
"Apa!" pekik Steven dan Jack bersamaan.
"Itu tidak boleh terjadi dok! Adikku tidak akan koma. Seharusnya dia sadar karena telah mendapatkan transfusi darah dari saya dok!" ucap Jack setengah berteriak.
"Maaf, saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Seharusnya setelah mendapatkan transfusi darah dari anda, kondisi pasien sudah stabil. Mungkin ada sesuatu yang tidak saya ketahui sebelumnya. Maafkan saya," ucap dokter Riyan melepas stetoskopnya.
Bugh!
Pukulan keras mengenai wajah tampan dokter Riyan membuat Steven melototkan matanya.
"Hentikan Jack! Apa yang kau lakukan!" ujar Steven menarik tubuh anak buahnya yang hendak melayangkan pukulannya lagi.
"Tuan ... jangan halangi saya!" pekik Jack, "Saya akan habisi dia. Dokter tidak bejus! Karenanya Jeff koma!" sambungnya lagi.
"Maafkan saya Tuan Jack," lirih dokter Riyan memegang salah satu sudut bibirnya yang robek, "Sekali lagi maafkan saya, Tuan,"
"Maaf! Apa kata maafmu bisa membuat adikku terbangun hah!" pekik Jack melepaskan diri dari Steven, "Kau harus merasakan apa yang Jeff rasakan!" sambungnya lagi mengeluarkan pisau lipat yang berada di saku celananya.
"Hentikan Jack!" cegah Steven, "Hentikan!" teriaknya membuat Jack menjatuhkan pisau yang berada di genggamannya, "Di sini negara hukum. Kau tidak bisa membunuhnya karena kesalahan yang belum pasti,"
"Tapi Tuan, pria ini sudah membuat Jeff--"
"Hentikan! Tutup mulutmu. Apa dengan cara membunuh dokter Riyan, Jeff akan terbangun dari komanya. Tidak kan!" ujar Steven, "Sekarang pikirkan cara lainnya. Jangan bertindak gegabah atau hidupmu akan berakhir di dalam penjara," sambung Steven lagi.
Mendengar ucapan Tuan mudanya, Jack kembali berpikir. Dia membenarkan setiap ucapan Tuan mudanya.
"Baiklah, tapi ... izinkan saya memindahkan Jeff dari rumah sakit ini. Saya ingin memindahkan Jeff ke negara J, di mana di sana banyak alat canggih. Dan kemungkinan besar Jeff akan cepat terbangun jika mendapatkan perawatan di sana," ujar Jack di setujui oleh Steven.
"Aku setuju denganmu Jack," jawab Steven menepuk pundak Jack.
"Sekarang, lebih baik dokter mengurus perpindahan untuk Jeff. Dan tolong rahasiakan ini dari dokter Irma," titah Steven di angguki dokter Riyan.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu ... saya permisi. Sekali lagi, saya meminta maaf," ucap dokter Riyan membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan Jeff.
"Siapa dokter Irma itu, Tuan?" tanya Jack setelah kepergian dokter Riyan.
"Wanita yang dicintai adikmu, dia dokter juga di sini. Tepatnya doker kandungan, dokter pribadi istriku," jawab Steven berjalan dan menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Saya sempat bertemu dengannya, Tuan," ujar Jack berjalan dan berdiri di samping Steven.
Steven menoleh lalu mengernyitkan keningnya, "Di mana?" tanya Steven menatap layar ponselnya lagi.
"Tadi, setelah saya mendonorkan darah untuk Jeff. Dia mengiraku Jeff," ucap Jack membayangkan pertemuannya dengan dokter Irma, "Dan dia juga mengatakan maaf karena telah menolak cinta Jeff dan berpelukan dengan pria lain di depan Jeff," sambungnya lagi.
"Berpelukan? Apa itu tepat di mana mereka dinner?" tanya Steven memasukkan ponselnya dan menepuk-nepuk sofa sampingnya untuk Jack.
Jack menggelengkan kepalanya, dia menolak duduk bersebelahan dengan bossnya, "Maaf, saya lebih nyaman berdiri Tuan," tolak Jack membuat Steven mengerti.
"Lanjutkan ceritamu, mungkin setelah kita menyatukan cerita masing-masing. Kita akan mengetahui penyebab Jeff seperti ini," ucap Steven menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Baik Tuan, saya bertemu dengannya selepas saya mendonorkan darah untuk Jeff, dia meminta maaf karena membela pria lain di depan mata Jeff. Dan benar kata Tuan, tepat mereka makan malam. Memangnya Jeff terluka setelah makan malam?" tanya Jack diangguki Steven.
"Adikmu benar-benar selalu menggunakan perasaan, tidak memikirkan logika. Sudah aku peringatkan, jika ada masalah ... bisa bicarakan padaku atau istriku. Jangan dipendam sendirian!" ucap Steven.
"Saya akan membuat perhitungan pada dokter itu!" ucap Jack mengepalkan tangannya erat, "Tapi setelah saya mengantarkan Jeff ke negara J," sambungnya lagi.
"Maksudmu, kau akan kembali ke sini setelah mengantar Jeff?" tanya Steven.
"Iya Tuan, saya sudah menyusun rencana untuk menghancurkan karir dokter itu. Jika saya tidak bisa membunuhnya, maka saya akan menggunakan cara halus," gumam Jack menyeringai.
"Ahh sudahlah, aku tidak mau ikut campur urusan kalian. Terserah mau kalian mau apakan dokter itu, tapi sebelum istriku melahirkan, kau tidak boleh menyentuhnya. Kau paham Jack!" titah Steven diangguki Jack.
"Baik Tuan, aku akan berusaha yang terbaik. Rumah sakit akan dibayar rumah sakit. Dan kuburan akan dibayar kuburan. Itulah prinsipku," ujar Jack mengambil pisau lipatnya yang tergeletak di lantai lalu memainkannya sesaat.
__ADS_1
Mendengar ucapan anak buahnya, bulu kuduk Steven tiba-tiba berdiri. Dia menatap lekat Jack yang sedang memainkan pisaunya.
'Siallan, kenapa ucapan dan tindakannya terdengar sangat mengerikan. Bisa-bisa istri dan anakku Rio ketakutan setiap hari saat mendengar ucapannya,' batin Steven beranjak dari tempat duduknya, "Aku mau pulang, jaga adikmu dengan baik," titah Steven berjalan keluar ruangan.
***
"Kau gila ya! Percuma aku melarikan diri dari pria tua itu, jika ujung-ujungnya aku harus kembali ke rumahnya!" pekik Sheila saat Riski memerintahkannya pergi menemui Leo.
"Aku gila? Bukankah kau yang gila. Ini hasil perbuatanmu, sekarang pergilah. Jangan sampai pria tua itu menghampirimu ke rumah ini. Bisa-bisa dia melihatku dan langsung terkena serangan jantung saat melihat kita berdua tinggal seatap," jawab Riski sambil memakan cemilannya.
"A-aku tidak mau, bagaimana jika Leo memintaku untuk menikah dengannya lagi, aku tidak mencintainya. Selama ini, aku hanya memanfaatkan kekayaannya saja," ujar Sheila menjatuhkan bokongnya di sofa dan merebut cemilan yang berada di tangan Riski.
"Hei! Kembalikan makananku. Kau bisa memintanya pada Leo!" geram Riski merampas cemilannya dari genggaman Sheila.
"Minta dikit aja," jawab Sheila terkekeh, "Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Bagaimana nasib aku di rumah yang besar dan membosankan. Rasanya tidak enak," curhatnya menaikkan kakinya ke atas sofa lalu menyilangkannya, "Kau tahu, rasanya berada di rumah besar itu sendirian sangat membosankan," sambung Sheila mengambil bantal sofa dan meletakkan dipangkuannya. Tangannya menangkup wajahnya.
"Membosankan?" ulang Riski.
"Bukannya kalian bersenang-senang," sambung Riski terkekeh, dia membayangkan wanita di sampingnya bercinta dengan pria tua bangka.
Pluk!
Lamunannya buyar saat bantal sofa mengenai wajah dan cemilannya terjatuh berhamburan di lantai.
"Kau!" geram Riski saat melihat cemilan favoritnya terjatuh.
"Makanya jangan berfikir messsum. Aku tahu, kau sedang memikirkanku bercinta dengan pria tua itu kan!" ketus Sheila beranjak dari tempat duduknya.
Hay gaes, yuk kepoin cerita Dave dan Vera yang tiba-tiba menikah.
Di judul baru, "Istri Diatas Ranjang"
__ADS_1
Bersambungš