
"Maaf Nyonya ini perintah" Jawab pengawal Riki
Merasa kesal dan geram, Zena berteriak "Sekertaris Nanda!!!! " Pekik Zena keras membuat kedua pengawal itu memejamkan mata, sejujurnya mereka ingin menutup kedua telinganya tapi hal itu tidak boleh dilakukan karna bisa menyinggung Nyonya mudanya,
"Sekertaris Nanda!!" Ulangnya lagi sampai beberapa kali
Sekertaris Nanda yang sudah meninggalkan rumah Steven pun tak bisa mendengar jeritan Nyonya mudanya
"Dimana sekertaris sialan itu! Apa dia tidak tahu kalau aku sedang marah dan emosi hah! " Zena berjalan menuruni tangga, diurungkan niatnya untuk masuk kedalam lift, karna jika Zena 1 lift dengan kedua pengawal itu bayangan Rey yang hampir melecehkannya terngiang di fikirannya kembali.
Tap... Tap... Tap...
Zena berlari menuruni tangga
"Hosh! Hosh! Aku lelah" Gumam Zena saat menuruni tangga "Tapi aku harus berbicara dengan sekertaris sialan itu! "
Tap... Tap... Tap...
Setelah sampai di lantai dasar, Zena berteriak lagi memanggil sekertaris suaminya itu,
"Sekertaris Nanda!! "
"Dimana sekertaris sialan itu! Kenapa disaat aku ingin membunuhnya dia tidak muncul! " Ucap Zena berlari mencari ke setiap sudut ruangan
"Dan bagaimana aku menyelinap masuk ke ruang kerja Steven jika diawasi terus oleh pengawal bayaran itu" Batin Zena yang sesekali melirik kedua pengawal yang membuntutinya
"Bi, dimana sekertaris Nanda! " Tanya Zena yang menghampiri Bibi di dapur
"Oh sekertaris Nanda sudah pergi Nyonya, memang ada yang Nyonya perlukan?"
"Pergi! Kemana dia pergi bi! "
"Kurang tahu Nyonya, tapi jika anda memerlukan sesuatu, anda bisa memintanya pada Jeff, "
"Jeff lagi Jeff lagi! Panggilkan dia sekarang" Titah Zena pada pengawalnya dengan emosi yang menggebu-gebu
Melihat Nyonya mudanya marah, bibi langsung menundukan kepalanya tak berani menatapnya "Baik, bibi akan panggilkan Jeff kemari" Jawab Bibi gemetar membuat Zena semakin kesal,
__ADS_1
"Bukan Bibi, tapi dia! " Ucap Zena mengusap pundak bi sari agar dia tidak ketakutan
"Dan Bibi bisa kembali bekerja! " Sambungnya lagi lalu tersenyum
Sekarang pandangannya beralih pada kedua pengawal yang diam saja "Kau, panggilkan Jeff! suruh dia menemuiku di ruang TV, aku mau berbicara padanya" Bentak Zena yang sudah terbakar amarah,
"Ba-baik Nyonya, biar saya saja yang memanggilkan boss, dan Riki akan menjaga Nyonya disini"
"Ah terserah kalian! cepat panggil! " Seru Zena lalu Zena berjalan menuju ruang TV sambil menggerutu tak jelas "Menahan sakit di perut, menahan sakit dihati, menahan kesal dengan tingkah sekertaris yang menyebalkan itu! Apa mereka sebagai pria tidak mengerti perasaanku! "
"Aku marah, hatiku sakit! Dan sekarang aku terjebak dalam rumah ini! " Zena mengusap wajahnya kasar lalu menjatuhkan bokongnya di kursi ruang TV
"Kau! Ambilkan aku minum! Aku butuh beberapa gelas air dingin untuk mendinginkan otak dan hatiku" Titah Zena sambil mengayunkan tangannya
"Baik Nyonya, saya akan memanggil pelayan rumah untuk mengambil air minum"
Mendengar Riki berbicara, Zena semakin kesal "Aku menyuruhmu bukan orang lain! Apa kau tuli! Aku tidak perlu di jaga sekitar ini! Lagipula aku tidak akan kabur, karna semua tempat sudah dikepung oleh rekanmu! "
"Kau ingat! aku ini istri Tuanmu!! jadi jangan banyak tingkah, cukup kau turuti perintahku!
"Ta-tapi Nyonya"
Glek, tubuh Riki semakin bergetar saat Zena sudah bangkit dan menatapnya sambil memainkan pisau itu di depan wajahnya "Apa kau tulih ha" Ucap Zena melirik setiap sudut ruangan lalu menyodorkan pisau itu di dada Riki
"Jangan Nyonya, saya minta maaf, tapi jangan bunuh saya Nyonya, saya masih mempunyai anak dan istri," Riki memudurkan langkahnya karna pisau itu sudah menodong dirinya
Zena yang mendengar pengawalnya ketakutan pun tertawa, membuat Riki semakin merinding, bagaimana bisa istri Tuannya tertawa misterius seperti itu "Hahaha"
"Nyonya, ampun Nyonya, jangan bunuh saya"
Tawa Zena semakin pecah, dia tak menyangka pengawal yang berbadan tinggi dan tegap, takut dengan pisau kecil yang berada di genggamannya
"Siapa yang mau membunuhmu! aku bukan seorang pembunuh! cepat bersihkan pisau ini, aku mau makan buah!, masih ada noda kotor yang tak bisa dibersihkan jika tidak dengan air"
"Ada-ada saja kau ini, katanya pengawal tapi takut pisau haha" Gumam Zena menggelengkan kepalanya lalu meraih tangan Riki dan memberikan pisau tajam itu
"Huh! saya fikir Nyonya mau membunuh saya"
__ADS_1
"Cepatlah! atau kau ingin aku bunuh! dan jangan lupa ambil minum untukku, tenggorokanku kering karna terus tertawa"
"Baik Nyonya, saya akan mengambil minum untuk Nyonya" Riki berjalan menjauh dari Zena, setelah melihat pengawal itu pergi, Zena segera mengendap-endap menuju ruang kerja Steven,
"Aku harus mencari surat itu dan kabur! Aku tidak mau ditindas seperti ini oleh mereka, pantas aku disuruh hamil anaknya, karna pasti bedebah itu tak mau tubuh indah selebgram murahan itu gendut karna hamil"
"Ck, aku tak akan biarkan rahimku mengandung anakmu" Gumam Zena terus menerus, saat sudah berada di dekat ruang kerja Steven, Zena melihat situasi sekitar sebelum masuk kedalam ruang kerja suaminya
"Aman"
Krek, pintu terbuka oleh Zena, tapi dari arah kejauhan, Zena dapat melihat pengawal dan Jeff menuju ruang TV
Brak, pintu kembali ditutup, dan Zena berlari menuju ruang TV
"Nyonya" Panggil Riki sambil membawa beberapa gelas air di nampan dan tak lupa dengan pisau yang sudah bersih
"Shiiit! " Umpat Zena saat Riki memanggilnya
"Su-sudah selesai?" Tanya Zena gugup sambil melirik Jeff dan Fahri
Dari arah lain Jeff dan rekannya sudah berjalan mendekati Zena
"Nyonya, sedang apa Nyonya disini? Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, Nyonya bisa minta Riki atau Fahri " Ujar Jeff lembut,
"Emm, aku disini mau menyusul Riki, aku takut Riki lupa denah rumah ini, wajar saja aku cemas, karna rumah ini sa...ngat luas" Bohong Zena,
"Oh iya, aku harus bicara dengamu! Ikut aku! " Titah Zena yang diangguki Jeff
Mereka mengikuti langkah kaki Zena yang tak lain menuju taman belakang, karna jika diruang TV itu kurang efektif bagi Zena,melihat Riki dan fahri mengikutinya Zena langsung menghentikan langkahnya
"Aku mau bicara 4 mata denganmu bukan 8 mata! " Tegas Zena pada Jeff
"Baik Nyonya" Jeff langsung memerintahkan rekannya untuk pergi meninggalkan mereka, setelah melihat kedua anak buah Jeff pergi, Zena melanjutkan langkahnya lagi, dia mendudukan bokongnya di kursi taman yang sudah disediakan
"Aku mau tanya, kenapa kau menyuruh anak buahmu menjaga pintu kamarku? " Ujar Zena yang sudah mendudukan bokongnya di kursi dan Jeff hanya berdiri di samping istri Tuan mudanya
"Maaf Nyonya, saya hanya menjalankan perintah dari sekertaris Nanda" Jawab Jeff sambil menundukkan kepalanya, melihat wajah cantik Zena membuat hati Jeff terasa sakit, dia bisa merasakan sakitnya di khianati oleh pasangannya
__ADS_1
"Nyonya cantik, wajahnya yang mulus tanpa make up membuat kaum adam berlarian mengejar cintanya, tapi kenapa Tuan justru mengkhianatinya, andai Tuan bukan orang yang kejam, pasti aku akan membawa Nyonya pergi dari rumah ini" Gumam Jeff dalam hati,
Bersambungš