
"Jika benar-benar sudah mengikhlaskan kepergian putra Anda, maka hari ini juga, alat bantu yang terpasang di tubuh putra Anda bisa di lepas," ujar dokter Riyan melirik sesekali kepada Riski yang pura-pura tertidur.
Melihat tangan Riski mengepal erat, dokter Riyan pun berpura-pura mengecek denyut nadi pasiennya dengan meluruskan jari tangan Riski.
"Berarti jika alat bantu itu terlepas, sudah dipastikan jika anakku meninggal dok?" tanya Leo memandang wajah Riski yang sudah pucat.
"Bisa dikatakan seperti itu. Dan pihak rumah sakit akan membantu mengurus jenazah sampai di makamkan,"
"Atau Bapak Leo ingin mengurus pemakaman putra Anda sendiri?" tanya dokter Riyan yang mendapat gelengan cepat dari Leo.
"Tidak, tidak ... eh maksudku, aku tidak sanggup menyaksikan kepergian anakku secepat ini. Biar pihak rumah sakit yang mengurus pemakaman Riski," ujar Leo lalu tersenyum tipis.
'Akhirnya, dia mati juga. Dan sekarang, aku bisa memiliki semua hartanya lalu menikah dengan kekasihku Sheila,' gumam Leo dalam hati, dia membayangkan hari pernikahannya dengan Sheila yang di gelar di hotel ternama dan dihias semewah mungkin.
Riski yang mendengar ucapan Leo pun tak terima, emosinya semakin tidak bisa dikontrol.
'Lihat saja Pak tua. Jika aku benar-benar mati, orang yang pertama aku datangi adalah kau, aku akan mencekik dan mencabik-cabik wajahmu yang sudah tua itu!' geram Riski dalam hati.
"Silahkan dok, dokter bisa melepas semua alatnya sekarang juga dan Aku akan melihat dokter melepas semua alat yang melekat di tubuh putraku,"
"Dan Viz," tunjuk Leo pada bodyguardnya, "Videokan ini semua lalu beritahukan pada semua stasiun TV jika presdir dari SC Group telah meninggal dunia," titah Leo yang di setujui oleh Viz.
"Baik Tuan Leo," jawab Viz mengambil ipadnya lalu membuat video tentang kematian Riski.
Dokter Riyan melakukannya dengan perlahan tapi pasti, dia memulai dari melepas selang oksigen yang melingkar di kepala Riski, setelah itu dia tak lupa membisikkan sesuatu pada Riski, "Anda jangan khawatir, anda akan aman dan sudah seharusnya alat bantu ini kami lepas. Berpura-puralah seperti orang mati," bisik dokter Riyan tepat di telinga Riski yang sedang melepas selang oksigen.
Di luar jendela, Sheila yang ketakutan pun tak mampu menatap bawah rumah sakit yang terlihat mengerikan. Dia mencoba menguping setiap pembicaraan dokter Riyan dengan Leo tapi tak bisa karena suara angin yang terlalu keras.
"Ahh siall, kenapa tidak kedengaran sih!" gerutu Sheila. Dia mencoba mengintip dari celah jendela yang tidak tertutupi tirai korden.
"Ehh ... kenapa dokter gila itu mencabut semua alat-alat Riski," gumam Sheila menempelkan wajahnya di kaca besar.
"Ahh dasar dokter bodoh, pasti dia sedang menuruti kemauan pria tua itu untuk melepas semua alat, aku harus mencegah dokter itu melepas infus Riski, bisa mati beneran dia, lalu bagaimana aku meminta pertolongan pada Riski untuk membalaskan dendamku pada Steven," gumam Sheila mencari ponsel ditasnya.
Setelah berhasil mendapatkan ponselnya, Sheila berusaha mencoba menghubungi Leo, kekasih simpanannya.
"Ayo, angkat dong!" geram Sheila saat telfonnya tidak diangkat, dia melirik pada kaca jendela.
__ADS_1
"Sekali lagi, aku akan mencoba menghubungi pria tua itu sekali lagi," ujar Sheila memencet kontak Leo dan menelfonnya kembali.
Di dalam ruangan, pandangan Leo tertuju pada dokter yang sedang melepas semua alat ditubuh putranya.
Drt ...
Drt ....
Ponselnya terus bergetar di saku celana kainnya, membuat Leo kesal dan meraih ponselnya.
Terlihat nama kekasih yang sangat dicintainya, "Baru beberapa jam kita berpisah, dia sudah rindu menelfonku. Memang pesona seorang Leo sangat ampuh mendekati setiap wanita," gumamnya menggeser tombol hijau dan menjauh beberapa meter.
"Hallo sayang," ucap Leo saat panggilannya sudah terhubung.
"Hallo, Mas ada di mana? aku kangen ...," rengek Sheila sambil membuang mukanya ingin muntah.
"Sayang, aku seda--"
"Cepat pulang Mas, aku sudah tidak tahan!" pekik Sheila dengan tubuh bergetar menahan ketakutan akan jatuh dari lantai atas.
"Mas, jika kamu tidak menemuiku sekarang juga, kita putus." ancam Sheila lagi sambil melihat ekspresi Leo dari luar jendela.
Mendengar kata putus, Leo langsung mendelik tajam. Dia melihat dokter yang sedang melepas alat bantu Riski, "Okeh, aku akan pulang. Tunggu aku di rumah, jangan kemana-mana," jawab Leo yang langsung dimatikan panggilannya oleh Sheila.
"Akhirnya pulang juga dia, aku sudah tidak tahan membayangkan jika aku terjatuh dari sini. Bisa mati aku," gumam Sheila memasukan ponselnya ke tas brandednya.
Di satu sisi, Leo yang baru saja menerima telfon kini berjalan terburu-buru ke arah dokter Riyan dan bodyguardnya yang bernama Viz,
"Maaf dok, saya harus pergi. Tiba-tiba ada klien penting yang ingin bertemu. Saya serahkan semuanya pada bodyguard saya," titah Leo menghentikan aksi dokter Riyan.
"Baiklah, saya juga sudah selesai melepas alat bantu yang melekat pada tubuhnya dan jenazah siap untuk dimandikan," jawab dokter Riyan tersenyum manis.
Leo menganggukan kepalanya, lalu pandangannya beralih pada Viz,
"Tolong pantau dia sampai pemakaman selesai, pastikan dia benar-benar mati. Dan kirim video pemakaman itu kepadaku," bisik Leo pada bodyguardnya.
Viz mengangguk patuh, lalu memberi hormat saat melihat kepergian bossnya.
__ADS_1
"Kapan kita bisa memandikan jenazahnya?" ujar Viz sambil menguap.
"Kita akan menunggu giliran, karena saya mendapat kabar bahwa hari ini ada 30 pasien yang meninggal dunia. Dan yang terakhir adalah Tuan Riski," jawab dokter Riyan bohong, "Jika Anda lelah, maka beristirahatlah dulu. Saya akan memberikan jadwal pasien," sambungnya lagi.
Mendengar 30 pasien dan anak bossnya mendapat urutan terakhir, membuat Viz menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah ... aku akan keluar untuk membeli kopi, tolong jaga dia. Jangan sampai jenazahnya bergentayangan mengikutiku," sambung Viz berjalan keluar ruangan.
Saat Viz sudah keluar ruangan, dokter Riyan tersenyum lalu menggoyangkan lengan Riski.
"Anda sudah aman," ucap dokter Riyan membuat Riski membuka matanya lebar.
"Aku tidak terima dok! dia menginginkan kematianku!"
"Aku harus membalaskan perbuatannya!" geram Riski berganti posisi menjadi duduk.
"Anda tenang dulu. Sekarang fikirkan bagaimana caranya kita mendapat jenazah lain untuk menggantikan posisi Anda," ujar dokter Riyan yang melupakan keberadaan Sheila.
"Bukankah dokter bilang jika hari ini ada 30 pasien yang meninggal dunia. Kita bisa memakai salah satu jenazah darinya," titah Riski memegang kepalanya yang terasa pusing.
Tok ....
Tokk ...
Bunyi ketukan membuat Riski merebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya kembali.
Tok ...
Tok ...
"Cepat buka!" pekik Sheila dengan tubuh bergetarnya, hampir saja dia terpeleset dari tempat persembunyiannya.
Tok ...
Tokk ...
"Sebenarnya dia lupa atau pura-pura lupa sih!" gerutu Sheila.
Bersambungš
__ADS_1