Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 204_Keyakinan


__ADS_3

"Ini tidak mungkin, semua ini bohong. Sayang, kamu sedang becanda kan!" teriak Leo bangkit dari sujudnya.


"Siapa yang becanda? Semua yang diucapkan aku memang benar apa adanya," jawab Sheila, "Sekarang, lebih baik ... kau ikut dengan anak buah Riski, jangan ganggu hidup kita lagi!" sambungnya lagi.


"Tidak mungkin, aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan membalas semua pengkhianatan kalian. Aku tidak terima atas semua perbuatan kalian!" teriak Leo melayangkan bogeman pada pria dihadapannya.


Belum sempat bogeman itu mendarat di wajah Riski, tiba-tiba tangannya sudah di cegah oleh kedua anak buah Riski.


"Ets, Pak tua, bukannya aku mau melawan Ayah tiriku, tapi perlakuan anda benar-benar tidak bisa di maafkan. Dan mulai sekarang, jangan pernah temui putra ataupun Zena. Dia bukan lagi bagian keluarga darimu!" ucap Riski tegas.


"Itu tidak mungkin, dua nama yang kau sebutkan adalah anak-anak kandungku! Aku tidak mungkin, meninggalkan mereka. Dan ... aku akan membalaskan semua dendamku pada kalian. Ingat itu!" teriak Leo.


***


"Jadi bagaimana, Ir? kamu mau kan, menikah dengan pria itu?" tanya Ibu Irma setelah mereka berada di dalam rumah.


"Aku tidak merestuinya, Bu. Dia berbeda keyakinan. Aku tidak mungkin menikahkan mereka yang berbeda keyakinan," timpal Al cepat.


"Suruh dia masuk ke dalam agama kita, atau Irma yang yang berpindah. Mereka harus memutuskan secepatnya, jangan sampai ... perut Irma membesar dan mereka belum menikah," ucap Ibu Irma tegas.


"Ah, semua terserah kalian. Aku sudah peringatkan Irma berulang kali, tapi tetap diabaikan. Dan jika, sudah seperti ini, aku lepas tangan. Tapi, jangan harap aku akan menikahkanmu, jika kau yang mengikuti keyakinannya," ucap Al.


"Aku akan menikah di luar negeri. Mungkin, jika menikah di sana, berbeda keyakinan tidak akan pengaruh. Aku akan menikah sampai anak ini lahir. Setelah itu, aku akan menceraikannya. Lagipula, untuk apa pernikahan tanpa cinta bertahan lama? Itu akan membuat salah satu pihak merasa dirugikan dan tersakiti,"


"Semuanya sudah selesai. Dan jangan membahas pernikahan, aku capek. Aku benar-benar benci situasi ini. Sekarang, kita tinggal tunggu pria itu. Karena Mas Al memukul dan membenturkan kepalanya di batu yang cukup besar, membuat keadaannya kritis," ketus Irma menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Ir, kamu menyalahkan aku? Seharusnya, salahkan pria itu! pria brengssek seperti dia tidak pantas untuk hidup. Pria lemah, baru saja mendapatkan pukulan seperti itu, sudah kritis. Bagaimana nasibmu ke depan, jika menikah dengannya, sungguh merepotkan!" ujar Al dengan senyuman mengejeknya.

__ADS_1


"Siapa yang mau menikah berlama-lama dengannya! Bukankah aku sudah bilang, jika aku akan menikah dengannya sampai anak ini lahir. Setelah lahir, kita akan bercerai. Mas Al tenang saja, aku juga tidak mencintainya, yang aku cintai adalah Mas Jeff bukan pria lain ataupun kembarannya," jawab Irma beranjak dari tempat duduknya.


"Aku akan merestuinya dan aku akan mendukungmu sebagai kakak yang baik," ujar Al membuat Irma tersenyum.


"Hentikan! kalian bisa hentikan tidak? ucapan kalian benar-benar tidak pernah di saring. Memangnya, pernikahan itu untuk main-main? memangnya, kalian mau dipermainkan takdir setelah pernikahan? tidak kan!"


"Ibu tidak mengizinkan Irma menikah, jika Irma mempunyai prinsip seperti itu. Apa kata tetangga dan rekan-rekan kerjamu! Ibu benar-benar kecewa dengan pemikiran kalian yang menganggap pernikahan itu hal main-main," ucap Ibu Irma, kemudian berjalan meninggalkan Irma dan Al yang terdiam.


"Mas Al, mas Al mendukungku, kan? jangan pernah berpikiran seperti Ibu. Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai Mas Jeff," ujar Irma meraih lengan kakaknya.


Al tersenyum kemudian menggenggam tangan adiknya, "Kau tenang saja, Ir. Kali ini, Mas akan mendukungmu. Aku juga tidak ingin melihatmu menderita dalam pernikahan yang sama sekali tidak membuatmu bahagia," ucap Al.


"Terimakasih Mas Al, aku sayang Mas Al," gumam Irma memeluk tubuh Kakaknya.


"Sama-sama, kau adik yang aku sayangi. Aku tidak bisa melihatmu menikah dengan pria brengssek sepertinya," ujar Al mengusap punggung adiknya berulang kali.


***


"Mas, kemana perginya Jeff? dan kamu sudah memindahkan baby Resya ke rumah sakit itu, kan Mas?" tanya Zena sembari memainkan jemari mungil putranya.


"Sudah sayang, aku sudah memindahkannya. Bahkan, aku meminta dokter Riyan untuk menjaga baby Esya dan Jack selama 24 jam. Agar kamu bisa menjaga baby Evan dengan fokus," ujar Steven sembari membelai pipi merah putranya.


"Lalu, dimana Jeff? Dia baik-baik saja, kan, Mas?" tanya Zena penasaran.


"Jeff? Mungkin dia sudah sampai, aku akan menghubunginya," ujar Steven merogoh saku celana dan mengambil ponselnya.


"Sampai mana Mas?" tanya Zena, pandangannya beralih pada televisi yang menyiarkan berita terbarunya.

__ADS_1


"Sampai di--"


"Mas, ada kecelakaan pesawat. Lihat itu!" potong Zena saat melihat berita terbaru yang memberitahukan kecelakaan pesawat di televisi.


"Biarkan saja, sayang. Kita doakan, semoga penumpangnya selamat. Aku akan menelfon Jeff, kamu jagain baby Evan dulu," ujar Steven beranjak dari tempat duduknya, lalu mengecup kening Zena, setelah itu, pergi menjauh.


"Ish Mas Steven selalu saja tidak peduli dengan orang lain. Padahal kan, kecelakaan ini sangat mengerikan," gerutu Zena, "Sebenarnya, apa yang terjadi, sampai bisa terjadi kecelakaan seperti itu. Aduh, itu badan pesawat juga hilang," gumam Zena.


"Astaga, karena cuaca buruk yang dipaksakan terbang, akhirnya kecelakaan pesawat itu terjadi. Apa sebelumnya tidak ada pemberitahuan tentang cuaca hari ini?"


"Sayang, baby Evan sudah tidur?" tanya Steven yang baru saja tiba.


"Mas, ih ... kamu jangan mengagetkan aku. Aku sedang fokus mendengarkan berita itu. Awak pesawat sampai hilang di tengah-tengah lautan, itu nasib semua orang bagaimana Mas? Ah ngeri deh, aku gak mau naik pesawat Mas. Aku takut," ujar Zena bergidik ngeri.


"Biarkan saja, aku malas mendengar berita. Sebaiknya, kita bawa baby Evan ke kamar. Dan kamu juga membutuhkan istirahat yang cukup. Jangan sampai ASI mu--"


"Hust, diam Mas. Aku sudah makan, aku sudah memompa ASI, aku juga sudah melakukan semuanya agar ASI ku lancar. Jadi, diam. Aku mau mendengar berita ini, kalau kamu mau membawa baby Evan ya silahkan, Mas," potong Zena cepat, "Bagaimana Mas, apa Mas Steven sudah mendapatkan kabar dari Jeff?" sambung Zena.


"Belum, Jeff tidak dapat dihubungi. Mungkin dia sedang sibuk, atau kelelahan. Memangnya, pesanan tujuan mana yang terjatuh?" tanya Steven penasaran.


"Bali Mas, serem ya. Padahal, rata-rata ... kalau orang pergi ke Bali, itu untuk liburan," ucap Zena, kemudian menujuk gambar awak pesawat sebelum lepas landas yang berada di televisi.


"Bali? Oh Bali, jam berapa kecelakaan pesawat itu terjadi?" tanya Steven.


"Sekitar satu jam yang lalu Mas, memangnya ada apa?" tanya Zena menatap wajah suaminya yang terlihat santai.


"Tidak apa-apa. Jeff juga berpamitan ke aku untuk melakukan perjalanan ke--"

__ADS_1


"Apa! Bali! Jangan-jangan, sayang--" ucapan Steven terhenti.


Bersambung 😘


__ADS_2