Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 195_Terbongkar sudah


__ADS_3

"A-aku hamil?" ulang Irma, "Ibu jangan aneh. Aku belum menikah, masa iya aku hamil!" kekeh Irma.


"Ibu serius Ir, memangnya Ibu tidak mendengar beberapa hari ini, kamu muntah-muntah dan tidak mau makan?"


"Tapi, aku tidak hamil, Bu! aku belum menikah. Jadi, mana mungkin aku hamil!" ucap Irma bohong.


"Bisa saja, kalian terlalu dimabuk asmara dan kalian melakukan hal yang melebihi batas?"


"Kalian?"


"Siapa kalian? Ibu tahu kan? aku tidak pernah dekat dengan pria diluar sana?" kesal Irma berjalan menuju meja makannya, "Aku sudah tidak napssu makan, Bu! lebih baik, aku berangkat bekerja!"


"Tunggu sebentar, Mas mu bilang, kalau hari ini, kamu akan dijemput dengan kekasihmu, Riyan!"


Uhuk ...


Uhuk ....


"Dia buka--"


"Buka apa Ir?"


"Tida ada apa-apa, Bu. Aku akan menelpon Riyan, agar tidak usah menjemput ku. Aku bisa mengendarai mobilku sendiri," titah Irma merogoh tas untuk mengambil ponselnya.


Sebelum Irma menghubungi teman prianya, tiba-tiba terdengar dari luar rumah. Suara mobil yang baru saja terparkir.


"Telat sayang, mungkin itu mobil Riyan." ucap Ibu Irma kemudian meminta anaknya membukakan pintu rumahnya.


"Bisa saja itu mobil Mas Al, Bu?"


"Cepat buka, jangan membuat Riyan menunggu terlalu lama. Dan suruh dia, sarapan pagi bersama," titah Ibu Irma.


"Hem ...," jawab Irma berjalan membukakan pintu rumahnya


Ting ...


Tong ....


Bel rumah berbunyi, membuat Irma berjalan sedikit cepat, "Iya, sebentar!" teriak Irma, kemudian membukakan pintu utamanya.


Krek ...

__ADS_1


Pintu terbuka dari dalam, dan Irma bisa melihat sosok pria yang sedang berdiri menunggu pintu terbuka.


"Seharusnya, kamu menolak tawaran Mas Al. Aku bisa berangkat sendiri," ujar Irma mempersilakan teman prianya masuk ke dalam rumahnya.


"Siapa yang menjemputmu? aku disuruh disuruh kakakmu untuk mengecek keadaanmu. Kata dia, wajahmu pucat dan tidak enak badan. Napsssu makanmu juga berkurang," jawab dokter Riyan mengikuti langkah kaki teman wanitanya.


"Biasa, awal-awal memang seperti ini. Sekarang aku sedang bingung, bagaimana aku menceritakan semuanya pada ibu dan Mas Al, aku takut mereka kecewa dan marah padaku?" ujar Irma menghentikan langkahnya.


"Jadi, mereka belum tahu kalau kamu--"


"Hust! diam! mereka tidak tahu. Aku tidak mau membuat masalah lagi dan melibatkanmu ke dalam masalahku!" potong Irma cepat.


"Melibatkanku? aku tidak mau berurusan lagi denganmu! cukup kemarin saja! dan sekarang, tidak!"


"Nah, maka dari itu, aku belum menceritakan semuanya. Memangnya kamu mau, dituduh menghamiliku dan dipaksa menikah denganku?"


"Setahu mereka, aku kekasihmu. Jadi, tau kan? jika sepasang kekasih yang dimabuk cinta bisa berbuat diluar batas," ucap Irma panjang lebar.


"Enak saja, aku tidak mau dinikahkan denganmu. Yang bikin siapa, yang bertanggungjawab siapa. Lebih baik aku--"


"Nak Riyan, kemarilah. Kita sarapan pagi bersama!" titah Ibu Irma yang tiba-tiba muncul dari dapur.


"Eh, iya tante. Anak tante mengajakku berbicara terus. Maafkan aku yang belum sempat menyapa tante," jawab Riyan berjalan dan menyalami Ibu dari teman wanitanya.


"Oh iya, kalian sedang membicarakan apa? Ibu mendengar tentang anak dan pertanggungjawaban?"


"Em ... aku dan Riyan sedang membicarakan pasienku, Bu. Ibu tenang saja, biasalah ... topik pembicaraan dengan dokter seperti itu, tidak lepas dari pekerjaan," timpal Irma cepat.


"Betul nak Riyan?" tanya Ibu Irma yang tidak percaya sepenuhnya.


"Benar tante. Irma dan saya memang suka bertukar cerita," jawab Riyan tersenyum kaku.


"Makan dulu, setelah ini. Ibu mau bicara dengan kalian!"


"Bicara apa Bu?" tanya Irma penasaran, "Jangan bilang, ibu menyangka jika kita mempunyai hubungan? kita sudah putus Bu, kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun," ucap Irma.


"Makan dulu nak Riyan," titah Ibu Irma mengabaikan ucapan anaknya, membuat Irma sedikit kesal.


"Maaf tante, saya sudah makan di rumah. Biar saya makan buah saja," ucap Riyan mengambil buah jeruk di atas meja.


"Ibu, Ibu mau mengatakan apa? aku dan Riyan mau berangkat ke rumah sakit." ucap Irma.

__ADS_1


"Nak Riyan, Irma. Ibu sudah mendengar semua ucapan kalian! dan Ibu kecewa denganmu, Ir! bersusah payah Ibu dan kakakmu menjaga mu, dan sekarang ... kau menutupi semuanya, kau hamil!" ucap Ibu Irma membuat kedua manusia itu terkejut dan saling tatap.


"Ibu bicara apa? aku tidak hamil. Lagi pula, siapa yang menghamili aku, Bu?" tanya Irma.


"Benar, apa yang dikatakan Irma, dia tidak hamil. Mungkin tante salah dengar?" timpal Riyan cepat. Jeruk yang berada ditangannya seketika jatuh ke lantai.


'Aku tidak mau dituduh menghamili Irma, apalagi disuruh bertanggungjawab untuk menikahinya.' batin Riyan.


"Siapa yang menghamilimu, ir! siapa ayah dari anak yang kamu kandung sekarang! siapa!" pekik Ibu Irma bangkit dari duduknya dengan emosi yang tidak bisa ditahan.


"A-aku tidak hamil, Bu!" lirih Irma menunduk. tangannya meremas tangan temannya yang berada di bawah meja.


Melihat teman wanitanya ketakutan serta tangannya yang terlalu dingin, membuat Riyan tak tega. Tapi, dia juga tidak bisa mengatakan apapun. Dia takut salah langkah.


"Masih mengelak ir!"


"Ibu benar-benar kecewa denganmu!" ujar Ibu Irma melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Ibu, maafkan Irma, Bu!" pekik Irma, tubuhnya sudah bersujud di kaki ibunya, "Maaf Bu, Irma salah. Maafkan Irma Bu, hiks ... hiks ...."


"Siapa ayah dari anak yang kamu kandung Ir! siapa!" teriak Ibu Irma yang meneteskan air matanya saat melihat putri kandungnya bersujud meminta maaf.


"Maaf Bu, aku tidak tahu siapa Ayah dari anak yang aku kandung," jawab Irma, tangannya memegang kaki ibunya, Maafkan aku, Bu!"


'Kenapa dia merahasiakan semuanya? Tinggal bilang saja, Ayahnya adalah pria brenggseeek yang sedang terbaring di rumah sakit, dan semuanya akan selesai,' batin Riyan.


"Ir, Ibu tanya sekali lagi, siapa Ayah dari anak yang kamu kandung?"


"Aku benar-benar tidak tahu, Bu. Waktu itu aku mabuk dan tiba-tiba aku hamil, hiks ... hikss ...."


"Mabuk? sejak kapan kamu mabuk, ha! apa ini kebiasaan mu yang kamu bawa dari luar negeri! bahkan kakakmu saja, dia tidak pernah menyentuh minuman keras itu, dan kamu ... kamu justru, ibu benar-benar kecewa denganmu, Ir!"


'Siapa bilang, justru Kakaknya lebih parah. tapi aku benar-benar tidak percaya Irma menutupi semuanya dengan rapat,' batin Riyan memandang dua wanita yang sedang menangis bersama.


"Maafkan aku, Bu. Ini kesalahanku, aku akan menggugurkan kandungan ini, aku bahkan sudah membeli obat penggugur kandungan, Bu. Ibu tenang saja!" ucap Irma menghapus air matanya.


"Berdiri, Ir! Berdiri!" teriak Ibu Irma membuat Irma bangkit dari sujudnya.


"Apa kamu bilang? menggugurkan kandunganmu?" tanya Ibu Irma sekali lagi.


"Iya Bu, aku akan menggugurkan kandungan ini," jawab Irma mantap.

__ADS_1


Plak!


Bersambung😘


__ADS_2