Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 160_Jadian


__ADS_3

"Ayo Mas, kita ke kamar, aku lelah. Pengin dipijit dan disayang-sayang olehmu," timpal Zena menggandeng lengan suaminya.


"Ayo sayang, aku juga rindu dengan suara-suara manja kamu," jawab Steven mencubit hidung mancung istrinya.


"Hei, aku tidak teri--"


"Sudahlah Din, seharusnya kamu berterimakasih pada istriku. Dia sudah mau menampung mu malam ini. Jika tidak mau tidur di kamar dekat pembantu, ya pergilah ... aku tidak melarangmu," timpal Steven, kemudian berjalan menggandeng istrinya menuju lift.


"Siaalll!" umpat Dinda menghentakkan kedua kakinya, "Apa-apaan ini. Secara tidak langsung, mereka menganggapku sebagai pembantu!"


"Sayang, aku pikir kamu akan marah," ucap Steven saat berada di dalam lift,


"Untuk apa marah Mas? Aku memang tidak menyukainya. Tapi, jika aku lihat, mantan istrimu itu muka tembok. Sudah beberapa kali, kita coba usir tapi hasilnya nihil. Terlalu banyak alasan yang dikeluarkan dari mulutnya," jawab Zena melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.


"Jadi, apa menurutmu jika kita menyuruhnya tidur dekat kamar pembantu, dia akan pergi sendiri?" tanya Steven mengecup pucuk kepala istrinya.


"Tidak Mas, paling tidak, dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Karena di kamar itu kan, tidak ada AC atau pun kipas angin. Dan lebih parahnya, jendelanya sangat kecil,"


"Ya mungkin saja, besok hari, dia mengeluh padamu, hahaha ...," kekeh Zena membayangkan keadaan mantan istri suaminya keluar kamar dengan mata panda.


"Tapi, pakaiannya?"


"Bukankah, dia tidak membawa pakaian ganti?"


"Aku tidak tahu Mas, aku tidak mau bertanya tentang itu, biarkan--" ucapan Zena terhenti, "Mas, jangan-jangan kamu masih menyimpan pakaiannya?" tanya Zena.


Ting ...


Pintu lift terbuka, "Bagaimana mungkin, aku bahkan sudah membakar pakaiannya, dan semua barang yang berkaitan dengannya," jawab Steven melangkah keluar lift.


***


"Bi, ini benar kamar aku?" tanya Dinda tidak percaya, "Ini sempit banget Bi, bahkan tidak ada jendela atau ruang ganti. Dan bagaimana keadaan kamar mandi? Ada bathup nya kan?" tanya Dinda berjalan menuju kamar mandi di kamarnya.

__ADS_1


"Bibi! Apa tidak ada kamar lain selain ini! Aku tidak mau Bi, tidak ada AC, aku bisa mati jika tidur di sini!" pekik Dinda keluar kamar.


"Maaf Nyonya, tidak ada."


"Jangan bohong! Rumah ini luas! Aku pernah tinggal di sini Bi! Cepat berikan aku kamar seperti kamarku dulu dengan Steven!" pekik Dinda.


"Maaf Nyonya, semua kunci kamar sudah dipegang oleh Nyonya Zena, dan Nyonya Zena hanya memberikan satu kunci kamar ini saja. Jika Nyonya keberatan, Nyonya bisa tidur di ruang tamu, atau pulang ke rumah, karena hujan sudah sedikit reda," titah Bi Sari sesekali menguap.


"Kau mengusirku! Apa kau lupa, aku pernah menjadi Nyonya di sini," hardik Dinda.


"Maafkan saya Nyonya, saya hanya menuruti semua permintaan Nyonya Zena. Karena dia istri dari Tuan muda," jawab Bi sari menunduk.


'Wanita itu! Aku pikir, dia wanita bodoh yang gampang dimanfaatkan, ternyata dia juga wanita licik,' batin Dinda menahan kesal.


"Di mana pakai gantiku, aku membutuhkannya," tanya Dinda.


"Tidak ada Nyonya, Nyonya Zena tidak menitipkan apapun pada saya. Atau ... Nyonya Zena lupa," ujar Bi Sari.


"Maaf Nyonya, pakaian Nyonya yang dulu sudah tidak ada. Tuan menyuruh saya membakar dan membagi-bagikannya pada orang yang membutuhkan," jawab Bi Sari, 'Bersyukur, dia hanya mantan istri, jika dia masih menjadi istri Tuan, aku akan cepat-cepat mengundurkan diri,' batin Bi Sari.


"Apa! Di bakar?" ulang Dinda tak percaya, "Semua pakaianku bermerk dan harganya sangat mahal, bahkan gaji satu bulanmu pun tidak cukup untuk membeli satu pakaianku!"


'Ini semua pasti ulah Steven, awas saja Steve. Aku akan mendapatkanmu lagi, dan menguras hartamu. Enak saja, hidupmu bahagia, dan hidupku hancur. Aku tidak terima!' batin Dinda, tangannya mengepal erat.


"Pergilah, bilang pada Steven, aku meminta pakaian baru," titah Dinda.


"Maaf Nyonya, hari sudah malam. Dan Tuan sudah masuk ke kamarnya, saya tidak berani mengganggu aktivitas malamnya," jawab Bibi.


"Ahh percuma berbicara denganmu. Jika aku sudah menjadi Nyonya di sini, maka orang yang pertama aku pecat adalah kau!" tunjuk Dinda tepat di wajah ketua pelayan nya, "Minggir! Aku mau ke kamar Steven!"


"Ba-baik Nyonya," ucap Bi Sari memundurkan tubuhnya.


Setelah kepergian Dinda, Bi Sari menutup pintu kamar mantan istri Tuan nya dan berjalan menuju kamarnya dengan menahan kesal.

__ADS_1


'Enak saja, aku tidak akan membiarkan Nyonya Dinda menjadi Nyonya di sini. Aku lebih menyukai Nyonya Zena yang baik, dan ramah,' batin Bi Sari membuka pintu kamarnya dan masuk.


"Ada-ada saja. Pasti ini semua sudah direncanakan oleh istri Steven. Berani-beraninya dia melawanku!" gumam Dinda keluar dari liftnya. Dia berjalan menuju kamar Steven yang berada di lantai tiga.


"Bisa-bisanya, dia memberikanku kamar pembantu, sedangkan di lantai tiga terdapat banyak kamar kosong! Apa dia tidak tahu akan berurusan dengan siapa hah!" gerutu Dinda lalu melihat kamar Steven yang sedikit terbuka.


***


"Aku akan antar kamu pulang Ir, hujannya sangat deras, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," ujar Jack setelah mereka sampai di depan Caffe.


"Tidak usah Mas, aku membawa mobil sendiri. Dan aku juga tidak mau, Mas Al melihat mu. Aku takut pertengkaran itu akan terjadi lagi," jawab Irma tersenyum, dia merasa bahagia saat diperhatikan oleh kekasihnya.


'Aku benar-benar gila, aku menerima cinta dokter itu demi Jeff,' batin Jack, 'Tapi, ini juga kesempatan bagiku, jika aku mengantarnya pulang, aku bisa melihat siapa Al,'


"Mas, melamun?" tanya Irma melambaikan tangannya di depan wajah kekasihnya.


"Eh tidak-tidak, siapa yang melamun. Aku antar kamu pulang," titah Jack lagi.


"Jangan Mas, aku takut Mas Al marah," tolak Irma.


"Ta-tapi-- Ir! Tunggu aku!" pekik Jack saat Irma berlari menerobos hujan


"Aku mau hujan-hujanan Mas, setidaknya kita akan memiliki kenangan. Oh iya, terimakasih sudah mau menerima cintaku Mas, aku pikir, aku akan mendapatkan penolakan darimu," teriak Irma di bawah derasnya hujan.


"Ayo, kita menepi Ir, aku tidak mau kamu sakit!"


"Tidak mau Mas, lebih baik, kita hujan-hujanan. Sebagai tanda jadian kita," pekik Irma lagi.


"A-aku tidak bisa Ir, aku tidak mau kamu sakit!"


"Mas ...," panggil Irma, dia meraih tangan pria yang baru saja menjadi kekasihnya, "Maafkan aku, dulu aku sempat ragu dan menolak cintamu, tapi sekarang, aku percaya, jika kamu jodohku," ujar Irma memeluk tubuh Jack yang sudah basah kuyup.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2