
"Zena kau kenapa Zen, apa yang terjadi padamu, katakan!!" Tanya pria itu yang membantu Zena masuk kedalam mobilnya
"Aww sakit Dave, sakit
"Perutku sakit hiks.. hiks.. "
"Apa yang terjadi pak? "Sekarang Dave bertanya pada kedua tukang bangunan itu, matanya menatap marah, pandangan yang teduh lalu tiba-tiba berubah menjadi marah membuat kedua tukang bangunan itu menggelengkan kepalanya
"Saya tidak tahu mas, mbak ini tiba-tiba tergeletak di atas pasir lalu saya melihat darah yang keluar dari rok nya"
Mendengar kata darah, Dave langsung memastikan dan melihat sendiri,
"Sakit Dave, perutku sakit....awww....hiks...hiks.."
"Okeh, kita kerumah sakit sekarang,bertahanlah Zen" Ujar Dave langsung menutup pintu mobil belakang dan berucap terimakasih pada kedua tukang bangunan yang masih menatapnya
"Pak terimakasih, dia teman saya, maaf kalau tadi saya membentak bapak, karna saya begitu mengkhawatirkan keadaan teman saya kalau begitu saya pamit membawa teman saya kerumah sakit"
"Tak apa mas, semoga teman mas tidak kenapa-napa"
"Iya pak! " Jawab Dave cepat, dia langsung masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sudah tiba dirumah sakit, Dave menggendong Zena dan berteriak pada suster serta dokter untuk segera menangani Zena yang sudah tak sadarkan diri
"Tolong dok,"
"Baik pak, bapak bisa menunggu diluar, saya akan menangani pasien" Ujar dokter perempuan yang masuk kedalam IGD bersama Zena yang tak sadarkan diri
"Cepat dok," Jawab Dave yang diangguki dokter, setelah dokter masuk kedalam ruang IGD, tak henti-hentinya Dave berdoa untuk keselamatan Zena,
"Kenapa dokter lama sekali di dalam!! " Gerutu Dave karna sudah 10 menit Dave berjalan mondar mandir di depan ruangan IGD sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya
Akhirnya setelah menunggu 20 menit menunggu, dokter yang menangani Zena keluar dari ruang IGD
"Bagaimana kondisinya dok? " Tanya Dave cemas saat melihat dokter perempuan itu keluar dengan wajah datarnya
"Bapak tenang saja, mereka baik-baik saja" Ujar dokter membuat Dave bingung
"Mereka??" Ulang Dave
"Iya mereka, maksud saya ibu dan anaknya selamat, beruntung bapak membawa istri bapak tepat waktu, jika tidak...mungkin bayi yang ada di dalam kandungannya tidak selamat" Ujar dokter Rima tersenyum
Deg!!
"Ba-bayi? Jadi Zena hamil dok? " Tanya Dave tak percaya
"Oh jadi bapak belum tahu kalau istri bapak hamil,"
"Belum dok," Jawab Dave polos sambil menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Saya ucapkan selamat atas kehamilan istri bapak, sekarang usia kandungannya sudah memasuki minggu ke 5"
"Dan istri bapak masih tidak sadarkan diri tapi jika bapak ingin masuk, saya persilahkan,
"Besok istri bapak sudah diperbolehkan pulang" Ucap dokter Rima lagi
"Terimakasih dok" Jawab Dave yang langsung masuk kedalam ruang IGD
Setelah Dave membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Zena, dia bisa melihat temannya sedang terbaring lemah dengan salah satu punggung tangannya di infus
"Zen," Panggil Dave sambil menghampiri Zena
"Zena" Dave mengusap kening Zena, dan Zena yang merasa tidurnya terganggu pun perlahan membuka matanya.
"Dave, aku dimana? " Ucap Zena saat melihat ruangan serba putih
"Kau dirumah sakit,"
Mendengar kata rumah sakit, Zena mengingat-ingat kejadian yang terjadi beberapa jam lalu, dia bangkit dari tidurnya lalu menangis ketakutan
"Dave, aku takut Dave, aku-" Ucapan Zena terhenti saat Dave menenangkan tubuh Zena yang bergetar
"Ada apa Zen, ceritakan semuanya padaku? Kenapa kamu bisa ada di tempat pembangunan, apa yang terjadi"
"Oh iya, anakmu baik-baik saja, beruntung kamu cepat ditolong, jadi anakmu bisa selamat"
"Apa maksudmu, aku hamil? " Tanya Zena terkejut, lalu dia menggelengkan kepalanya
"Gak mungkin aku hamil Dave, gak mungkin, dokter pasti salah! Gak mungkin aku hamil Dave hiks.. hiks.. "
Mendengar temannya menangis, Dave langsung memeluknya, dia mengusap pundak Zena yang sedang bergetar
"Jadi kamu tidak tahu kalau kamu hamil? " Tanya Dave sambil mengusap pundak Zena
Zena menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu Dave"
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat, biar aku telfon suamimu, apa kamu hafal nomor suamimu? Atau beritahukan aku dimana alamat rumahmu" Ujar Dave yang membantu Zena merebahkan tubuhnya di kasur
"Jangan Dave, aku ragu untuk memberitahu dia, aku takut dia akan merebut anakku setelah anak ini lahir lalu menelantarkan aku"
"Tapi Zen, suamimu berhak tahu, maaf aku gak bisa jagain kamu lagi...lusa aku akan berangkat ke Amerika untuk meneruskan bisnis Ayahku"
"Sekarang beritahu dimana alamatmu" Titah Dave yang sudah duduk di kursi, dia mengusap punggung tangan Zena.
"Biar aku yang bicara dengan suamiku setelah aku keluar dari rumah sakit Dave, aku gak mau repotin kamu,"
"Aku takut dia akan marah padamu"
"Zen-"
__ADS_1
"Tolong Dave, tolong kali ini saja"
"Baiklah, kata dokter besok kamu sudah boleh pulang, besok aku akan antar kamu pulang kerumah ya, sekarang lebih baik kamu istirahat, aku akan menjagamu"
"Makasih Dave, kamu memang teman terbaik"
Dave tersenyum, dia membenarkan selimut yang dipakai Zena agar menutupi sampai leher
"Tidur, jika makan malam sudah datang, aku akan membangunkanmu"
"Dave, kenapa aku bisa hamil? Aku bahkan tidak merasakan gejala hamil apapun"
"Jangan difikirkan lagi Zen, sekarang istirahatlah, fikirkan bayi yang ada di dalam perutmu,
"Oh iya, tadi dokter sempat salah paham pada kita, dokter mengira aku suamimu, maaf jika aku belum mengklarifikasinya karena aku shock saat mendengar kabar kamu hamil"
Zena menghembuskan nafasnya, dia tersenyum lalu menganggukan kepalanya "Harusnya aku yang minta maaf karna kamu membawaku kemari, dokter jadi berfikir kalau kita sepasang suami istri"
***
Di sebuah gedung yang menjulang tinggi, tepatnya di lantai atas, terlihat Steven yang melirik jam dindingnya, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih
"Jadi, dia belum pulang, lalu dia pergi kemana?" Gumam Steven setelah pangggilannya berakhir
Setelah berfikir beberapa menit, akhirnya Steven mengambil telfon lalu menyuruh sekertarisnya datang ke ruang kerjanya
"Nanda! Keruangku! " Seru Steven langsung meletakkan telfonnya
Tok.. Tok..
Bunyi ketukan membuat Steven tersadar dari lamunannya "Masuk!" Seru Steven lalu sekertaris Nanda mulai membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Tuan mudanya
"Maaf Tuan, Tuan ada apa memanggil saya? " Hormat sekertaris Nanda
"Bagaimana? Apa Jeff berhasil mengetahui lokasi istriku? Aku melihat mereka seperti ada yang tidak beres, tapi karna meeting ini sangat penting dan sudah tertunda cukup lama, jadi aku menyuruh Jeff untuk mengikuti istriku!"
"Maaf bos, Jeff melihat mobil yang ditumpangi Nyonya masuk kedalam perumahan elit yang berada di jalan **** , setelah itu Jeff tidak melihat Nyonya keluar lagi, sebelumnya Jeff juga sempat mengintip di lubang kunci kalau Nyonya dan Tuan Riski berdebat, Tuan Riski menyeret Nyonya masuk kedalam rumahnya" Jawab sekertaris Nanda sambil menunduk, dia tahu Tuan mudanya akan murka setelah mendengarkan jawabannya
Deg!
Mata Steven membulat sempurna, segera dia mendekati sekertarisnya
Bugh!
"Kenapa tidak ada yang memberitahukanku hah!! Kenapa!! Bagaimana kalau istriku disakiti oleh bajingaan itu!! "
"Bagaimana! Dasar bodoh!!! Seharusnya aku tadi menghentikan mobilnya, bukan malah mengebut memikirkan egoku"
Bersambungš
__ADS_1