
Perlahan Riski membuka matanya. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang telah lama terbaring kaku.
"Aku di mana?" tanya Riski saat melihat dokter Riyan di sampingnya.
"Anda berada di rumah sakit,"
"Rumah sakit?" ulang Riski melihat semua ruangan yang serba putih.
"Aww kepala saya sakit dok! Sakit dok!"
"Ada apa dengan aku dok? kenapa aku bisa ada di sini? dan sudah berapa lama aku di rumah sakit?" tanya Riski yang mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya berada di rumah sakit.
"Tuan Steven telah menolong Anda. Dia yang membawa Anda kemari bersama anak buah Anda," ujar dokter Riyan.
"Steven?"
"Sekarang di mana dia dok?"
"Dan di mana pria tua itu dok! aku harus memberikannya pelajaran karena sudah membuatku seperti ini," ujar Riski yang berusaha bangkit dari tidurnya.
Dokter Riyan menghembuskan nafasnya kasar, dia menghalangi Riski bergerak, "Kesehatan Anda belum pulih total. Anda masih memerlukan banyak istirahat," ujar dokter Riyan membenarkan posisi Riski.
"Ta-tapi dok! aku harus membalas perbuatannya,"
"Dan di mana adikku!"
"Adik? tidak ada adik atau siapapun yang menjenguk Anda, karena penjagaan yang sangat ketat!" ujar dokter Riyan.
"Tapi ada satu wanita yang selalu melihat kondisi Anda," sambungnya lagi.
"A-apa itu Zena, dok? wanita yang aku cintai?" tebak Riski.
"Bukan!" jawab seorang wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan Riski.
"Akulah yang selalu memantau keadaanmu. Dan akulah yang menghalangi dokter ini agar tidak melepaskan alat bantu mu," sambung Sheila.
"Siapa kamu? aku tidak mengenalmu?" tanya Riski memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Aww sakit dok! sakit!" rigis Riski membuat dokter Riyan mengecek keadaan Riski.
"Maaf, sebaiknya Anda beristirahat. Jangan terlalu memikirkan kejadian masalalu," ujar dokter Riyan saat selesai mengecek keadaan pasiennya.
__ADS_1
"Kau, kau seharusnya tidak berada di sini. Bagaimana jika bodyguard itu melihatmu dengan pakaian seperti ini!" kesal dokter Riyan saat melihat Sheila tidak memakai pakaian suster.
"Saya? saya membawa pakaian Suster dok, sewaktu saya hendak mengganti pakaian. Tiba-tiba saya mendengar suster yang sedang berjaga di depan berbicara, jika Riski sudah sadar,"
"Jadi, lebih baik ... saya memutuskan untuk mengganti pakaian di sini," ujar Sheila membawa paperbag berisi pakaian suster.
"Huh!"
"Cepat ganti pakaianmu, jika tidak ... tamatlah riwayatmu ditangan Pak tua itu," ujar dokter Riyan mendorong tubuh Sheila pergi.
Riski yang baru saja tersadar lalu mendengar pembicaraan dokter juga wanita yang tidak dikenalinya pun bingung. Dia menatap bergantian kedua manusia yang sedang berdebat.
"Apa yang kalian bicarakan? Pak tua? bodyguard?"
"Siapa mereka?" tanya Riski menghentikan perdebatan antara dokternya Riyan dan Sheila.
"Tida--" ucapan dokter Riyan terhenti saat Sheila menempelkan jarinya ke bibirnya.
"Hust!! Diam!, biar saya yang menjelaskan," titah Sheila,
Ekhem!...
"Jadi begini, Pak tua yang di maksud dokter itu--"
"Apa ada keributan di luar?" tanya Sheila menatap dokter Riyan yang mengedikan bahunya.
"Tidak tahu, jika penasaran ... lihatlah ke depan," ucap dokter Riyan dengan ketus.
"Baiklah, baik ...."
"Tunggu, saya akan mengecek keadaan di luar ruangan, tunggu, kalian tunggu ... okeh!" titah Sheila meletakkan paperbagnya di atas meja dan mulai berjalan menuju pintu ruangan.
"Ada-ada saja. Padahal aku akan membuat drama agar Riski mengira jika aku dewa penyelamatnya," gerutu Sheila memoncongkan bibirnya.
Setelah sampai di dekat pintu, mata Sheila membulat sempurna. Dia melihat bodyguard dan juga pria tua bangka yang bernama Leo sedang berdebat dengan suster di luar.
"Kenapa dia bisa ada di sini!" gumam Sheila panik, lalu berlari menuju dokter dan Riski yang sedang menatapnya.
"Ada apa?" tanya dokter Riyan saat melihat Sheila panik.
"Di luar dok! di luar ada Leo yang berusaha menerobos masuk. Saya harus bersembunyi di mana ini!" ujarnya panik sambil menggigit ujung kukunya.
__ADS_1
Tapi berbeda dengan Riski, dia justru senang saat mendengar nama Leo, "Suruh dia masuk, dan aku akan beri dia pelajaran, karena sudah berani membuatku seperti ini!" seru Riski dengan tangan meremas erat sprei kasurnya.
Sheila menepuk jidatnya, "Jangan, aku eh maksud saya, saya mohon ... tetaplah berpura-pura koma, atau hidupmu akan berakhir saat ini juga. Ingat kondisimu belum pulih total," ujar Sheila yang di setujui oleh dokter Riyan.
"Apa yang dikatakan Nona ini benar, lebih baik Anda tetap berpura-pura koma, dan saya akan pasangkan saluran oksigen lagi," timpal dokter Riyan.
"Tapi aku--" mulutnya sudah dibungkam oleh Sheila.
"Diam! atau saya akan memberikan obat tidur dengan dosis tinggi!"
"Percayakan semuanya padaku!" ujar Sheila, "Dok, pasangkan alat-alat yang sudah terlepas, agar Leo tidak curiga!" titah Sheila yang di setujui oleh dokter Riyan.
"Dok! saya bersembunyi di mana? tidak mungkin saya bersembunyi di dalam kamar mandi," gerutu Sheila saat melihat dokter Riyan selesai memasangkan alat bantu Riski.
"Mari ikut saya Nona. Ada tempat persembunyian paling aman dan tidak diketahui oleh orang," ujar dokter Riyan berjalan membuka jendela besar.
"A-apa maksudmu dok!" tanya Sheila saat melihat jendela itu terbuka, dia memandang dokter Riyan dengan tatapan aneh.
"Nona turun, dan bersembunyilah. Memang ini sangat berbahaya tapi hanya tempat ini yang aman, lagipula hanya sebentar," ujar dokter Riyan membuat Sheila menggelengkan kepalanya.
"Saya hanya mempunyai nyawa satu. Bagaimana jika saya terpeleset lalu jatuh!"
"Apa dokter akan menjamin nyawa saya hah!" kesal Sheila.
"Jika anda terjatuh, maka pihak rumah sakit akan menangani Anda, dan jika Tuhan masih berbaik hati, maka Tuhan akan memberikan nyawa cadangan untuk Anda," jawab dokter Riyan enteng.
"Sudah cepat! kita tidak mempunyai banyak waktu!" sambungnya lagi membuat mau tak mau Sheila mengangkat kakinya dan keluar dari jendela dengan sangat hati-hati.
"Dok saya takut dok, jangan tinggalkan saya sendirian di sini," ujar Sheila saat dokter Riyan menutup jendela dan tirai jendelanya.
Setelah selesai menutup jendela, tiba-tiba Leo datang diikuti bodyguard yang selalu menjaganya.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Leo saat melihat dokter Riyan menutup tirai jendela.
"Kenapa harus ditutup dok!" tanyanya lagi.
"Tidak baik pasien mendapatkan sinar matahari yang berlebihan," ujar dokter Riyan, dia melihat paperbag milik Sheila yang tergeletak di atas meja.
"Apa ada yang menjenguk dia?" tanya Leo saat melihat paperbag di atas meja.
"Tidak ada, paperbag itu milik Suster yang tertinggal, karena saya menyuruhnya mengambil cairan infus yang hampir habis,"
__ADS_1
"Kapan alat bantu Riski akan di lepas, ini sudah 3 bulan lebih. Dan aku sudah mengikhlaskan kepergian anakku,"
Bersambungš