
Setelah meratapi nasib di dalam kamar mandi, Zena yang sudah bisa mengontrol perasaannya pun segera kembali, dia takut terlalu lama di kamar mandi akan membuat Steven semakin marah lagi
Krek, pintu kamar mandi dibuka oleh Zena, melihat lampu sudah dipadamkan hati Zena terasa lega, dia berjalan dan menaiki ranjangnya, disempatkan Zena memandang wajah tegas dan tampan Steven yang sudah terlelap
Tanpa diminta tangan Zena tiba-tiba terulur membelai rahang keras Steven "Aku akan mematuhi semua perintahmu bukan karna keselamatan orang tuaku, tapi karna kau suamiku, maaf jika aku melanggar perjanjian itu, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku mencintaimu, aku tak meminta cinta itu datang, maafkan aku" Setelah berkata menyampaikan seluruh perasaannya pada Steven, Zena merebahkan tubuhnya lalu tertidur dengan posisi membelakangi Steven,
Ke esokan harinya, Steven mendapat kabar dari negara J bahwa Rio sudah sadarkan diri,
"Aku akan pergi menjenguk ibu, kau diamlah dirumah, Nanda akan menjagamu"
"Ingat jika ada yang menyerangmu, jangan mengatasinya sendiri seperti kemarin, suruh Nanda beraksi" Steven berbicara lalu mendekatkan wajahnya pada Zena
Jantung Zena berdetak dua kali lebih cepat saat Steven mendekati wajahnya, fikiran di otaknya sudah travelling
Cup.
Steven mengecup kening Zena lalu pergi berjalan keluar rumah dan memasuki mobilnya,
"Dia menciumku? " Gumam Zena tak percaya, dia meraba keningnya yang baru saja dicium Steven, seketika senyumnya langsung mengembang, dia berlari mengejar Steven tapi sayang, Zena melihat mobil Steven sudah berjalan keluar gerbang rumahnya
Di satu sisi lain, sekertaris Nanda heran dengan sikap Zena yang senyum-senyum sendiri sejak kepergian Steven
"Apa kau lihat-lihat" Ketus Zena pada sekertaris suaminya yang sedang menatap heran
"Nyonya, apa Nyonya sedang berbahagia? "
"Tentu saja" Ucap Zena berjalan sambil bersenandung ria, dia memencet tombo liftnya lalu masuk kedalam lift
Saat lift tertutup tiba-tiba fikiran Zena tak tenang, terlintas foto kemesraan suaminya dengan selebgram itu mengakibatkan Zena berfikir buruk pada suaminya
Pintu lift terbuka, Zena tak jadi naik keatas kamarnya, dia mencari keberadaan sekertaris suaminya
__ADS_1
"Sekertaris Nanda" Pekik Zena saat melihat Nanda masuk ke dalam ruang kerja Steven
Merasa dirinya dipanggil, sekertaris Nanda pun menoleh sumber suara "Ada apa Nyonya memanggil saya" Tanya sekertaris Nanda heran, bukannya Nyonya mudanya baru saja kembali ke kamar
"Huh! " Zena mendekati sekertaris suaminya itu "Emm aku mau bertanya boleh" Wajah yang sempat berseri-seri kini berubah menjadi wajah yang cemas
"Silahkan"
"Emm, apa Steven pergi bersama selebgram ganjen genit itu? " Tanya Zena lirih dan ragu membuat sekertaris Nanda tertawa
"Apa Nyonya cemburu? Dan kenapa Nyonya memanggil Nona Sheila ganjen genit? Bukankah Nyonya fans berat Sheila"
"His kau ini! " Geram Zena kesal "Bagaimana aku bisa ngefans dengan pelakor hah! Dulu aku memang fans dia tapi sekarang dia adalah musuhku"
"Jawab pertanyaanku, apa suamiku pergi bersama pelakor itu? "
"Saya tidak tahu Nyonya, saya juga tidak punya wewenang untuk bertanya lebih pada Tuan Muda, jika Nyonya penasaran, Nyonya bisa tanyakan pada Tuan Steven langsung" Jawab sekertaris Nanda yang terdengar menjengkelkan di telinga Zena
"Kau! " Tunjuk Zena "Apa sikapmu seperti ini pada semua wanita? "
"Nyonya, anda benar-benar berbeda," Ujar sekertaris Nanda yang kembali berjalan menuju ruang kerja Steven
Di dalam ruang kerja Steven, dia langsung memencet tombol yang menghubungkan ruang bawah milik Steven,
Terdapat beberapa buah senjata koleksi milik Steven yang terjejer rapih di dalam almari yang besar
Sekertaris Nanda melangkah lagi dan duduk di meja kerja Steven, dia mencari berkas yang mengangkut selebgram yang menjadi simpanan Steven
"Apa boleh buat, aku harus mengeceknya sendiri, aku harus memantaunya dari jauh" Gumam sekertaris Nanda sambil mencari dokumen yang berisi data diri Sheila
Setelah menemukan berkas yang dimaksud, sekertaris Nanda mulai membacanya dengan teliti,
__ADS_1
Bayangan almarhum Ayah Steven selalu terngiang-ngiang di kepala Nanda, karna berkat pertolongan Ayahnya Steven, dia bisa hidup sampai sekarang,
"Om, aku akan menjaga Steven sampai maut menjemputku, dan aku berjanji itu" Kata-kata yang dia sebutkan saat detik-detik kematian Ayah Steven yang bernama Gatra Fernando
Setelah membaca semua berkas tentang Sheila, Nanda berusaha mencatat hal yang harus dia pastikan, lalu meletakkan berkas itu ketempat semula agar Steven tak mencurigainya, beruntung ruangan ini tidak di beri CCTV oleh Steven, dan beruntung juga Steven sangat mempercayai dia dalam urusan apapun
Melihat sekertaris suaminya bergerak cepat, membuat Zena yang sedang menonton tv penasaran "Hai sekertaris" Ucap Zena menghentikan langka Nanda yang terburu-buru
"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu? " Tanya sekertaris Nanda dengan lembut saat wajahnya sudah menatap istri Tuan mudanya
"Aku jenuh dirumah, boleh aku keluar mencari udara segar"
"Dan aku akan melamar pekerjaan di SC Group" Sambungnya lagi membuat Sekertaris Nanda tersenyum karna Steven menuruti perintahnya
"Boleh nyonya, biar saya siapkan supir beserta anak buah saya untuk mengikuti Nyonya" Ucap sekertaris Nanda yang langsung merogoh ponselnya
Mendengar anak buah membuat Zena kesal, dia menghampiri sekertaris suaminya itu
Plak!
Zena memukul ringan pundak sekertaris suaminya "Apa-apaan, aku tidak butuh anak buahmu, lagipula aku hanya ingin melamar kerja dan menghirup udara segar saja, sebelum Steven kembali" Kesal Zena tak setuju dengan rencana sekertaris suaminya itu.
"Nyonya, mulai hari ini dan seterusnya rumah ini akan dijaga beberapa pegawai yang handal, dan jika Nyonya ingin berpergian, Nyonya harus membawa pengawal untuk menjaga keselamatan Nyonya diluar, karna saya atau Tuan Muda tidak mempunyai waktu untuk menjaga Nyonya 24 jam, apa anda mengerti? "
"Pengawal? " Kening Zena mengkerut "Apa rumah ini rumah Sultan yang mempunyai banyak benda berharga sehingga kita harus menyediakan pengawal? " Tanya Zena, dia berjalan kearah jendela memastikan ucapan sekertaris suaminya itu benar atau tidak
"Dan benda berharga itu adalah Nyonya" Gumam sekertaris Nanda dalam hati, ucapan Steven semalam membuat dia harus begadang dan tidak tidur, mencari beberapa anak buah baru adalah pekerjaan yang tidak mudah, karna dia tidak mempunyai stok anak buah lagi,
Zena yang melihat banyak pria bertubuh tinggi, tegap dan mengerikan pun langsung menutup tirai jendela itu, dia kembali berjalan menuju sekertaris suaminya
"Kau tahu, mereka semua membuatku takut,"
__ADS_1
"Aku tidak mau mereka semua di depan rumah ini, bagaimana jika dia berbuat yang senonoh pada-" Ucapan Zena terputus oleh sekertaris suaminya
Bersambungš