
"Kau, apa kau masih marah hem?" tanya Riski saat melihat perempuan yang berjalan di sampingnya diam.
Setelah mengeluarkan cerita kisah hidup dan unek-unek di hatinya. Sheila memang lebih banyak diam. Bukan berarti dia marah pada Riski atau tersinggung dengan nasehatnya. Tapi, dia justru sedang menahan malu. Karena ucapannya tadi, Riski mengetahui masalah pribadinya dengan kdua orang tuanya.
"Hei, jawab pertanyaan ku, ucap Riski diabaikan Sheila.
"Shei--" ucapannya terhenti saat melihat wanita yang diajak bicaranya menghentikan langkahnya.
"Bisa diam! Aku sedang malas bicara!" ucap Sheila, setelah itu melanjutkan langkahnya kembali.
"Bagaimana aku bisa diam! Aku tidak mungkin membiarkanmu mendiamkanku seperti ini!" jawab Riski mengikuti langkah Sheila.
"Diam! Atau jangan-jangan di dalam hatimu, kau sedang mencemaskanku? sindir Sheila.
Uhuk ...
Uhuk ....
Riski tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ucapan wanita di hadapannya, " Ck siapa yang mencemaskan mu? Aku cuma takut tidak diberi tumpangan olehmu," ucap Riski membuat Sheila melototkan matanya.
"Sudah kubilang berulangkali, jika aku tidak mengizinkanmu tinggal di rumahku! Aku tidak mau ada tetangga atau warga tahu, aku menyembunyikan seorang pria jahat!" ujar Sheila, "Bisa di seret paksa jika aku ketahuan," sambungnya lagi.
"Lalu, aku harus tinggal di mana? aku tidak mungkin tinggal di emperan toko. Bagaimana jika anak buah simpananmu itu melihatku, apa kau tidak merasa kasihan padaku hem?" ucap Riski lirih.
"Aku carikan kontrakan untukmu," jawab Sheila ketus.
"Hei, mana bisa! Aku tidak pernah tinggal di kontrakan petakan. Dan asal kau tahu, uang pria tua itu berasal dari uangku. Jadi, secara tidak langsung kau memakai uangku untuk berbelanja dan bersenang-senang," ucap Riski, "Jadi, sebagai gantinya ... aku minta rumahmu untuk tempat persembunyianku," tawar Riski.
"Kau, kenapa hobimu menyusahkanku terus hah!" pekik Sheila membuat semua orang yang berada di sekitarnya menatap aneh.
"Hust diam! Kau bisa diam tidak! lihat semua orang memandang kita dengan tatap aneh," ucap Riski lalu menyambar kunci mobil milik Sheila yang berada ditangannya.
__ADS_1
"Hei, kembalikan kunci mobilku!" tekan Sheila.
"Ikuti Aku! biar aku saja yang menyetir. dan kau ... kau cukup duduk manis dan memberikan arah jalan rumahmu," ucap Riski tak ingin dibantah.
"Kau, kau benar-benar membuatku pusing!" geram Sheila menghentakkan kedua kakinya dan berjalan melewati Riski.
***
Di cafe dekat rumah sakit tempat dokter Irma bekerja, Jeff yang sudah di berikan izin oleh Steven untuk keluar rumah pun sudah berada di salah satu caffe untuk makan malam bersama dengan wanita idamannya.
"Terimakasih dokter sudah mau menerima ajakan makan malam saya," ucap Jeff menggeser kursi untuk dokter Irma duduk.
Dokter Irma tersenyum, "Sama-sama, maaf merepotkanmu," jawabnya saat melihat Jeff menggeser kursi miliknya, "Terimakasih," sambungnya lagi mendudukkan bokongnya di kursi.
"Silahkan dokter memilih menu makanannya, maaf saya belum pesan apapun. Karena saya tidak tahu selera makan dokter," ucap Jeff kaku. Dia melihat penampilan dokter Irma yang sangat cantik.
"Tidak apa-apa," jawabnya menatap menu makanan, "Aku samakan saja," sambung dokter Irma mendorong menu makan itu pada Jeff.
"Kenapa? Apa dokter tidak menyukai menu makanan di caffe ini?" tanya Jeff tak enak hati.
"Lalu?"
"Apa saya mengganggu waktu dokter? Jika benar, saya sudah mengganggu waktu dokter, maafkan saya," ucap Jeff tersenyum kaku. Sikapnya benar-benar berubah setelah melihat kemesraan dokter Irma dengan seorang pria muda dan tampan.
"Mba, saya pesen menu makanan favorit di sini, minumannya jus alpukat," titah dokter Irma pada waiters caffe.
"Baik Nona, dan Mas nya mau pesan apa? Biar saya tulis sekalian," ucap waiters menatap Jeff.
"Samakan saja pesenanku dengannya," jawab Jeff yang disetujui oleh waiters. Setelah waiters menulis pesenan Jeff dan dokter Irma, dia pergi meninggalkan sepasang manusia itu yang sedang membisu.
Ekhem ...
__ADS_1
Dokter Irma berusaha mengubah situasi yang tegang dan kaku.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?" ucap. dokter Irma membuyarkan lamunan Jeff.
Jeff menggelengkan kepalanya saat tersadar dari lamunannya, "Maaf, kamu bicara apa? Saya tidak mendengarkan," ucap Jeff.
"Oh, jangan melamun. Aku hanya mengingatkanmu agar tidak melamun," ucap dokter Irma membuat Jeff menganggukan kepalanya.
"Heheh ...," Jeff menggaruk kepalanya yang tidak gatal, situasi di sini benar-benar membuat keduanya canggung. Tidak ada tawa atau lelucon dari Jeff yang biasa digunakan untuk merayu dokter wanita di hadapannya ini.
"Apa ada masalah?" tanya dokter Irma sekali lagi.
"Tidak," jawab Jeff, "Ini benar tidak ada yang marah jika dokter makan malam bersama saya?" tanya Jeff sekali lagi.
"Ada, ada seseorang yang selalu memarahiku di saat aku pulang larut malam," ucap dokter Irma.
"Oh," jawab Jeff kaku, 'Pasti pria itu yang baru saja diceritakan oleh dokter Irma' batin Jeff.
"Huh! Lebih baik dokter kembali saja. Kita lupakan makan malam ini, saya takut, dokter terkena marah," ujar Jeff membuat dokter Irma mengernyitkan keningnya, bahkan alisnya sudah menyatu.
"Kamu mengusirku?" tanya dokter Irma tak percaya, Dia sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa makan malam bersama dengan pria di hadapannya. Tapi, justru dia di usir.
"Bukan dok, saya tidak pernah mengusir dokter. Hanya saja ... saya tidak mau dokter di marahi kekasih dokter," ucap Jeff menatap wajah dokter Irma.
"Kekasih?" ulang dokter Irma, "Siapa kekasihku?" tanyanya lagi.
Jeff menghela nafasnya, "Maafkan saya dok, selama ini saya sudah membuat dokter pusing dengan tingkah memalukan saya. Dan saya, sudah lancang mengajak makan dokter. Padahal dokter sudah mempunyai kekasih," ucap Jeff membuat dokter Irma heran.
"Kamu bicara apa? Aku tidak tahu arti ucapanmu itu, dan asal kamu tahu ... aku ini--"
"Sudah dok, jangan bicara lagi," ujar Jeff, "Makanan kita sudah sampai. Cepat kita makan, lalu saya antarkan dokter sampai parkiran," ucap Jeff melihat waiters datang dan meletakkan beberapa menu makanan favorit caffenya.
__ADS_1
"Terimakasih Kak," ucap dokter Irma pada waiters.
Bersambungš