
"Hallo, ada apa menelfon ku! aku sedang bersama Leo!" ketus Sheila lirih, sesekali ekor matanya melirik pada tempat duduk yang diduduki Leo.
"Aku membutuhkan bantuan mu. Aku belum bisa membujuk Al, maka dari itu ... ajaklah pria tua itu tinggal di sana lebih lama," titah Riski dari sebrang sana.
"Apa!" pekik Sheila kemudian menutup mulutnya, diliriknya lagi Leo yang tengah menatapnya, "Aku tidak mau! aku tidak mau tinggal bersamanya lagi. Aku benar-benar tersiksa, aku diperlakukan seperti anak kecil!" sambung Sheila.
"Wahh ... enak dong, kuras saja semua harta yang dia bawa. Jadi, jika aku berhasil mengambil semua hartaku, dia akan menangis darah di hadapanku."
"Itu bukan urusanmu! sekarang, cepat selesaikan semuanya, dan beritahu aku. Aku benar-benar sudah bosan dengan drama ini. Dan satu lagi, jangan pernah mengadukan semua kebusukan ku kepada keluargaku. Aku tidak mau mereka kecewa denganku," jawab Sheila.
"Itu bisa di atur jika, kau ... menuruti semua perintahku!" ketus Riski, "Ingat! berbuatlah sewajarnya saja, jangan sampai--"
"Aku bukan wanita murahan seperti dulu yang gampang dimanfaatkan, aku hanya wanita bodoh yang terjebak dalam permainan konyol ini!" potong Sheila menutup telfonnya.
"Siapa yang wanita bodoh?" tanya Leo yang tiba-tiba di belakang Sheila.
Sheila memutar tubuhnya, dia mendapati Leo yang tengah berdiri menatapnya, 'Aduh, semuanya kacau. Aku sudah ketahuan!' batin Sheila meremas ponselnya erat.
"Mas, aku bisa jelasin semuanya. Ini tidak seperti yang kamu duga," titah Sheila berusaha meraih tangan Leo.
***
Di satu sisi, tepatnya di kediaman seorang dokter wanita cantik yang bernama Irma.
Menangis, akan membuat hatinya sedikit tenang.
"Bagaimana kabarmu, Mas? kamu di mana? kenapa sampai sekarang ... Tuan Steven belum bisa mendapatkan informasi tentangmu. Apa sebenci ini kamu sama aku, Mas! padahal, aku cuma korban. Aku korban seperti mu, aku korban dari kembaran mu itu!" gumam Irma, tubuhnya meringkuk di atas ranjang. Punggungnya bergetar.
"Apa aku harus menggugurkan kandungan ini? aku tidak mungkin mempertahankan calon anak yang ada di rahimku dengan keadaan seperti ini. Aku tidak mau mengecewakan Ibu dan Mas Al, dan apa kata tetangga. Seorang dokter kandungan, justru hamil diluar nikah. Tidak memberikan contoh yang baik untuk pasiennya," sambungnya lagi.
Tok ... Tok ....
"Irma! makan malam yuk?" ucap seorang pria dari luar kamarnya, "Irma! kata Ibu dari kemarin kamu tidak keluar rumah, kamu juga sempat bolos bekerja. Apa kamu mempunyai masalah?" sambungnya lagi.
Mendengar suara Kakaknya memanggil namanya, Irma langsung membersihkan air matanya dan menetralkan isakan tangis yang membuat nafasnya tidak beraturan.
"Aku tidak lapar, Mas!" teriak Irma menuruni ranjang dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
"Buka pintunya, aku mau bicara sebentar!" titah Al yang merasakan kejanggalan dalam beberapa hari ini.
Hoek ... Hoek ....
__ADS_1
Perut Irma terasa mual kembali. Membuat Al yang berada di luar kamar samar-samar mendengar suara muntahan adiknya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Al sekali lagi.
Tak ingin menjawab ucapan Kakaknya, Irma semakin memuntahkan semua isi makanannya membuat Al semakin cemas.
Tak ingin berdiam diri terlalu lama, Al segera meminta kunci cadangan kamar adiknya kepada Ibu yang tengah menonton televisi.
"Ibu, aku minta kunci cadangan kamar Irma. Ibu meletakkan di mana?" tanya Al setelah melihat ibunya di ruang tamu.
"Ada di tempat biasa. Memangnya, Irma kenapa? apa dia tidak mau membukakan pintu kamarnya?" tanya Ibu Irma saat melihat kantong plastik yang Al bawa masih berada di genggaman Al.
"Biar aku ceritakan nanti, sekarang ... aku mau menerobos kamar Irma!"
"Ayo, Ibu ikut!"
"Biarkan aku bicara empat mata dengan Irma, Bu!" ujar Al menghentikan langkah kaki ibunya.
"Tapi--"
"Percaya padaku, aku akan mengatasi semua masalah ini!" ucap Al kemudian berjalan menaiki tangga agar sampai di kamar adiknya yang terletak di lantai 2.
Al berusaha mencari keberadaan adiknya, dia meletakkan satu kantong plastik yang dibawanya di atas meja, kemudian dia berjalan menuju pintu kamar mandi yang terbuka.
Hoek ... Hoek ....
"Tubuhku terasa lemas! aku benci moment ini!" gumam Irma memijat tengkuknya sendiri.
Hoek ... Hoek ....
"Ada apa? kenapa muntah-muntah?" tanya Al setelah berada di dekat adiknya.
Irma mendongakkan wajahnya, dia mentap dirinya dan kakaknya di pantulan kaca wastafelnya.
"Mas! kebiasaan masuk kamar orang sembarangan!" gerutu Irma, "Jangan dekat-dekat denganku, Mas! aku tidak suka bau mu!" sambungnya lagi.
"Shitt! ada apa dengan tubuhku?" ucap Al mengendus-endus aroma pakainya sendiri, "Tubuh dan pakaianku, wangi!"
"Aku tidak suka dengan wanginya Mas! Mas bisa keluar? atau ... setidaknya mulai sekarang, Mas berjaga jarak denganku, karena setiap aku berdekatan denganmu, aku terasa mual!"
"Kau hamil ya!" tebak Al tiba-tiba membuat Irma terpaku sesaat kemudian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Siapa yang hamil, Mas aneh! memangnya, aku sudah menikah? tidak mungkin, aku hamil Mas! jangan aneh. Aku bersikap seperti ini, karena tubuhku sedang tidak enak," jawab Irma terkekeh.
"Jangan bohongi aku!"
"Aku tidak bohong Mas Al," ujar Irma menahan napas dan memeluk kakaknya, "Mas ... kamu bawa apa?" tanya Irma yang tiba-tiba perutnya terasa mual kembali.
"Ir! kamu tidak apa-apa kan?" tanya Al memijit tengkuk adiknya.
"Tidak apa-apa, Mas! Mas sebaiknya keluar, aku mau buang air kecil dulu," ucap Irma.
"Ciri-ciri mu seperti orang hamil," ujar Al keluar kamar mandi.
Setelah Al keluar kamar mandi, dia menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang adiknya. Pandangan selalu terfokus pada semua pajangan yang menghias dinding kamar Irma. Matanya samar-samar melihat benda yang tidak asing baginya.
Deg!
Jantungnya seakan berhenti berdetak, saat memegang benda tersebut.
"Siapa yang melakukan ini semua!" gumam Al.
***
"Aku bisa jelasin Mas, jangan marah!" titah Sheila setelah mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.
"Apa yang perlu di jelasin?" akhirnya Leo menjawab ucapannya, "Siapa yang mengatakan kamu bodoh? siapa! biar aku beri pelajaran untuknya!" geram Leo.
'Apa? aku pikir ... pria tua ini marah karena mendengarkan semua ucapanku?' batin Sheila.
"Cepat katakan! aku tahu, kamu menyembunyikan sesuatu di belakangku, kan?"
"Sekarang, katakan siapa yang mengatakan jika kamu bodoh!" titah Leo.
"Tidak ada Mas, aku yang mengatakan sendiri," jawab Sheila.
"Mas, mendengar apa saja? "
"Jangan menutup-nutupi semuanya. Aku dengar kalau kamu mengatakan dirimu sendiri bodoh. Pasti ada seseorang kan, yang memancingnya?"
'Dia pria tua, tapi cintanya benar-benar nyata,' batin Sheila.
Bersambungš
__ADS_1