Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 187_Bagaimana Kondisi Jack


__ADS_3

"Itu tidak benar, aku tidak pernah berpikir membalas kejahatan orang dengan cara licik seperti itu," ucap Steven membuat hati Zena terasa lega.


"Alhamdulillah, ya sudahlah. Aku lega jadinya," jawab Zena tersenyum.


"Bagaimana keadaan Jack, Mas!" tanya Zena.


"Dia sedang ditangani oleh dokter Riyan. Aku akan mengecek setelah dokter Riyan selesai mengecek keadaan Jack," ujar Steven.


"Mas, di mana putri kita? aku mau melihatnya, sedari tadi ... kau selalu mengabaikan pertanyaan ku tentang putri kita," tanya Zena membenarkan posisinya menjadi duduk.


"Dia sedang tidur, sebaiknya kita jangan menganggu. Kasihan putra kita, bisa-bisa dia terbangun. Dan kau, akan repot mengurus dua bayi sekaligus."


"Tapi Mas, aku tidak merasa direpotkan dengan tangisan mereka. Aku justru senang bisa melihatnya menangis,"


"Dan di mana Rio? Apa Rio sudah diberitahu jika adik-adiknya sudah lahir?" tanya Zena.


"Rio ada di rumah. Aku tidak mengizinkan dia kemari malam-malam begini. Biar saja, dia kemari besok pagi. Aku mau menggendong anakku, boleh kan?" tanya Steven mendapat gelengan dari Zena.


"Tidur boleh, kamu bisa membangunnya, Mas!"


"Sebentar saja, aku ingin menggendong anakku," pintar Steven menampilkan wajahnya yang melas.


"Aku tidak mau tahu, kamu tidak boleh menggendong anakku!" ketus Zena.


"Kenapa? dia juga anakku, sayang?" tanya Steven saat melihat istrinya merajuk.


"Sebelum Mas Steven mengizinkanku bertemu dengan putriku, aku tidak mengizinkan Mas Steven menyentuh putraku," jawab Zena mengambil putranya yang sedang tertidur di ranjang.


"Sayang, kenapa sikapmu jadi berubah. Dia juga putraku, tanpaku, kamu tidak bisa me--"


"Tapi aku yang melahirkan, Mas!"


"Sekarang, antar aku ke putriku!" ketus Zena.

__ADS_1


"Okeh, tapi kita tunggu persetujuan dari dokter Irma. Karena mau bagaimana pun, dokter Irma lah yang menangani baby twins," ucap Steven berusaha meraih pundak istrinya, "Jangan marah lagi," sambungnya lagi mengecup kening istrinya.


"Mas, besok temani aku berolahraga ya? aku mau mengecilkan tubuhku, agar Mas Steven tidak tergoda dengan wanita di luar sana, apalagi dengan Mbak Dinda yang tubuhnya bak gitar spanyol, dan aku heran. Kenapa Mas Steven menceraikan Mbak Dinda, padahal dia wanita yang sangat sempurna, pasti Mas bangga jika mempunyai istri seperti Mbak Dinda," ujar Zena membuat Steven terdiam.


"Aku mau menggendong putraku, dan aku tidak mengizinkanmu berolahraga. Pikirkan saja anak-anak kita," jawab Steven mengambil putranya dalam gendongan istrinya.


"Mas, Mas belum menjawab pertanyaan ku, kenapa Mas dan Mbak Dinda bisa sampai bercerai?"


"Jangan pernah membahas masalah itu lagi, dan sampai kapan pun, aku tidak akan menceritakannya," jawab Steven tegas.


"Mas, kamu marah? Aku minta maaf Mas, aku cuma penasaran saja," ucap Zena menggapai tangan suaminya, "Aku minta maaf, Mas Steven sayang," sambungnya lagi.


"Aku maafkan, tapi lain kali ... jika membahas masalah ini lagi, aku akan mendiamkan mu, aku tidak mau masalalu membuat keluarga kita hancur berantakan."


"Iya Mas, aku janji ... aku akan diam, walaupun aku penasaran," ujar Zena tersenyum kaku.


'Walaupun sebenarnya aku sudah mengetahui semuanya, tapi aku ingin mendengarkannya lewat mulut suamiku sendiri,' batin Zena.


"Beristirahatlah, ini sudah malam. Jangan terlalu kecapean, biar urusan baby twins, aku yang mengurusnya," ujar Steven menepuk-nepuk bokong babynya.


"Sayang, ingatkan dokter Irma sedang ada masalah. Kita tidak boleh menambah masalahnya lagi, biarkan kita menunggu dokter Irma sampai benar-benar tenang, lalu aku akan meminta izin untuk membawa putri kita. Sekarang tidurlah, jaga kesehatanmu," titah Steven.


"Tapi Mas, aku mau melihat anakku. Aku belum melihatnya sama sekali, kamu juga seharusnya mengerti perasaan ku, aku yang mengandung, aku yang melahirkan. Aku tidak bisa tidur sebelum, aku melihat anakku baik-baik saja," jawab Zena.


"Anak kita baik-baik saja, sayang. Tidurlah, jika putra kita haus, aku akan membangunkan mu, atau ... kau sudah memompa ASI untuk anak-anak kita?" tanya Steven menggoyangkan lengannya agar tidur putranya nyenyak.


"Bangunkan saja aku, aku tidak mau memompa ASI ku, lagi pula ... apa salahnya aku terbangun malam-malam." ketus Zena.


"Baiklah, sekarang tidur. Aku akan membangunkan mu."


"Mas, sampai kapan aku di sini? aku sudah sehat Mas, aku bosan di rumah sakit," ujar Zena membaringkan tubuhnya.


"Baru masuk pagi tadi, sudah bosan," sindir Steven, "Aku sudah membicarakannya pada dokter, aku tidak mau terjadi sesuatu lagi padamu, maka dari itu ... kita akan keluar dari rumah sakit sampai jahitan mu benar-benar kering," jawab Steven menjatuhkan bokongnya perlahan di sofa.

__ADS_1


"Jika jahitanku kering dalam waktu sebulan, berarti kita akan menginap di sini satu bulan? bukan begitu Mas?" tanya Zena, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat bayinya yang tenang saat berada dalam gendongan suaminya.


"Yups benar, bila membutuhkan waktu satu tahun pun aku akan menyanggupinya, karena aku tidak mau melihatmu mengadu kesakitan. Aku rela menghabiskan uangku untuk keluarga kecil ku ini,"


"Tidurlah, aku di sini bersama anak kita."


"Iya Mas, tapi putri kita baik-baik saja kan, Mas? Aku jadi berpikir, kamu sengaja menghalangi aku bertemu dengan anakku karena--"


"Baik-baik saja, aku berjanji, besok pagi ... kita akan bertemu dengan putri kita, sekarang dia sudah tertidur," potong Steven menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku percaya padamu Mas," jawab Zena kemudian memejamkan matanya.


'Huft, kali ini aku aman, tapi bagaimana dengan besok? apa putriku sudah bisa di jenguk?' batin Steven, tangannya yang kosong berusaha mengambil dan mencari nama seseorang di ponselnya.


"Dok! cepat ke kamar istriku. Ada sesuatu yang harus aku bahas denganmu!" titah Steven saat panggilannya terhubung dengan dokter Riyan.


"Saya segera ke sana," jawab dokter Riyan.


Setelah mendengar jawaban dari dokter Riyan, Steven langsung mematikan telfonnya dan meletakkan ponselnya dia samping sofa.


"Em ... Daddy masih bingung memikirkan nama yang cocok untukmu, sayang," gumam Steven mengecup pipi merah bayi mungilnya.


"Bagaimana kalau Daddy beri nama kamu--"


Krek ...


Pintu ruangan Zena terbuka dan munculah dokter Riyan.


"Tolong pindahkan tempat tidur putraku kemari. Aku akan menjaganya malam ini," titah Steven di setujui dokter Riyan.


"Baik, saya akan meminta salah satu OB yang sedang bertugas," jawab dokter Riyan kemudian menghubungi OB melalui telfon genggamnya.


"Bagaimana kondisi Jack? Aku harap dia baik-baik saja. Karena sebelum mendapat pukulan dari Jeff, aku sudah lebih dulu memukulnya," ujar Steven.

__ADS_1


"Kondisi Jack saat ini--"


Bersambung😘


__ADS_2