Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 134_Sakit Hati Jeff


__ADS_3

Prokk ...


Prokk ....


"Pandai sekali kau membuat istri polosmu ini percaya, Steve," ucap Sheila tersenyum mengejek.


"Jangan ladeni orang gila sepertinya sayang. Lebih baik, kita pergi," jawab Steven mengusap tangan istrinya yang melingkar dilengannya.


"Benar Mas, orang gila sepertinya seharusnya bukan di sini melainkan di rumah sakit jiwa," ucap Zena membuat darah Sheila naik.


Sheila meremas tas yang berada dalam genggamnya, "Kurang ajar! Beraninya dia mengatakan ku gila!" lirih Sheila kemudian menarik salah satu sudut bibirnya.


"Aku memang gila. Gila karena suamimu. Jadi--"


"Cukup Shei, istriku sedang hamil besar. Jangan membuat berita yang tidak benar!" timpal Steven cepat, "Lebih baik kita pergi sekarang, sayang," lanjutnya lagi.


"Jeff beri pelajaran pada wanita ini. Berani-beraninya dia mengusik kehidupan keluargaku lagi." Titah Steven memapah Zena pergi.


"Baik Tuan,"


"Nona, sebaiknya Nona pergi saja dari sini. Jangan membuat Tuan Steven marah," ucap Jeff halus.


"Memangnya aku siapa mu hah! Kau tidak berhak melarang atau mengusirku karena ini adalah tempat umum. Semua orang berhak keluar masuk rumah sakit ini!" ketus Sheila, "Dan kau, istri Sah Steven," ucap Sheila menghentikan langkah Zena, "Kau yakin tidak mau mendengar ceritaku yang satu ini?" lanjutnya lagi.


"Tidak perlu. Aku tidak perlu mendengarkan omong kosongmu itu," seru Zena melanjutkan langkahnya.


"Awa saja Mas, jika benar ... kalian membuat janji bertemu di sini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi!" ancam Zena lirih.


Mendengar istrinya marah, Steven menggelengkan kepalanya, "Sungguh, aku tidak bohong. Memang aku tahu dia ada di sini tap--" ucapan Steven terhenti, "Bu-bukan seperti itu. Aku bisa jelaskan sayang," sambung Steven.


"Jelaskan apa Mas, jadi ini ... jadi ini penyebab mu bersikeras ikut denganku! Ingat Mas, kehamilanku sudah tua. Sebentar lagi kamu menjadi seorang Ayah, dan ingat ... ingat akan karma!" ujar Zena emosi, "Aku tidak mau anak laki-laki ku menuruni sikapmu dan anak perempuan ku menerima karma atas perbuatan yang Ayah nya tanam selama ini!" sambung Zena melepas tangannya yang melingkar di lengan kekar suaminya.

__ADS_1


"Sayang--"


"Aku mau pulang Mas," timpal Zena cepat, "Aku tidak mau ikut denganmu ke kantor!" sambungnya lagi.


"Apa video saat aku mempermalukan Sheila kurang jelas. Aku tidak ada niatan untuk menduakanmu, aku juga berfikir akan karma. Aku tidak mau anakku mendapatkan pria bejad sepertiku kelak nanti," ucap Steven lirih, dia mengikuti istrinya dari belakang.


"Bisa saja, video itu sandiwara belaka. Agar aku tidak meninggalkan mu Mas, dan sekarang kamu sudah berhasil Mas. Aku tidak akan meninggalkan mu karena anakku, Aku tidak mau kedua anakku tidak mendapat kasih sayang yang utuh dari orang tuanya," jawab Zena.


"Kenapa! Kenapa kamu selalu curiga terhadap ku Zen, kenapa!" bentak Steven, kesabaran sudah habis menghadapi sikap istrinya yang labil.


Hati Zena sakit saat mendengar nada suaminya yang tinggi, "Aku tidak akan curiga jika kamu mau memberikan ponselmu Mas," ucap Zena masuk ke mobilnya.


"Apa hubungannya dengan ponsel hah!" pekik Steven menutup dan mengunci mobilnya membiarkan Jeff menunggu di depan.


"Sudahlah Mas, aku cape debat denganmu!"


"Hei katakan! Tatap mataku!" ujar Steven menangkup wajah istrinya agar menatapnya, "Tatap aku! Kesabaran ku benar-benar sudah habis Zen!" sambungnya lagi.


Melihat ekspresi diam suaminya, Zena menepis tangan Steven, "Hahaha tidak perlu dijawab, karena aku sudah tahu jawabannya," ujar Zena tersenyum getir.


"Aku tahu dari dokter Riyan," jawab Steven membuat wajah Zena menatap suaminya.


"Aku tahu dari dokter Riyan. Sebelum kita sampai di rumah sakit, aku sempat menghubungi dokter Riyan menanyakan kesibukan dokter Irma, aku tidak mau kamu menunggu terlalu lama. Karena kamu tidak mau di dahulukan," ucap Steven bohong.


"Masalah ponsel? Kenapa kamu menyembunyikan ponselmu Mas?" kini Zena berucap lirih. Hatinya mulai mempercayai setiap ucapan suaminya.


"Karena aku tidak mau kamu salah paham. Karena pembahasanku yang membahas doker Irma dan Sheila. Aku takut kamu menuduhku selingkuh," jawab Steven tersenyum, 'Maafkan aku sudah membohongimu lagi sayang, tapi ini demi kesehatan mu dan calon anak kita,' batin Steven.


"Apa ucapanmu bisa dipercaya Mas?"


"Tentu saja, aku tidak pernah membohongimu selama ini," ucap Steven menarik tubuh istrinya kedalam pelukan, "Aku tidak mungkin mengkhianatimu, aku sangat menyayangi mu dan anak-anak kita," sambungnya lagi mengecup pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas, maafkan aku yang sudah menuduhmu berselingkuh," ujar Zena membalas pelukan suaminya.


Steven melepas pelukan dan menangkup wajah istrinya, "Aku sangat-sangat mencintaimu sayang," ucap Steven mengecup bibir mungil istrinya.


Di luar mobil, Jeff tak sengaja melihat kemesraan boss dan istri bossnya. Dia langsung menutup dan memalingkan wajahnya dari kaca mobil sebelum Steven melihatnya.


"Ada-ada saja, aku kira mereka akan bertengkar hebat. Ternyata malah mengumbar kemesraan," gerutu Jeff yang berjalan melihat pepohonan di depan rumah sakit.


"Andai dokter Irma mau menerima cintaku, pasti jiwa jombloku tidak akan meronta-ronta saat melihat kemesraan Tuan dan Nyonya," sambungnya lagi sambil menendang kerikil kesembarang arah.


"Aduh! Siapa yang berani-beraninya melemparkan batu itu ke kepalaku!" pekik seorang pria yang berjalan masuk rumah sakit. Pandangannya mengedar dan melihat sosok Jeff yang sedang berpura-pura memainkan ponselnya.


"Pasti dia! Akan kuberi pelajaran dia!" lanjutnya lagi menghampiri Jeff.


Sebelum pria itu menghampiri Jeff, tiba-tiba dari arah lainnya terdengar suara wanita cantik yang berteriak memanggil pria tadi.


"Mas, cepat!" teriak seorang wanita.


"Dokter Irma!" ucap Jeff, "Dokter Irma memanggilku?" lanjutnya lagi.


"Ya Tuhan, kenapa jantungku selalu berdebar hebat saat melihat wajahnya. Apa aku benar-benar jatuh cinta kepadanya," gumam Jeff merapihkan penampilannya lalu berjalan berjalan menuju dokter Irma.


Sebelum sampai di dekat dokter Irma, Jeff melihat wanita idamannya menggandeng mesra lengan seorang pria yang tak sengaja terkena serangan kerikilnya.


"Ayo Mas, cepat masuk!" ucap dokter Irma membuat Jeff kehilangan keseimbangannya.


"A-apa yang baru saja aku lihat. Ini mimpi kan?" ujar Jeff menahan tubuhnya di pohon besar, "Si-siapa pria itu? A-apa itu kekasih dokter Irma, tapi kata Nyonya, dokter Irma single alias jomblo," sambung Jeff mengucek matanya berulangkali, "Pasti aku salah melihat. Dia bukan dokter Irma,"


Setelah menajamkan penglihatannya, hati Jeff terasa sakit. Jelas-jelas yang dilihatnya adalah dokter Irma, wanita yang baru saja menerima ajakan dinner nya.


"Pantas saja dokter Irma menolak cintaku," gumam Jeff memegang dadanya yang terasa sakit.

__ADS_1


*Bersambung**😘*


__ADS_2