayo kita turun, atau mau aku gendong," sambungnya lagi.
Tanpa berkata, Zena mengalungkan kedua tangannya di leher Steven, tubuhnya terasa lemas saat memakan banyak es krim.
"Jeff, bawa barang-barangku. Aku akan menggendong istriku," titah Steven yang diangguki Jeff.
"Baik Tuan,"
Kemudian mereka turun dari pesawat dengan posisi Steven menggendong Zena ala Bridestyle.
"Mas, aku kekenyangan makan es krim, tubuhku seperti tidak bertenaga," ucap Zena menyembunyikan wajahnya di dada kekar Steven
"Kita ke rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu padamu," jawab Steven cepat.
"Iya Mas, terimakasih sudah mengkhawatirkanku," ujar Zena tersenyum.
Bersambungš
__ADS_1