Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 153_Jeff berganti Jack


__ADS_3

"Itu hal wajar," kesal Riski beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Sheila sendiri di ruang tamu, "Jangan lupa janjimu padaku, kapan kamu akan mengembalikan semua hartaku dari tangan pria tua itu!" sambung Riski lagi saat tengah berjalan menuju kamarnya.


"Ambilah hartamu sendiri. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang penuh drama ini. Aku benar-benar cape, dan aku akan berusaha mendekati Steven, masih ada sedikit rasa cintaku untuknya," ujar Sheila menarik kedua sudut bibirnya.


Mendengar jawaban dari Sheila, Riski langsung menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya agar menghadap wanita yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Sampai kapanpun kamu tidak bisa mendapatkan Steven. Pikirkan saja, istrinya lebih cantik daripada kamu. Dan pasti dia tahu, kalau kamu simpanan pria tua, pasti dia jijik dengan mu," jawab Riski, 'Dan asal kau tahu, Leo itu ayah kandung dari Zena,' batin Riski melanjutkan langkahnya.


'Benar, semua orang yang mengetahui busukku, pasti akan jijik denganku,' batin Sheila tersenyum getir, 'Lagian semaunya sudah terjadi. Lebih baik, pikirkan caramu untuk bahagia. Masalah tubuh, biarkan mengalir seperti air, karena semua sudah terjadi dan tidak bisa dirubah,'


***


Setelah mengurus perpindahan, akhirnya Jack berhasil membawa Jeff ke rumah sakit terkenal di negara J, di mana banyak alat canggih yang nantinya akan membantu kesembuhan Jeff.


"Cepatlah sadar, maaf aku tidak bisa menemanimu terlalu lama. Aku harus menggantikan mu bertugas di tempat Tuan," gumam Jack saat melihat tubuh adiknya ya terbaring lemah di ranjang.


"Nyonya, saya titip Jeff. Maaf saya sudah merepotkan Nyonya berulangkali," ujar Jack menatap Tesa yang sedang menjenguk Jeff.


"Tidak perlu meminta maaf, kalian adalah saudara jauh kami. Dan sudah seharusnya kita sesama saudara saling membantu," jawab Tesa mengusap pundak Jack, "Kamu sudah tante anggap seperti anak tante sendiri Jack," sambung Tesa lagi.


"Terimakasih Nyonya, kalian keluarga yang terbaik. Saya berjanji akan menjaga Tuan Steven dengan baik," ujar Jack tersenyum.


"Tante percaya padamu. Oh iya, satu hal yang harus kamu ketahui, jangan pernah bertindak bodoh, karena Steven tidak menyukai kecerobohan orang. Bertindaklah sesuai perintah darinya," ujar Tesa.


"Saya tahu Nyonya, saya hanya ingin bermain-main dengan orang yang sudah menyebabkan Jeff seperti ini," ucap Jack bangkit dari duduknya, "Kalau begitu saya pamit Nyonya," sambung Jack.


***


"Apa Mas, kamu meminta Jack untuk menggantikan posisi Jeff sementara waktu?" tanya Zena tak habis pikir dengan suaminya.

__ADS_1


"Bukan aku sayang, dia yang menginginkan," bela Steven.


"Aku harus menghubungi dokter Irma, bagaimana jika Jack melakukan sesuatu yang membahayakan dokter Irma, mendengar ceritamu tentang Jack dengan dokter Riyan saja sudah membuatku merinding," ucap Zena mengambil ponselnya yang tergeletak di kasurnya.


"Jangan! Jangan pernah memberitahukan apapun tentang kondisi Jeff atau Jack pada orang lain. Anggaplah Jack itu Jeff,"


"Apa maksudmu Mas?" tanya Zena, "Apa yang kalian rencanakan?"


"Jangan terlalu memikirkan masalah orang lain. Kamu sedang hamil sayang, aku tidak mau terjadi sesuatu buruk padamu, lebih baik duduklah di sini bersamaku. Kita nikmati momen berdua sebelum anak-anak kita lahir dan mengganggu moment romantis kita," ujar Steven menepuk-nepuk samping tempat tidurnya.


"Mas, aku sedang serius," ucap Zena kesal.


"Aku juga serius sayang. Sudah lama kan kita tidak melakukan--"


"Aku tidak mau Mas," tolak Zena berjalan menuju sofa.


"Dosa sayang, seorang istri tidak boleh menolak ajakan suami. Apalagi ini menyangkut--"


"Baiklah, kamu beristirahat dan aku akan menyelesaikan pekerjaanku di ruang kerja. Selamat malam," ujar Steven beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju istrinya, dia mengecup sekilas pucuk rambutnya istrinya.


"Mas, kamu gak selingkuh kan?" tanya Zena mengejutkan Steven.


"Selingkuh? Memangnya siapa yang dekat denganku? Keseharianku di kantor bersama Nanda dan di rumah bersamamu. Lalu kapan waktuku untuk berselingkuh?" jawab Steven terkekeh.


"Aku serius Mas, sudah lama kita tidak melakukan hubungan dewasa. Bukankah setiap pria terkadang tidak bisa menahan hasraatnya? Kenapa kamu bisa menahannya dalam jangka panjang?" tanya Zena menatap curiga suaminya.


'Pastilah, setiap hari aku meminum obatku, tanpa sepengetahuanmu sayang,' batin Steven sambil mengusap rambut istrinya, "Emm aku tidak tahu sayang," jawab Steven.


"Mas aku serius, beri aku jawaban yang masuk akal. Atau jangan-jangan selama berada di luar rumah atau di kantor, kamu meluangkan waktumu untuk berselingkuh?" tuduh Zena membuat Steven mengela nafasnya panjang.

__ADS_1


"Apa ada yang mencurigakan dari gerak geriku, sayang?" tanya Steven.


Zena menatap ujung rambut sampai ujung kaki suaminya. Tidak ada gerak gerik yang mencurigakan, "Mas, kenapa bertanya padaku? Berarti selama ini Mas selingkuh di belakangku?" tuduh Zena membuat Steven mengusap dadanya berulangkali.


"Kamu mau aku belikan apa? Roti bakar, sate ayam, atau kerak telor?" ucap Steven menjatuhkan bokongnya di samping istrinya.


"Mas lagi sogok aku?" ucap Zena, "Mas benar-benar selingkuh?" sambungnya lagi, "Ingat Mas, Anak-anakmu akan lahir. Apa kata mereka--"


"Hust!" Steven menempelkan jarinya di bibir istrinya, "Aku tidak selingkuh, aku tidak mencintai siapapun kecuali keluargaku ini, percaya padaku," sambung Steven menenangkan hati istrinya.


"Kali ini aku percaya padamu Mas, tapi ... lain kali jika aku mencium gerak gerik darimu, awas saja Mas. Ya sudah, belikan aku martabak manis rasa coklat dan jangan lupa minumannya," titah Zena.


"Baik Nyonya Steven," jawab Steven mencium sekilas bibir istrinya kemudian beranjak pergi.


Di saat Steven sedang mengantri pesanan istrinya, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundaknya, seketika Steven langsung menoleh.


"Hai Steven, kau ada di sini juga?" ucap Dinda mantan istri dari Steven.


"Iya," jawabnya ketus, "Untuk apa kemari? Membeli martabak?" tanyanya lagi saat menyadari wanita itu menatapnya tanpa memesan atau membeli makanan.


"Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu. Oh iya, aku sedang mengurus perceraian dengan suamiku, ternyata suamiku selingkuh di belakang aku," curhat Dinda.


"Baguslah, bagaimana rasanya? Enak kan, di selingkuhi dengan pasangan sendiri," sindir Steven dengan senyuman mengejeknya.


"Maafkan aku Steve, aku khilaf. Seharusnya aku tetap berada di sisimu. Sekali lagi maafkan aku,"


"Aku sudah memaafkan mu. Lebih baik kau pergi dari sini. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku!"


"Kenapa sikapmu berubah Steve, apa kamu sudah menikah dengan wanita yang pernah kamu bawa itu?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Memangnya apa urusanmu! Mau aku menikah atau belum, itu bukan urusanmu. Sekarang kita hanya dua orang yang berbeda, tidak ada hubungan atau sejenisnya. Kita hanya orang asing," tekan Steven mengambil martabak manis dan pergi meninggalkan Dinda.


Bersambung😘


__ADS_2